FF EXO and GOT7 (Two Shoot) : My Memories (Pt.1)



My Memories


Title       : My Memories(pt.1)
Author  :Park Hwa Rin (@KintanHA)
Main
Cast       : Park Hwa Rin (OC)
               Oh Sehun (EXO-K)
Genre   : Romance,sad, hurt, gaje
Rating   : PG-14 (gk tau ah.. -_-)
Length  : Two shoot
A/N        : Hallo hallo again. Aku akan mempersembahkan #jengjengjeng# sebuah FF yg datang secara mendadak di tengah malam yg sunyi serta di temani oleh suara tokek yg menyeramkan(?). Maaf jika gaje , typo, kesamaan cast, alur, dsb.  Karena aku tidak bermaksud untuk plagiat dan ini 100000000000000000000000000000% dari imajinasiku. Lagu yang cocok sih dan lagu yang aku gunakan saat menulis FF ini ditengah malam adalah Jin-Gone. Aku rekomendasikan sih itu ^_^

***

Rin POV

Yah, inilah aku. Seorang yeoja yang telah gagal masuk ke SMA impiannya. Seorang yeoja yg tergila-gila dengan  hal yang bernama Menulis. Seorang yeoja yang terdiam dikamarnya seorang diri bercat kuning ini yang dihiasi oleh poster Spider-Man dan foto-foto para sahabatnya dan juga karya-karya gambarannya. Ruangan kamarku yang sempit ini tidak membuat niat ku untuk menulis luntur. Musim panas tahun ini sangat menyengat tubuh dan bahkan membuatku tampak seperti berada di sauna. AC yang bersarang di kamarku mati dan rusak. Kipas angin yang menyala disampingku tidak membantuku menghilangkan rasa panas ini.

“HHOOAAMM..” Lagi-lagi aku menguap. Ntah mengapa jika aku sedang mendapati inspirasi aku seperti lupa waktu dan berkecamuk dengan imajinasiku. Jemariku yang pegal tidak membuatku lelah untuk mengetik hasil imajinasiku. Oh ya, aku sangat senang menulis FF tentang boyband dan ulzzang belakangan ini. Banyak sekali cerita ku yang menjadi Chapter dan juga One Shoot. Dan kalian tahu? Para FF ku ini terbengkalai semua!!! Alias belum pernah aku lanjutkan dan bahkan salah satunya sudah mencapai 100 halaman dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Jika aku membuka File di laptopku yang bernama “My Novel and FF” , rasanya aku tidak menyangka bahwa akulah yang menulis FF yang bersarang itu. Sekitar 31 FF yang berada di File ku dengan cerita dan cast yang berbeda pula. Sangat disayangkan memang melihatnya. Dan hanya sekitar 11 FF yang berhasil ku publish di blog pribadiku. Memang menulis adalah kepuasan tersendiri untuk diriku.

Yah, aku akan menginjakan kakiku di SMA sebentar lagi. Tidak terasa sudah memasuki masa SMA. Walaupun tidak bisa lolos ke SMA favoritku, setidaknya aku bisa lolos ke SMA yang selama ini aku abaikan tetapi sekarang aku banggakan. Sekolah manapun sama lho. Intinya adalah belajar belajar dan belajar.

Malam ini, tepatnya pukul 8:51 aku menulis sebuah FF yang datang dengan sendirinya ke otakku. Yah, aku memang suka seperti ini. Aku melirik sekilas ke arah namdongsaeng-ku yang sedang bersantai diruang TV. Tidak ada beban apapun dibenaknya dan padahal dia juga akan memasuki masa SMP. Ck. Aku tidak habis pikir dengannya.

Aku turun ke lantai bawah untuk mengambil beberapa cemilan setelah dirasa perutku memang lapar. Ketika aku membuka kulkas,,,

“YAA! Kemana semua makananku??? Siapa yang mencurinya, eoh?” Aku berteriak dan suaraku menggema dirumahku. Aku marah dan kesal karena ada seorang pencuri yang menghabiskan seluruh jatah cemilanku yang kusimpan rapi di kulkas. Aku melirik kesal namdongsaeng-ku yang turun dengan santai. “Tadi aku lapar dan aku memakannya.” Seketika pula aku menjitak kepalanya dan mengomelinya.

“Lapar?? Memangnya jatahmu kemana hah? Mengapa mengambil bagian orang lain???!!!” akhirnya Appa ku terbangun dari tidurnya dan berjalan ke arahku. “Sudahlah, beli lagi saja sana.” Ucapnya dengan santai dan setengah sadar itu dan segera pergi kembali ke kamarnya. “Tuh kan beli sana.” Namdongsaeng-ku ikut berkomentar. Aku segera memakai jaketku dan memakai sepatu sandal. Aku mengambil uang yang berada di dompetku dan segera pergi ke luar rumah saking laparnya. Di tengah perjalanan, banyak sekali anak kecil yang berlalu lalang.

 Dan akhirnya, aku sampai ke minimarket langgananku.

Aku segera mengambil beberapa snack dan mencoba menghitung harganya agar aku dapat melihat aku membawa cukup uang untuk membelinya. Aku menyerahkan belanjaanku dikasir dan segera membayarnya.
Aku malas sekali pulang ke rumah hingga kuputuskan untuk duduk di kursi yang berada diluar minimarket dan membuat se-cup ramen. Aku tidak peduli lagi dengan suara bising yang lain. Aku memakan ramenku yang aku buat dengan mengambil air panas yang disediakan di dalam minimarket. Segera kulahap ramen itu. musim panas sih musim panas. Jika malam-malam begini tetap saja dingin diluar. 

Seketika itu pula aku menangkap sesosok namja yang  terlihat familiar untukku. Namja yang membuatku ber-imajinasi dengannya. Namja yang membuatku tidak fokus kepelajaran. Namja yang pantas untuk aku caci maki. Yah, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Pada awalnya aku hanya menganggapnya sebagai pengganggu kelas yang selalu meminta contekan kepadaku. Tetapi mengetahui bahwa dia pintar, waw, aku terpesona olehnya. Dia sekelas denganku. Tapi, kami sekarang berada di akhir masa SMP yang akan beralih ke masa SMA.

“Eh? Oh Sehun?” aku berusaha berbasa-basi dengannya. Dia menatapku dengan wajah herannya. “Rin?” Ucapnya dan kemudian tidak mengucapkan apapun lagi. Menyebalkan. Padahal aku hanya ingin mengajaknya mengobrol sebagai teman tetapi dia memasang wajah datar nan dinginnya terhadapku. Kulihat punggungnya yang tegap masuk ke arah minimarket tersebut. Tak lama dia keluar disertai sebuah cup ramen juga ditangannya. “Kenapa kau makan sendiri?” Ucapnya sambil mengecek ramennya dan duduk di bangku dihadapanku. “Hah?” aku tidak tahu maksud perkataannya. “Kenapa kau makan sendiri?” dia menatap ke arah mataku dengan wajah datar nan dinginnya. “Terserah diriku lah.” Aku juga menjawabnya dengan dingin. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan segera melahap ramennya. Sepertinya ramen itu belum cukup matang untuk dimakannya langsung. “Kau kenapa malam-malam begini diluar?” Tanyanya lagi yang semakin membuatku heran. “Bukan urusanmu.” Dan lagi-lagi dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan bodoh dan rasanya ingin sekali kutimpuk kepalanya dengan sandalku. Tapi berhubung aku menyukai namja menyebalkan dihadapanku ini, aku memilih untuk bersabar.

“Kau masuk SMA mana?” Tanyanya lagi dengan tatapan matanya yang tidak beralih dari cup ramennya. 

“Bukan urusanmu.”

“Jangan bilang kau tidak masuk SMA yg kau puja-pujakan itu dan malah masuk SMA lain?” Tanyanya dengan datar. Aku yang sedang mengaduk-adukan ramenku segera berhenti dan menatapnya sinis. Apakah dia sedang merendahkanku? Apakah dia sedang meremehkanku? Apakah dia sedang meledekku? Apa dia menghinaku?

“Kau terlalu berpikiran negative. Aku tidak sedang merendahkan dan menghinamu. Janganlah berpikiran seperti itu.”

Ya Tuhan! Haruskah aku menimpuknya sekarang? Aku tidak percaya dengan perkataannya. Jangan berpikir negative? Apakah dia sedang sombong karena dia masuk SMA impiannya?

“Kau sombong sekali.” Kata-kata itu keluar begitu saja. Kulihat dia kembali menatapku dan menampilkan smirk andalannya. “Sudah kubilang jangan berfikiran negative Nona Park. Dan juga pemikiran setiap orang memang berbeda-beda.” 

Emosiku memuncak sekarang. Ya Tuhan mengapa aku bisa jatuh cinta dengan devil berbungkus selimut malaikat ini? Mengapa dia harus menjadi cinta pertamaku?

Yah, mulai hari ini sudah kuputuskan. Aku tidak menyukainya lagi. Melainkan aku sangat membencinya. Aku bersyukur berbeda SMA dengannya! Aku tidak menyesalinya!

Aku yang sudah selesai dengan ramenku segera berbalik untuk pulang. Aku benar-benar menganggapnya tidak ada dan meninggalkannya. “Ada yang ingin kubicarakan.” Ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh kebelakang. “Ada apa?” Tanyaku. Dia menatapku dengan pandangan yang ku kenal. Jankaman. Sering kukenal! Ntah kapan dan dimana aku pernah melihat tatapan semacam itu. “Ah,, Tidak jadi. Sudah sana pulang.” Ucapnya dan kembali memakan ramennya. Aku menghembuskan nafasku dengan kesal dan segera pergi dari tempat itu. Tak lama setelah aku berada dikamarku lagi dan hendak menulis FF, notifikasi Kakao Talk di ponselku berbunyi. Segera kubuka pesan itu dan segera juga aku membacanya dengan malas.


From: Oh Sehun
Chukkae sudah bisa lulus SMP dan bisa masuk ke SMA.


Aku membelalakan mataku karena dia mengirimiku sebuah emoticon lucu yang seolah menggambarkan ekspresinya. Hei hei. Jankaman. Mengapa jika di pesan dia sangat berbeda ya? Bukankah dia dingin jika berbicara langsung denganku? Tapi mengapa dia disini terkesan ramah?

Akh, mollaso. Bodo amat. I don’t care. Aku membalas pesannya dengan emoticon yang menggambarkan aku senang mendengar ucapan selamat darinya.

Tak lama dia membalasnya juga dengan emoticon. Dan malam itu kami saling membalas dengan emoticon. Hingga akhirnya dia tidak membalas emoticon yang kukirimkan.

“Mungkin dia lelah bertindak sebagai orang lain di dunia maya.” Aku tersenyum meremehkan. Ntah mengapa aku berharap dia membalasku. Wah! Andwae! Aku tidak boleh berharap! Dan segera aku melanjutkan aktivitas awalku, yaitu menulis disertai bungkusan snack disamping laptop ku dan sekotak susu putih yang kubeli tadi. Imajinasiku keluar dengan bebasnya melalui jemariku.

***

Author POV

Semenjak kejadian malam itu, Rin sering mengirimi Sehun pesan untuk sekedar berbasa-basi. Tetapi jawaban dan respon Sehun sangatlah ramah.

Yah, 1 tahun telah berlalu. Rin tidak pernah mendengar suara Sehun lagi dan hanya saling mengirimi pesan walaupun jarang. Hari ini adalah liburan kenaikan kelas ke kelas 2. Rin dan teman-temannya memutuskan untuk berkumpul dan menjenguk guru tercinta mereka yang sedang sakit. Rin menunggu sekitar 10 menit dan teman-temannya barulah muncul dan menampakan diri.

“YA! Kalian lama sekali?” Tak jauh Sehun juga datang disertai dengan Yujin disebelahnya. Yujin adalah seorang yeoja yang juga sewaktu SMP menyukai Sehun dan dia berhasil satu sekolah dengan Sehun. Rin menatap kedua insan yang datang beriringan itu dengan miris. Walaupun dia sekarang tidak menyukai Sehun lagi, tetapi melihat Sehun dengan yeoja lain rasanya sangat,,,

“Aku lapar.” Ucap Jae Mi. “Kau mau membeli makanan?” Tawar Rin yang disertai anggukan kepala dari Jae Mi. “Ne!!!”

“Baiklah. Masih banyak yang belum datang ya? Ayo kita masuk saja dulu.” Rin menggandeng tangan Jae Mi –sahabatnya- memasuki ke food court di dalam mall yang menjadi tempat janjian mereka.

Tak lama mereka keluar disertai banyaknya makanan yang mereka beli dan topi imut –seperti topi Luhan yang koala itu lho- yang berbentuk wajah Donald Duck di kepala Rin. 

Ketika mereka keluar ternyata sudah ramai. Dan Rin menyalami teman-teman sekelasnya dulu itu dengan antusias.

-skip-

Akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Setelah menanyakan ke resepsionis, akhirnya mereka berjalan di koridor rumah sakit hendak menuju ruang guru mereka.

Mereka membuka pintu tersebut dengan perlahan. “Annyeonghaseo seongsangnim.” 

-skip- (Mian di skip karena pasti kalian akan bosen jika author menulis hal yang tidak penting)

Dengan kegaduhan mereka, mereka keluar dari rumah sakit.

“Kau tahu Rin. Yujin dan Sehun, mereka berpacaran.” Rin mengangguk saja kerena dia memang sudah tahu ketika melihat kedekatan mereka berdua. “yah, aku sudah tahu.”

Lampu merah berganti hijau untuk para pejalan kaki. Berbondong-bondong mereka menyebrangi jalanan. Hingga yujin memeluk pinggang Sehun dari belakang di tengah jalan. Ingat! Di tengah jalan!

Rin yang berada di belakang mereka menyaksikan kejadian itu dengan terkejut. Jae Mi sudah sampai di seberang sana bagaimanapun dengan orang-orang lainnya. Dan seketika lampu hijau berganti merah bagi pejalan kaki. Rin melihat ke sekelilingnya. Dan menepuk pundak Yujin dan Sehun dengan panic. “Ayolah cepat menyebrang.” Ucapnya karena bisingnya bunyi klakson dari mobil.

Sehun memandang Yujin dengan tidak suka dan berjalan dengan cepat. Yujin yang manja mengikuti Sehun dan memeluk tangannya dari samping. Sehun menampilkan wajah amarahnya. Rin membungkukan badannya ke arah para pengemudi mobil dan berjalan perlahan. 

Ketika hampir sampai ke seberang sana -sekitar 5 langkah- , mobil putih berlaju dengan kencang ke arah Yujin dan Sehun. Rin memandangnya panic dan berlari menghampiri Yujin dan Sehun.


“YYUUJJIINN!!!!!” Teriaknya dan mendorong kencang tubuh Yujin beserta Sehun ke trotoar. Tapi mobil putih itu berlaju dan menghantam tubuh Rin yang membuatnya terpental ke kaca mobil itu dan segera jatuh ke jalan. Rin tidak sadarkan diri. Topi putih Donald Ducknya sekarang bercampur merahnya darah yang menembus dari kepalanya. Darah mengaliri dahinya dan samping kepalanya.

“Rin-ah!!!” Jae Mi panic dan segera menghampiri tubuh Rin yang lemas tak berdaya. Jae Mi memegang dan menepuk pelan pipi Rin. “Bangunlah..Hiks..Rin-ah..” Air mata jatuh dari pipi Rin. Apa daya, Rin sama sekali tidak membuka matanya. Jae Mi memandang sengit ke arah Yujin bukan Sehun. “Kau! Mengapa kau melakukannya ditengah jalan! Dasar idiot gila!”

Tatapan mata berlinang air mata Jae Mi beralih ke arah pengemudi mobil yang sudah keluar dari mobilnya dan tampak panic. “Maafkan aku. Aku.. Aku buru-buru.” Ucap pengemudi itu dan membuat Jae Mi ingin menarik kerahnya tapi keburu dicegah teman-temannya.

“Lepaskan aku!!” Jae Mi meronta. 

***

Alat pendeteksi detak jantung masih dengan giatnya menampilkan detak jantung Rin yang sekarang berada dirumah sakit. Tubuhnya yang kurus sekarang menjadi semakin kurus dan pucat. Pipinya yang chubby sekarang semakin mengurus. Kepalanya yang diperban membuat siapapun yang melihatnya tahu bahwa dirinya terluka parah dibagian kepalanya.

Eomma Rin masih terus saja menunggu putrinya agar segera membuka matanya. Sudah 3 hari Rin koma. Teman-temannya setiap hari datang mengunjunginya. Termasuk Jae Mi, Sehun, dan Yujin. Di wajah Yujin tidak ada sama sekali tampang bersalah.

Eomma Rin harus segera berbicara dengan dokter, dia menitipkan Rin kepada Yujin yang memang hanya dialah yang baru datang hari ini.

“Ck. Mengapa aku harus menjaganya?” Ucap Yujin dengan angkuh. Yujin berjalan ke samping ranjang Rin.  Yujin melihat topi Donald Duck milik Rin yang sudah dicuci bersih oleh eomma-nya. “Lucu sekali.” Ucapnya lalu melirik sekilas ke arah Rin. “Tidak apa kan jika aku memakainya?” Ucapnya dan segera memakainya.

CEKLEK!

Pintu ruangan Rin terbuka dan masuklah Sehun yang membawa bunga untuk mengganti bunga yang sudah layu di samping Rin.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya kepada Yujin dengan heran. Yujin segera melakukan aegyo nya. “Oppa. Bagaimana? Aku imut bukan?” Ucapnya yang membuat Sehun mengerutkan alisnya. “Aku muak denganmu.” Ucap Sehun dan segera mengganti bunga. “Apa maksudmu Oppa?”

“Tidakkah kau merasa bersalah sedikitpun? Tetapi kau malah memakai barang miliknya sekarang.” Sehun geram. 

Oh ya, dibalik hubungan Sehun-Yujin terdapat rahasia. Saat itu Yujin menyatakan cintanya kepada Sehun tetapi Sehun menolaknya. Teman-teman Sehun melihat hal itu dan membuat taruhan. Sehun kalah dalam taruhan itu dan mengharuskannya menerima pernyataan Yujin. Sampai saat ini.

Sehun tidak mencintai Yujin. Itulah kenyataannya.

“Lepaskan topi itu dari kepalamu. Sekarang.” Sehun berusaha menahan amarahnya. Yujin mengerucutkan bibirnya dan malah memegang topi itu dengan kuat. “Shirreo!” 

Sehun memandang langit-langit dan memegang kepalanya yang rasanya akan meledak. “Kubilang lepaskan.” Sehun menekankan nadanya. Yujin yang melihat dan mendengar hal itu tetap melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya, teman-teman Sehun –yang membuat taruhan bersamanya- datang.

CEKLEK!

“Wah! Annyeonghaseo!” Ucap Kai yang terlebih dahulu memasuki ruangan. “Wasseo?” Ucap Sehun dan menghampiri ke lima temannya yang bergantian memasuki ruangan. “Ne. mana mungkin kami tidak datang?” Joonmyeon mengucapkan hal itu. matanya menangkap Rin yang sedang terbaring lemah. “Itu Rin?” Tanyanya kepada Sehun. Sehun menganggukan kepalanya. “Kau yang menjaganya?”

“Ani. Eommanya sedang keluar sebentar menemui dokter.” Sehun menjawabnya dengan lemas. “Hmm..”
“Yujin-ah? Kau disini juga?” Tanya Baekhyun ketika matanya menangkap sesosok yeoja yang berdiri mematung. “Oh. Ne.” Yujin segera melepaskan topi milik Rin dari kepalanya dan menyimpannya kembali di tempat semula.

“Kalian ada apa datang kemari?” Yujin merasa tidak nyaman dengan kehadiran teman-teman Sehun yang memang menatapnya terus. Mereka selalu memojokan Yujin bagaimanapun caranya. Berbeda dengan Sehun. Dirinya sangat senang teman-temannya datang karena dapat mengusir(?) Yujin dari hadapannya.

Tak lama eomma Rin datang beserta dengan dokter. Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Rin. Wajah eomma Rin mendadak cemas.

“Ada apa ahjumma?” Tanya Sehun. Eomma Rin memandang sekitar dan menyadari kehadiran teman-teman Sehun yang baru pertama kali dilihatnya.

“Mereka teman-temanmu?” Tanya eomma Rin. Sehun mengangguk. “Annyeonghaseo ahjumma.” Ucap Chanyeol mewakili yang lainnya. Serentak mereka membungkukan badan seraya member hormat. Wajah eomma Rin mendadak cerah. “Oh ne.” Ucapnya sambil tersenyum dan matanya membentuk eyesmile khas miliknya.

“Sehun-ah. Bisa kita bicara sebentar?” Ucap eomma Rin. Sehun dan eomma Rin pergi keluar. “Begini, eomma dengar, Rin mengalami luka parah dikepalanya karena menghantam dengan keras kaca mobil itu.” eomma Rin menundukan kepalanya dan berusaha menahan isakannya. Sehun yang disampingnya mendengarkannya dengan baik. “Dia, dia, bisa kehilangan ingatannya.” Isak tangis eomma Rin mendadak pecah diganti oleh suara tangisan yang memilukan. Sehun yang mendengarnya membulatkan matanya dan tak percaya. Kehilangan ingatan? Batinnya. Dilihatnya eomma Rin yang sudah terlebih dahulu berjongkok dan menangis. Sehun mencoba memeluk eomma Rin yang terlihat sangat rapuh. Dirinya segera menghubungi Park Myungsoo –adik Rin- dan Tuan Park –appa Rin-.

“Kenapa bisa begini?” Gumam Sehun seraya memeluk eomma Rin.

***

Eomma Rin menghampiri putrinya yang belum saja membuka matanya bersama Sehun disampingnya. Yujin dan kelima temannya sedang pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli beberapa makanan. Eomma Rin menggenggam tangan Rin yang memiliki jemari yang lentik.

“Bukalah matamu putriku.” Isaknya. “Kumohon bukalah matamu. Kau tidak ingin menemui eomma-mu yang cerewet ini? Kau tidak ingin menemui appa-mu yang selalu saja bekerja? Kau tidak ingin bertengkar dengan namdongsaeng-mu?” 

Sehun berjalan ke arah ranjang Rin yang satunya. Dirinya juga melakukan hal yang sama. Yaitu menggenggam tangan Rin.

“Ya. Park Hwa Rin? Kau tidak ingin memandangku dengan tatapan sinismu? Kau tidak ingin lagi berbicara denganku yang seperti es ini? Kau tidak ingin mengirimiku emoticon lagi? bukalah matamu.” Sehun melihat wajah Rin yang pucat.

Tiba-tiba jemari kedua tangan Rin bergerak seolah merespon ucapan eomma-nya dan Sehun. “Rin-ah?” Ucap eomma Rin. Sehun juga menatap wajah Rin dengan penuh antusias.

Rin membuka matanya dengan perlahan dan berusaha melihat ke arah langit ruangannya. Tangannya terasa hangat. Rin mengerjap-ngerjapkan matanya. Eomma Rin menghampiri putrinya dan menatapnya. “Rin-ah?”
Rin mengerenyitkan halisnya. Sehun yang mengenggam tangannya juga melepaskan tautan jemari mereka dan beralih menatap wajah Rin yang sudah membuka kedua matanya.

“Si-siapa kalian?” 

***

Eomma Rin menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Sehun juga mengerjapkan matanya dan tidak percaya dengan keadaan Rin. Rin tidak kehilangan semua ingatannya. Hanya saja dirinya tidak ingat setiap wajah yang berbicara dengannya dan suara mereka. 

Dokter yang sudah selesai memeriksa Rin menghampiri eomma Rin yang masih shock. “Ingatannya akan kembali dengan seiring berjalannya waktu. Dia hanya tidak ingat wajah yang pernah dia lihat. Dan suara yang pernah dia dengar. Dirinya merasa sendirian. Oleh karena itu, buatlah agar dia dapat mengingat kembali secepat mungkin. Karena jika keadaannya terus seperti ini, dia akan menjadi depresi dan seolah-olah dirinya berada sendirian di dunia ini.”

Eomma Rin berjalan dengan pelan ke arah Rin yang memiliki tatapan kosong. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. “Rin-ah..” panggilnya. “Ini eomma.” Rin membulatkan matanya. “eomma?” Katanya yang masih dengan tatapan kosongnya.

“Ne.” Eomma Rin memeluk anak gadisnya yang memiliki hal seperti ini di dalam hidupnya. “Aku punya eomma?” Guamamnya. Seketika mata Rin menangkap sosok Sehun yang sedang berdiri di depannya. “Nugu?” Tanyanya dengan polos dan menunjuk Sehun. Eomma Rin yang melihat hal itu langsung merespon.
“Oh, eh, oh, dia Oh Sehun. Temanmu.” Mata Rin membulat ketika mendengar kata “Temanmu.” Rin memperhatikan Sehun dari atas sampai ke bawah. “Temanku?” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan bertanya kepada Sehun. Sehun yang melihat itu menatap sendu ke arah Rin. “Ne. majayo.” Ucap Sehun akhirnya. Sebuah senyuman kecil terlukis indah di bibir Rin. 

“Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?” Tanyanya dengan polos melihat eomma nya dan Sehun bergantian. “Kau berusaha menyelamatkanku.” Sehun menatap sendu lagi mata Rin yang terlihat polos bagaikan anak kecil. “Benarkah? Atas dasar apa aku menyelamatkanmu? Memangnya kau siapa sampai aku peduli?” Kata-kata itu meluncur dengan bebas dari mulut Rin. Rin mengerutkan alisnya karena tak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya.

“Tentu saja karena kau adalah sahabatku.” Sehun kembali bersuara. Rin yang mendengar hal itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu kenapa kau sampai hampir tertabrak?” Tanyanya dengan polos. 

Sehun terlihat gugup menjawab pertanyaan Rin. Bagaimana mungkin dirinya secara panjang lebar menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rin yang baru saja sadar? Sehun melirik eomma Rin yang memberikan isyarat kepadanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan. Eomma Rin sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Dirinya memaklumi perbuatan Rin yang menyelamatkan Sehun. Karena mereka adalah sahabat #nahloh???#. berhubung Yujin berada di samping Sehun jadi Rin menyelamatkan mereka berdua.

“A-aku menyelamatkan seekor kucing. Iya. Benar. Kucing di tengah jalan.” Sehun menjawabnya sambil tersenyum kaku. “Kucing?” Rin mengangkat kedua alisnya dan memandang heran Sehun. Ternyata namja juga suka kucing ya? Batin Rin.

“Seekor kucing yang malang.” Lanjut Sehun. Sehun terpaksa berbohong kepada Rin karena tidak ingin gadis itu terluka lebih jauh. Rin ber-oh ria mendengarnya. Eomma Rin mengusap kepala Rin dengan lembut. “Kau harus ingat kembali ya?”

Rin menganggukan kepalanya. “Eomma juga harus membantuku. Dan kau juga.” Rin melihat ke arah Sehun dan tersenyum. Sehun yang melihat itu juga ikut tersenyum. Bagaimana tidak? Dirinya dapat dekat dengan Rin seperti sedia kala #hayo?# .

***

“Wah ternyata kau maniak es krim ya?” Sehun membawakan 2 bungkus es krim yang baru saja dibelinya di mini market dekat rumah sakit dan menyodorkannya kepada Rin yang duduk di bangku taman sambil menggambar di buku sketsanya.

“Wah, kau sudah datang?” Rin tersenyum melihat kehadiran Sehun. Selama 1 minggu ini Rin ditemani oleh Sehun. Berhubung sekarang masih libur kenaikan kelas dan Sehun juga memiliki banyak waktu luang. Demi membayar hutangnya kepada Rin, Sehun dengan senang hati selalu menemani Rin di rumah sakit dan berusaha mengingatkan akan ingatan Rin yang hilang.

“Gomawo. Mian aku menganggumu. Tadi aku sangat ingin es krim jadilah aku mengirimu pesan dan menyuruhmu datang kemari. Jeongmal mianhae.”

“Kenapa meminta maaf? Gwaencanha. Lagi pula aku sedang bosan di rumah.”

“Jinnja?”

“eoh. Apa yang sedang kau gambar?” Tanya Sehun begitu melihat hasil gambaran Rin dibuku sketsanya. “Bukankah itu seorang namja? Kenapa kau menggambarnya dari belakang?”

“Entahlah. Aku juga heran. Mungkin aku dulu seperti ini. Semua gambar-gambarku dulu yang berada di buku ini semuanya adalah gambar namja itu. Dan lebih anehnya lagi aku selalu menggambarnya dari belakang. Dan ini seperti candu rasanya.”

“Kau ingat mengapa selalu menggambarnya dari belakang?” Sehun mengambil buku sketsa itu dan membuka halaman demi halaman dari depan.

“Molla. Bukankah seharusnya kau tahu? Kau kan sahabatku?”

“Kau tidak pernah berbicara tentang ini kepadaku.”

“Eh? Kalau begitu kembalikan.” Rin berusaha mengambil buku sketsa miliknya tetapi Sehun dengan sigap menangkatnya ke atas dengan tangannya yang sudah jelas tidak bisa digapai oleh Rin. “Aissh. Kau menyebalkan.” Rin menarik kembali tangannya. 

“Kenapa kau ingin aku mengembalikannya eoh? Aku kan belum selesai melihatnya.” Sehun bertanya kepada Rin tetapi seketika Rin menatapnya dengan tajam.

“Tentu saja. Itu tandanya itu adalah rahasia milikku yang bahkan kau sendiri saja tidak mengetahuinya wahai sahabat.” Rin berkata dan lalu menggerutu tidak jelas. Sehun yang melihat hal itu terkekeh.

“e-hey.. Tidak salahnya bukan jika aku melihatnya.” Rin masih tetap memalingkan wajahnya. Ketika Sehun membuka halaman berikutnya, ada sebuah daun coklat yang delaminating jatuh ke tanah.

“Eh apa ini?” Sehun memutar balikan daun itu. “Kau menggunakan daun ini sebagai pembatas?” Tanyanya lagi. Rin yang mendengar kata “daun” langsung menoleh ke arah Sehun. “Molla.” Dirinya ikut melihat ke arah daun coklat tadi yang masih berada di tangan Sehun.

“Apa ini?” sedetik kemudian Sehun melihat ke arah buku sketsa Rin yang tepatnya adalah halaman yang dimana daun coklat itu jatuh. Ternyata ada sebuah tulisan tangan disertai gambar daun yang merupakan gambar dau yang sedang ia pegang saat ini.


“Kau tidak tahu diriku. Sekuat apapun aku menghindar aku pasti melihatmu. Jika saja aku mengenalmu dari dulu aku akan bahagia sekarang. Daun ini kutemukan dimana saat itu kau menduduki daun ini. Saat dimana lagi-lagi kau menghindariku. Disaat dimana lagi-lagi aku hanya bisa melihatmu dari belakang.”


“Dasar penguntit.” Sehun menyipitkan matanya dan melihat ke arah Rin. “M-mwo?”

“Kau mengikuti namja itu makanya kau menggambar namja itu dari belakang. Kau itu benar-benar gila sepertinya.”

“M-mworago? Gila? Apa maksudmu Oh Sehun?” Rin merasa tidak terima disebut gila oleh sahabatnya sendiri.

“Buktinya kau menyimpan daun yang namja itu duduki. Sampai delaminating pula.” Sehun menyodorkan daun itu tepat di depan wajah Rin.

“Aissh. Mana kuingat~” Ucap Rin dan mendorong daun yang disodorkan Sehun. “Lihat baik-baik daun ini.” Ucap Sehun lagi dan kembali menyodorkan daun itu. “Aissh. Kau menyebalkan.”

“Maja. Itulah aku.” Dan lagi Sehun kembali menyodorkan daun itu. 

“Kau sudah gila!” Teriak Rin masih berusaha menyingkirkan daun yang dipegang Sehun itu dari hadapannya.
“Kau yang gila.” Sifat keras kepala Sehun muncul dan dirinya terus saja menyodorkan daun itu.

“Sehun-ah?” serentak mereka berdua menoleh ke sumber suara. “Eh. Yujin-ah annyeong.” Ucap Rin sambil tersenyum. 

Bukannya membalas sapaan dari Rin, Yujin malah melangkah dengan lebar-lebar ke arah mereka, Sehun sudah mendecakan lidahnya dari tadi melihat kehadiran Yujin. “Apa yang kalian berdua lakukan?” Ucap Yujin dengan dingin dan sinis. Tatapan matanya memperlihatkan kebencian kepada Rin. Rin yang melihat itu memundurkan kepalanya, dan entah mengapa emosinya memuncak tanpa sebab segera dia mengontrol emosinya dan menatap Yujin.

“Kami-“

“Memangnya apa urusanmu?” Sehun memotong kalimat Rin dan memasang wajah dinginnya. Ice Prince yang sudah lama hilang muncul lagi. Rin sedikit terkejut dengan wajah dingin nan datar Sehun karena semenjak dirinya sadar, Sehun tidak pernah menampilkan ekspresi itu kepadanya. Sama sekali tidak pernah.

Rin menyikut lengan Sehun. “Dia itu yeojachingumu.” Ucap Rin tanpa suara. Sehun yang melihat itu segera menatap Rin dengan tersenyum. “Kajja. Lebih baik kita kedalam.” Sehun menarik lengan Rin dengan sedikit paksaan. Tak lupa Sehun membereskan buku sketsa Rin beserta alat tulisnya dan Rin memegang es krim miliknya dan juga milik Sehun.

Rin menundukan kepalanya kepada Yujin karena merasa tidak enak. “Mianhae Yujin-ah.” Ucapnya lagi tanpa suara dan segera mengikuti arahan Sehun. Yujin yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya. Tak beberapa lama lagi, Yujin melihat ke arah bangku yang Sehun dan Rin duduki tadi. Matanya menangkap benda tipis yang rapi dan berwana kecoklatan tergeletak begitu saja di bangku itu.

“Eh? Apa ini?”

Dirinya memegang benda itu. 

“Daun dilaminating?”  Yujin mendecakan lidahnya dan segera menghampiri tempat sampah untuk membuang daun itu. Tapi gerakan tangannya terhenti diudara tepat di atas tempat sampah.

“Jankaman. Sepertinya aku pernah melihat daun ini. Tapi dimana ya?”

“Ini milik Rin atau Sehun? Ah.. Lebih baik aku menyimpannya sambil berusaha mengingat tempat itu.” Yujin memasukan benda itu ke tasnya yang berwarna abu-abu mengkilap.

***

“YA! Lepaskan Oh Sehun!” Rin mengguncang-guncangkan tangannya yang dipegang oleh Sehun. Tetapi tenaganya kalah dengan tenaga seorang Ice Prince.

“YA! Kubilang lepaskan! Ini sakit!” Sehun tetap tak peduli omelan Rin dan memasuki lift. Di dalam lift, Rin memandang tangannya yang masih saja digenggam Sehun.

“Kapan kau akan melepaskan tanganku?” Tanya Rin kepada Sehun yang berada disampingnya. Sehun menoleh dan menatap Rin. “Nanti. Saat berada di ruanganmu.” Ucapnya dengan singkat tetapi terkesan tegas. Rin menghembuskan nafasnya dengan berat. Tenaganya sudah habis dikarenakan namja bernama Oh Sehun itu yang kebal terhadap omelannya. Hanya mereka berdua di dalam lift ini.

Rin memandang pantulan wajahnya di dinding lift. Yeoja yang menggunakan pakaian rumah sakit beserta kepalanya yang masih diperban. Seketika tatapannya jatuh kepada tangannya yang masih saja digenggam dengan kuat oleh Sehun. Dirinya menatap pantulan tangannya yang berada di dinding lift.

DUG-DUG-DUG. Suara jantungnya sampai  terdengar ditelinga Rin. Kenapa jantungku berdetak dengan cepat? Apa aku tidak normal sekarang? Batinnya. Segera Rin memegang dada kirinya menggunakan tangan kanannya yang membawa es krim.

“Kau kenapa?” Tanya Sehun yang mengikuti arah gerak tangan kanan Rin. “Ani. Gwaencanha.” Ucap Rin dan kembali menurunkan tangannya. “Kenapa kau memegang ke arah jantungmu? Ada yang salah?”
Benar-benar khawatir rupanya. Sehun menatap Rin dengan cemas. “Aissh. Tidak ada apa-apa. Aku kerepotan tahu. Tanganmu saja sepertinya penuh. Oleh sebab itu. tolong lepaskan tangan kiriku.” Rin berusaha bersifat lembut. “Shirreo!” Ucap Sehun tegas dan tatapan matanya beralih ke arah angka di lift yang menunjukan lantai 3. Tandanya ada 3 lantai lagi yang harus mereka lewati. Untung saja tidak ada yang menaiki lift ini sehingga lift ini bisa dengan cepat ke lantai ruangan Rin. Waktu berjalan dengan cepat di luar lift. Tidak dengan di dalam lift. Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. 

Rin mencuri-curi pandang wajah Sehun yang serius melihat angka. “Ya! Kenapa kau seperti mannequin begitu?” Rin berusaha mencairkan suasana yang sunyi.

“Kau juga seperti itu.” Ucap Sehun tanpa sedikitpun melihat ke arah Rin. Lagi-lagi Rin menatapnya dengan tajam. Dilihatnya lagi tangannya yang masih setia digenggam Sehun. “Menyebalkan.” Gumam Rin.

TING!

Pintu lift terbuka di lantai 6. Sehun segera menarik lagi Rin dan berjalan di lorong. “Ya! Ini sudah berada di lantaiku! Lepaskan.” Rin berusaha melepaskan lagi tetapi nihil. Namja Ice Prince itu masih tetap melajukan langkahnya hingga berada di ruangan Rin.

CEKLEK!

Pintu ruangan kamar Rin terbuka. Tidak ada siapapun. “Sepi sekali.” Ucap Sehun. “Yah.. eomma akan datang bersama appa dan Myungsoo nanti sore. Jae Mi juga nanti sore, dia ada les.”
Sehun hanya ber-oh ria dan itu membuat Rin jengkel. “Tidurlah. Kuyakin kau lelah karena dari tadi kau terus menggambar.” Sehun menggiring Rin ke ranjang rumah sakit. Rin dengan kesal duduk menyender. Tapi sedikit lega karena tangannya terbebas dari genggaman Sehun.

“Ini es krim milikmu.” Rin menyodorkan Sehun es krim miliknya. Sehun segera mengambil bangku dan duduk. Rin juga segera membuka es krimnya takutnya mencair. Sehun meletakan buku sketsa Rin beserta alat tulisnya di meja kecil disamping  ranjang Rin.

“Kenapa kau kasar sekali terhadap Yujin tadi?” Rin memakan es krimnya sambil menonton acara TV. Walaupun pertanyaan itu untuk Sehun, tapi dirinya tidak menatap Sehun sama sekali. Sehun yang sedang akan mengambil sesendok es krim miliknya terpaksa gerakannya harus terhenti.

“Jangan membahas dirinya. Diam dan makan saja es krim mu. Jangan banyak tanya.” Ucap Sehun menoleh ke arah Rin. Rin yang tadinya tidak ingin menoleh jadi menoleh karena perkataan Sehun tadi. Akhirnya mereka saling tatap.

“Okay. Aku diam.” Ucap Rin dengan datar dan menyuapi dirinya dengan sesendok penuh es krim. Sehun yang melihat itu mendecakan lidahnya dan memakan es krim miliknya juga.

Tiba-tiba pandangan matanya kabur. Seperti layaknya cuplikan-cuplikan film yang terputus-putus, gambaran demi gambaran memorinya kembali.

Dirinya melihat: ia sedang termenung di kelas dan disampingnya ada Jae Mi dan tatapan matanya beralih ke arah Sehun yang berada di depannya.

Rin mengerang kesakitan dan Sehun terlonjak kaget melihatnya. Rin memegang kepalanya yang terasa sangat sakit ketika ingatan itu muncul. “Rin!” Sehun merangkul pundak Rin. Dirinya panic sekarang. “Kau kenapa?”

“Jawablah pertanyaanku!” Sehun semakin cemas karena Rin tidak menjawabnya. Seketika Rin melepaskan tangannya yang tadi memegangi kepalanya. Butiran air mata terjun bebas di pipinya. Matanya berkaca-kaca karena merasakan sakit. Rin menolehkan kepalanya dan melihat wajah Sehun yang cemas di sampingnya.


GREP!


Rin memeluk leher Sehun secara tiba-tiba. Tubuh Sehun menegang layaknya batu. Matanya juga mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan tindakan Rin. Sedangkan Rin, kembali meneteskan air matanya di bahu Sehun entah mengapa rasanya dia sangat sakit. Sehun yang merasakan pundaknya mulai basah membalas pelukan Rin dan melingkarkan tangannya di pinggang Rin. Tangannya yang satunya menahan kepala Rin agar tetap berada dipundaknya sedangkan tangan satunya lagi menepuk-nepuk punggung Rin dengan lembut.

“Gwaencanha. Sesakit itu kah Rin-ah? Tenang. Ada aku disini.”

***

“Rin-ah!!! Eomma datang!” belum apa-apa eomma Rin sudah seperti orang kesurupan dan dengan rusuhnya masuk ke ruangan Rin. Tapi aktivitasnya langsung ia hentikan ketika melihat Rin yang terbaring dan tertidur pulas. Sedangkan di sampingnya terdapat Sehun yang juga tertidur dikursinya. Tv yang masih menyala itu segera eomma Rin matikan. Appa dan Myungsoo yang melihat adegan itu segera memiringkan kepala mereka. 

“Ck. Dasar.” Ucap Myungsoo dan matanya melihat ke arah buah-buahan yang masih rapi di meja kecil ruangan Noona nya sendiri. “Kan sayang makanan jika dibiarkan begitu saja.” Ucapnya lalu melahap sebuah apel tanpa dicuci terlebih dahulu.

“Apakah mereka berdua tidur?” Appa Rin melihat kondisi anaknya dan juga Sehun bergantian.

“Eunghh..” sehun membuka matanya dan mendapati Myungsoo –yang sedang makan apel- dan orang tua Rin yang sudah datang. Lantas dirinya langsung berdiri dan bungkuk memberi hormat.

“Ah.. Sehun-ah kau pasti lelah menjaga Rin ya?” Ucap eomma Rin. “Ani. Gwaencanha.” Sehun menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

***

Yujin berjalan-jalan disekitar taman kota. Dirinya memutuskan untuk merenung tentang kesalahan yang telah dia perbuat dan kekesalannya terhadap Rin yang berduaan dengan Sehun.

“Huh?” Dirinya merasakan ada sesuatu yang jatuh diatas kepalanya. Diambilnya apa yang jatuh itu.

“Daun?” Ucapnya. Seketika dirinya mendongakan kepalanya, banyak daun coklat yang jatuh. “Ini kan bukan musim semi?”

Seketika kepalanya seperti terhantuk sesuatu. Seperti disambar petir. Dengan buru-buru ia mengeluarkan daun laminating temuannya dari tasnya.

“Akh! Mana benda itu??” Omelnya kepada dirinya sendiri.

“Akh! Aku tidak dapat menemukannya!” akhirnya dirinya duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Ini dia! Ketemu kau daun tengil!” Ucapnya. Lalu diraihnya daun itu dan mencocokannya dengan daun sekitar.

“Tepat seperti dugaanku! Ternyata daun ini berasal dari taman ini!”

Segera dirinya memfoto kedua daun dan mengirimkan gambar itu kepada seseorang.


TO:xxx
Lihat Oppa! Lihat ini! Ini dua daun yang sama bukan? Jawablah Oppa~ ini penting! Kau kan jenius!


FROM:xxx
Ne. benar itu sama. Memangnya ada apa adikku? Oppa dalam perjalanan ke sana. Sebentar lagi Oppa sampai. Kau ada ditaman itu ya? Oppa akan datang sebentar lagi, oke? Oh ya, kau ingin meminta bantuanku untuk membantumu dengan namja yang bernama Oh Sehun itu kan? Tenang oppa akan membantumu. 


Yujin tersenyum melihat pesan orang itu. “Dia masih mengingatnya. Hehehe.. Baiklah. Oh Sehun, lihat saja nanti! Kau pasti akan mengemis-ngemis cinta kepadaku!!!” smirk terlukis di wajah Yujin. Segera dirinya berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya sambil menunggu Oppa nya.

***

“Sehun kemana?” Tanya Rin yang baru saja bangun tidur.

“YA! Kau ini! Sehun saja Sehun! Kau membuatku kecewa Park Hwa Rin!” Jae Mi menggembungkan pipinya dan itu membuatnya tampak imut. “Tentu aku menanyakannya. Aku tidak melihat sosoknya disini. Hahah.. Kan sekarang ada yang menggantikannya bukan? Jae Mi-ah~”

Jae Mi terkekeh geli mendengar suara imut sahabatnya. “Iya iya. Oh ya, kau katanya mengingat sesuatu?”

“Kata siapa?” 

“Siapa lagi kalo bukan si Ice Prince Nona Park.”

“Oh..Oh.. Itu.. Aku mengingatmu yang duduk disampingku lalu Sehun yang duduk didepanku.” Rin tersenyum menunjukan deretan giginya yang putih.

“Hanya itu?”

“Tentu! Segitu saja sudah sangat sakit! Bahkan aku menangis tadi! Ck. Aku belum berterima kasih kepadanya.” Jae Mi tersenyum mendengar penuturan sahabatnya. “Kau menangis? Di depan Sehun? Ya ampun! Kau ini tidak malu?”

“Untuk apa malu? Toh, memang benar-benar sakit.”

“Kau.. tidak ingat masa lalumu? Maksudku ketika kau kecil? Tidakkah kau ingat sesuatu?” Tanya Jae Mi.

“Mwoya~ segini saja sudah sakit. Lebih baik aku tidak ingat masa lalu jika begini terus sakitnya. Lagipula tidak ada yang berharga.” Ucapnya yang membuat Jae Mi menganga. “Tidak berharga katamu? Justru itu adalah ujung dari permasalahanmu saat ini Rin-ah! Kau harus mengingatnya bagaimana pun juga. Sudahlah. Aku ingin ke kamar mandi dulu.”

“Apa-apaan sih dia? Mengapa seperti sudah menjadi 10 tahun lebih tua sekarang.” Rin menggerutu sendiri.
Rin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi appa, eomma, dan adikknya yang sedang pergi keluar sebentar dan berbincang dengan dokter. 

“Mengapa tidak diangkat?” Ucapnya. Lalu jemarinya menekan tombol pemanggil yang langsung menghubungi namja yang bernama Oh Sehun.

“YA!kau meninggalkanku, eoh?”

“…”

“Eh? Jinnja? Mian. Ne. arraseo.”

“…”

“Ne.”

“…”

“Keuno.”

Rin menutup telefonnya dengan Sehun. Namja itu bisa sibuk juga rupanya. 

CEKLEK!

“Oh? Nuguseo?” Rin menatap namja asing yang memasuki kamarnya.

“Adakah yang bernama Sehun?” Ucap namja itu. Segera Rin mengerjapkan matanya. Jelas-jelas hanya ada dirinya sendiri di sini. “Tidak ada.” Ucap Rin datar. Ia tidak pernah melihat namja ini sebelumnya. Yang pasti dirinya tampak sudah dewasa.

“Oh kalau begitu, apakah kau yang bernama Park Hwa Rin?” Tanya namja itu dengan senyumnya yang manis. Rin memandangnya heran. “Bagaimana kau tahu itu namaku?”

“Tentu saja aku tahu, calon tunanganku.”


“MWOO??!!”


-TBC-


Mian di TBC. Part 2-END nya gk lama kok. Sesuai inspirasi datengnya kapan sih. Tadinya ini mau oneshoot eh pas diliat kerangka ceritanya kayanya kepanjangan deh.. segini aja udh 17 page. Jadilah Two Shoot gk lebih dan gk kurang #jualan? . Yang pasti part 2 kan chapter terakhir, jadi banyak konflik disitu. Apalagi ada anak baru(?) di FF ini.. Castnya bertambah..  Bye Bye oke? Jangan Plagiat, copy tanpa izin, RCL dibutuhkan ^_^ gomawo..


Komentar

Postingan Populer