FF EXO and GOT7 (Two Shoot) : My Memories (Pt.1)
My Memories
Title : My
Memories(pt.1)
Author :Park Hwa Rin
(@KintanHA)
Main
Cast : Park Hwa
Rin (OC)
Oh Sehun (EXO-K)
Genre : Romance,sad,
hurt, gaje
Rating : PG-14 (gk
tau ah.. -_-)
Length : Two shoot
A/N : Hallo
hallo again. Aku akan mempersembahkan #jengjengjeng# sebuah FF yg datang
secara mendadak di tengah malam yg sunyi serta di temani oleh suara tokek yg
menyeramkan(?). Maaf jika gaje , typo, kesamaan cast, alur, dsb. Karena aku tidak bermaksud untuk plagiat dan
ini 100000000000000000000000000000% dari imajinasiku. Lagu yang cocok sih dan
lagu yang aku gunakan saat menulis FF ini ditengah malam adalah Jin-Gone. Aku
rekomendasikan sih itu ^_^
***
Rin POV
Yah, inilah aku. Seorang yeoja yang telah gagal masuk ke SMA
impiannya. Seorang yeoja yg tergila-gila dengan
hal yang bernama Menulis. Seorang yeoja yang terdiam dikamarnya seorang
diri bercat kuning ini yang dihiasi oleh poster Spider-Man dan foto-foto para
sahabatnya dan juga karya-karya gambarannya. Ruangan kamarku yang sempit ini
tidak membuat niat ku untuk menulis luntur. Musim panas tahun ini sangat
menyengat tubuh dan bahkan membuatku tampak seperti berada di sauna. AC yang
bersarang di kamarku mati dan rusak. Kipas angin yang menyala disampingku tidak
membantuku menghilangkan rasa panas ini.
“HHOOAAMM..” Lagi-lagi aku menguap. Ntah mengapa jika aku
sedang mendapati inspirasi aku seperti lupa waktu dan berkecamuk dengan
imajinasiku. Jemariku yang pegal tidak membuatku lelah untuk mengetik hasil
imajinasiku. Oh ya, aku sangat senang menulis FF tentang boyband dan ulzzang belakangan
ini. Banyak sekali cerita ku yang menjadi Chapter dan juga One Shoot. Dan
kalian tahu? Para FF ku ini terbengkalai semua!!! Alias belum pernah aku
lanjutkan dan bahkan salah satunya sudah mencapai 100 halaman dan aku tidak
tahu harus berbuat apa lagi.
Jika aku membuka File di laptopku yang bernama “My Novel and
FF” , rasanya aku tidak menyangka bahwa akulah yang menulis FF yang bersarang
itu. Sekitar 31 FF yang berada di File ku dengan cerita dan cast yang berbeda
pula. Sangat disayangkan memang melihatnya. Dan hanya sekitar 11 FF yang
berhasil ku publish di blog pribadiku. Memang menulis adalah kepuasan
tersendiri untuk diriku.
Yah, aku akan menginjakan kakiku di SMA sebentar lagi. Tidak
terasa sudah memasuki masa SMA. Walaupun tidak bisa lolos ke SMA favoritku,
setidaknya aku bisa lolos ke SMA yang selama ini aku abaikan tetapi sekarang
aku banggakan. Sekolah manapun sama lho. Intinya adalah belajar belajar dan
belajar.
Malam ini, tepatnya pukul 8:51 aku menulis sebuah FF yang
datang dengan sendirinya ke otakku. Yah, aku memang suka seperti ini. Aku
melirik sekilas ke arah namdongsaeng-ku yang sedang bersantai diruang TV. Tidak
ada beban apapun dibenaknya dan padahal dia juga akan memasuki masa SMP. Ck.
Aku tidak habis pikir dengannya.
Aku turun ke lantai bawah untuk mengambil beberapa cemilan
setelah dirasa perutku memang lapar. Ketika aku membuka kulkas,,,
“YAA! Kemana semua makananku??? Siapa yang mencurinya, eoh?”
Aku berteriak dan suaraku menggema dirumahku. Aku marah dan kesal karena ada
seorang pencuri yang menghabiskan seluruh jatah cemilanku yang kusimpan rapi di
kulkas. Aku melirik kesal namdongsaeng-ku yang turun dengan santai. “Tadi aku
lapar dan aku memakannya.” Seketika pula aku menjitak kepalanya dan
mengomelinya.
“Lapar?? Memangnya jatahmu kemana hah? Mengapa mengambil
bagian orang lain???!!!” akhirnya Appa ku terbangun dari tidurnya dan berjalan
ke arahku. “Sudahlah, beli lagi saja sana.” Ucapnya dengan santai dan setengah
sadar itu dan segera pergi kembali ke kamarnya. “Tuh kan beli sana.”
Namdongsaeng-ku ikut berkomentar. Aku segera memakai jaketku dan memakai sepatu
sandal. Aku mengambil uang yang berada di dompetku dan segera pergi ke luar
rumah saking laparnya. Di tengah perjalanan, banyak sekali anak kecil yang
berlalu lalang.
Dan akhirnya, aku
sampai ke minimarket langgananku.
Aku segera mengambil beberapa snack dan mencoba menghitung
harganya agar aku dapat melihat aku membawa cukup uang untuk membelinya. Aku
menyerahkan belanjaanku dikasir dan segera membayarnya.
Aku malas sekali pulang ke rumah hingga kuputuskan untuk
duduk di kursi yang berada diluar minimarket dan membuat se-cup ramen. Aku
tidak peduli lagi dengan suara bising yang lain. Aku memakan ramenku yang aku
buat dengan mengambil air panas yang disediakan di dalam minimarket. Segera
kulahap ramen itu. musim panas sih musim panas. Jika malam-malam begini tetap
saja dingin diluar.
Seketika itu pula aku menangkap sesosok namja yang terlihat familiar untukku. Namja yang
membuatku ber-imajinasi dengannya. Namja yang membuatku tidak fokus
kepelajaran. Namja yang pantas untuk aku caci maki. Yah, aku menyukainya.
Sangat menyukainya. Pada awalnya aku hanya menganggapnya sebagai pengganggu kelas
yang selalu meminta contekan kepadaku. Tetapi mengetahui bahwa dia pintar, waw,
aku terpesona olehnya. Dia sekelas denganku. Tapi, kami sekarang berada di
akhir masa SMP yang akan beralih ke masa SMA.
“Eh? Oh Sehun?” aku berusaha berbasa-basi dengannya. Dia
menatapku dengan wajah herannya. “Rin?” Ucapnya dan kemudian tidak mengucapkan
apapun lagi. Menyebalkan. Padahal aku hanya ingin mengajaknya mengobrol sebagai
teman tetapi dia memasang wajah datar nan dinginnya terhadapku. Kulihat
punggungnya yang tegap masuk ke arah minimarket tersebut. Tak lama dia keluar
disertai sebuah cup ramen juga ditangannya. “Kenapa kau makan sendiri?” Ucapnya
sambil mengecek ramennya dan duduk di bangku dihadapanku. “Hah?” aku tidak tahu
maksud perkataannya. “Kenapa kau makan sendiri?” dia menatap ke arah mataku
dengan wajah datar nan dinginnya. “Terserah diriku lah.” Aku juga menjawabnya
dengan dingin. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan segera melahap
ramennya. Sepertinya ramen itu belum cukup matang untuk dimakannya langsung. “Kau
kenapa malam-malam begini diluar?” Tanyanya lagi yang semakin membuatku heran.
“Bukan urusanmu.” Dan lagi-lagi dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan
bodoh dan rasanya ingin sekali kutimpuk kepalanya dengan sandalku. Tapi
berhubung aku menyukai namja menyebalkan dihadapanku ini, aku memilih untuk
bersabar.
“Kau masuk SMA mana?” Tanyanya lagi dengan tatapan matanya
yang tidak beralih dari cup ramennya.
“Bukan urusanmu.”
“Jangan bilang kau tidak masuk SMA yg kau puja-pujakan itu
dan malah masuk SMA lain?” Tanyanya dengan datar. Aku yang sedang
mengaduk-adukan ramenku segera berhenti dan menatapnya sinis. Apakah dia sedang
merendahkanku? Apakah dia sedang meremehkanku? Apakah dia sedang meledekku? Apa
dia menghinaku?
“Kau terlalu berpikiran negative. Aku tidak sedang
merendahkan dan menghinamu. Janganlah berpikiran seperti itu.”
Ya Tuhan! Haruskah aku menimpuknya sekarang? Aku tidak
percaya dengan perkataannya. Jangan berpikir negative? Apakah dia sedang
sombong karena dia masuk SMA impiannya?
“Kau sombong sekali.” Kata-kata itu keluar begitu saja.
Kulihat dia kembali menatapku dan menampilkan smirk andalannya. “Sudah kubilang
jangan berfikiran negative Nona Park. Dan juga pemikiran setiap orang memang
berbeda-beda.”
Emosiku memuncak sekarang. Ya Tuhan mengapa aku bisa jatuh
cinta dengan devil berbungkus selimut malaikat ini? Mengapa dia harus menjadi
cinta pertamaku?
Yah, mulai hari ini sudah kuputuskan. Aku tidak menyukainya
lagi. Melainkan aku sangat membencinya. Aku bersyukur berbeda SMA dengannya!
Aku tidak menyesalinya!
Aku yang sudah selesai dengan ramenku segera berbalik untuk
pulang. Aku benar-benar menganggapnya tidak ada dan meninggalkannya. “Ada yang
ingin kubicarakan.” Ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh kebelakang. “Ada apa?” Tanyaku.
Dia menatapku dengan pandangan yang ku kenal. Jankaman. Sering kukenal! Ntah
kapan dan dimana aku pernah melihat tatapan semacam itu. “Ah,, Tidak jadi.
Sudah sana pulang.” Ucapnya dan kembali memakan ramennya. Aku menghembuskan
nafasku dengan kesal dan segera pergi dari tempat itu. Tak lama setelah aku
berada dikamarku lagi dan hendak menulis FF, notifikasi Kakao Talk di ponselku
berbunyi. Segera kubuka pesan itu dan segera juga aku membacanya dengan malas.
From: Oh Sehun
Chukkae sudah bisa lulus SMP dan bisa masuk ke SMA.
Aku membelalakan mataku karena dia mengirimiku sebuah
emoticon lucu yang seolah menggambarkan ekspresinya. Hei hei. Jankaman. Mengapa
jika di pesan dia sangat berbeda ya? Bukankah dia dingin jika berbicara
langsung denganku? Tapi mengapa dia disini terkesan ramah?
Akh, mollaso. Bodo amat. I don’t care. Aku membalas pesannya
dengan emoticon yang menggambarkan aku senang mendengar ucapan selamat darinya.
Tak lama dia membalasnya juga dengan emoticon. Dan malam itu
kami saling membalas dengan emoticon. Hingga akhirnya dia tidak membalas
emoticon yang kukirimkan.
“Mungkin dia lelah bertindak sebagai orang lain di dunia
maya.” Aku tersenyum meremehkan. Ntah mengapa aku berharap dia membalasku. Wah!
Andwae! Aku tidak boleh berharap! Dan segera aku melanjutkan aktivitas awalku,
yaitu menulis disertai bungkusan snack disamping laptop ku dan sekotak susu
putih yang kubeli tadi. Imajinasiku keluar dengan bebasnya melalui jemariku.
***
Author POV
Semenjak kejadian malam itu, Rin sering mengirimi Sehun
pesan untuk sekedar berbasa-basi. Tetapi jawaban dan respon Sehun sangatlah
ramah.
Yah, 1 tahun telah berlalu. Rin tidak pernah mendengar suara
Sehun lagi dan hanya saling mengirimi pesan walaupun jarang. Hari ini adalah
liburan kenaikan kelas ke kelas 2. Rin dan teman-temannya memutuskan untuk
berkumpul dan menjenguk guru tercinta mereka yang sedang sakit. Rin menunggu
sekitar 10 menit dan teman-temannya barulah muncul dan menampakan diri.
“YA! Kalian lama sekali?” Tak jauh Sehun juga datang disertai
dengan Yujin disebelahnya. Yujin adalah seorang yeoja yang juga sewaktu SMP
menyukai Sehun dan dia berhasil satu sekolah dengan Sehun. Rin menatap kedua
insan yang datang beriringan itu dengan miris. Walaupun dia sekarang tidak
menyukai Sehun lagi, tetapi melihat Sehun dengan yeoja lain rasanya sangat,,,
“Aku lapar.” Ucap Jae Mi. “Kau mau membeli makanan?” Tawar
Rin yang disertai anggukan kepala dari Jae Mi. “Ne!!!”
“Baiklah. Masih banyak yang belum datang ya? Ayo kita masuk
saja dulu.” Rin menggandeng tangan Jae Mi –sahabatnya- memasuki ke food court
di dalam mall yang menjadi tempat janjian mereka.
Tak lama mereka keluar disertai banyaknya makanan yang
mereka beli dan topi imut –seperti topi Luhan yang koala itu lho- yang
berbentuk wajah Donald Duck di kepala Rin.
Ketika mereka keluar ternyata sudah ramai. Dan Rin menyalami
teman-teman sekelasnya dulu itu dengan antusias.
-skip-
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
Setelah menanyakan ke resepsionis, akhirnya mereka berjalan di koridor rumah
sakit hendak menuju ruang guru mereka.
Mereka membuka pintu tersebut dengan perlahan.
“Annyeonghaseo seongsangnim.”
-skip- (Mian di skip karena pasti kalian akan bosen jika
author menulis hal yang tidak penting)
Dengan kegaduhan mereka, mereka keluar dari rumah sakit.
“Kau tahu Rin. Yujin dan Sehun, mereka berpacaran.” Rin
mengangguk saja kerena dia memang sudah tahu ketika melihat kedekatan mereka
berdua. “yah, aku sudah tahu.”
Lampu merah berganti hijau untuk para pejalan kaki.
Berbondong-bondong mereka menyebrangi jalanan. Hingga yujin memeluk pinggang
Sehun dari belakang di tengah jalan. Ingat! Di tengah jalan!
Rin yang berada di belakang mereka menyaksikan kejadian itu
dengan terkejut. Jae Mi sudah sampai di seberang sana bagaimanapun dengan orang-orang
lainnya. Dan seketika lampu hijau berganti merah bagi pejalan kaki. Rin melihat
ke sekelilingnya. Dan menepuk pundak Yujin dan Sehun dengan panic. “Ayolah
cepat menyebrang.” Ucapnya karena bisingnya bunyi klakson dari mobil.
Sehun memandang Yujin dengan tidak suka dan berjalan dengan
cepat. Yujin yang manja mengikuti Sehun dan memeluk tangannya dari samping.
Sehun menampilkan wajah amarahnya. Rin membungkukan badannya ke arah para
pengemudi mobil dan berjalan perlahan.
Ketika hampir sampai ke seberang sana -sekitar 5 langkah- ,
mobil putih berlaju dengan kencang ke arah Yujin dan Sehun. Rin memandangnya
panic dan berlari menghampiri Yujin dan Sehun.
“YYUUJJIINN!!!!!” Teriaknya dan mendorong kencang tubuh
Yujin beserta Sehun ke trotoar. Tapi mobil putih itu berlaju dan menghantam
tubuh Rin yang membuatnya terpental ke kaca mobil itu dan segera jatuh ke
jalan. Rin tidak sadarkan diri. Topi putih Donald Ducknya sekarang bercampur
merahnya darah yang menembus dari kepalanya. Darah mengaliri dahinya dan
samping kepalanya.
“Rin-ah!!!” Jae Mi panic dan segera menghampiri tubuh Rin
yang lemas tak berdaya. Jae Mi memegang dan menepuk pelan pipi Rin.
“Bangunlah..Hiks..Rin-ah..” Air mata jatuh dari pipi Rin. Apa daya, Rin sama
sekali tidak membuka matanya. Jae Mi memandang sengit ke arah Yujin bukan
Sehun. “Kau! Mengapa kau melakukannya ditengah jalan! Dasar idiot gila!”
Tatapan mata berlinang air mata Jae Mi beralih ke arah
pengemudi mobil yang sudah keluar dari mobilnya dan tampak panic. “Maafkan aku.
Aku.. Aku buru-buru.” Ucap pengemudi itu dan membuat Jae Mi ingin menarik
kerahnya tapi keburu dicegah teman-temannya.
“Lepaskan aku!!” Jae Mi meronta.
***
Alat pendeteksi detak jantung masih dengan giatnya
menampilkan detak jantung Rin yang sekarang berada dirumah sakit. Tubuhnya yang
kurus sekarang menjadi semakin kurus dan pucat. Pipinya yang chubby sekarang
semakin mengurus. Kepalanya yang diperban membuat siapapun yang melihatnya tahu
bahwa dirinya terluka parah dibagian kepalanya.
Eomma Rin masih terus saja menunggu putrinya agar segera
membuka matanya. Sudah 3 hari Rin koma. Teman-temannya setiap hari datang
mengunjunginya. Termasuk Jae Mi, Sehun, dan Yujin. Di wajah Yujin tidak ada
sama sekali tampang bersalah.
Eomma Rin harus segera berbicara dengan dokter, dia
menitipkan Rin kepada Yujin yang memang hanya dialah yang baru datang hari ini.
“Ck. Mengapa aku harus menjaganya?” Ucap Yujin dengan
angkuh. Yujin berjalan ke samping ranjang Rin. Yujin melihat topi Donald Duck milik Rin yang
sudah dicuci bersih oleh eomma-nya. “Lucu sekali.” Ucapnya lalu melirik sekilas
ke arah Rin. “Tidak apa kan jika aku memakainya?” Ucapnya dan segera
memakainya.
CEKLEK!
Pintu ruangan Rin terbuka dan masuklah Sehun yang membawa
bunga untuk mengganti bunga yang sudah layu di samping Rin.
“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya kepada Yujin dengan heran.
Yujin segera melakukan aegyo nya. “Oppa. Bagaimana? Aku imut bukan?” Ucapnya
yang membuat Sehun mengerutkan alisnya. “Aku muak denganmu.” Ucap Sehun dan
segera mengganti bunga. “Apa maksudmu Oppa?”
“Tidakkah kau merasa bersalah sedikitpun? Tetapi kau malah
memakai barang miliknya sekarang.” Sehun geram.
Oh ya, dibalik hubungan Sehun-Yujin terdapat rahasia. Saat
itu Yujin menyatakan cintanya kepada Sehun tetapi Sehun menolaknya. Teman-teman
Sehun melihat hal itu dan membuat taruhan. Sehun kalah dalam taruhan itu dan
mengharuskannya menerima pernyataan Yujin. Sampai saat ini.
Sehun tidak mencintai Yujin. Itulah kenyataannya.
“Lepaskan topi itu dari kepalamu. Sekarang.” Sehun berusaha
menahan amarahnya. Yujin mengerucutkan bibirnya dan malah memegang topi itu
dengan kuat. “Shirreo!”
Sehun memandang langit-langit dan memegang kepalanya yang
rasanya akan meledak. “Kubilang lepaskan.” Sehun menekankan nadanya. Yujin yang
melihat dan mendengar hal itu tetap melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya,
teman-teman Sehun –yang membuat taruhan bersamanya- datang.
CEKLEK!
“Wah! Annyeonghaseo!” Ucap Kai yang terlebih dahulu memasuki
ruangan. “Wasseo?” Ucap Sehun dan menghampiri ke lima temannya yang bergantian
memasuki ruangan. “Ne. mana mungkin kami tidak datang?” Joonmyeon mengucapkan
hal itu. matanya menangkap Rin yang sedang terbaring lemah. “Itu Rin?” Tanyanya
kepada Sehun. Sehun menganggukan kepalanya. “Kau yang menjaganya?”
“Ani. Eommanya sedang keluar sebentar menemui dokter.” Sehun
menjawabnya dengan lemas. “Hmm..”
“Yujin-ah? Kau disini juga?” Tanya Baekhyun ketika matanya
menangkap sesosok yeoja yang berdiri mematung. “Oh. Ne.” Yujin segera
melepaskan topi milik Rin dari kepalanya dan menyimpannya kembali di tempat
semula.
“Kalian ada apa datang kemari?” Yujin merasa tidak nyaman
dengan kehadiran teman-teman Sehun yang memang menatapnya terus. Mereka selalu
memojokan Yujin bagaimanapun caranya. Berbeda dengan Sehun. Dirinya sangat
senang teman-temannya datang karena dapat mengusir(?) Yujin dari hadapannya.
Tak lama eomma Rin datang beserta dengan dokter. Dokter
tersebut segera memeriksa keadaan Rin. Wajah eomma Rin mendadak cemas.
“Ada apa ahjumma?” Tanya Sehun. Eomma Rin memandang sekitar
dan menyadari kehadiran teman-teman Sehun yang baru pertama kali dilihatnya.
“Mereka teman-temanmu?” Tanya eomma Rin. Sehun mengangguk.
“Annyeonghaseo ahjumma.” Ucap Chanyeol mewakili yang lainnya. Serentak mereka
membungkukan badan seraya member hormat. Wajah eomma Rin mendadak cerah. “Oh
ne.” Ucapnya sambil tersenyum dan matanya membentuk eyesmile khas miliknya.
“Sehun-ah. Bisa kita bicara sebentar?” Ucap eomma Rin. Sehun
dan eomma Rin pergi keluar. “Begini, eomma dengar, Rin mengalami luka parah
dikepalanya karena menghantam dengan keras kaca mobil itu.” eomma Rin
menundukan kepalanya dan berusaha menahan isakannya. Sehun yang disampingnya
mendengarkannya dengan baik. “Dia, dia, bisa kehilangan ingatannya.” Isak
tangis eomma Rin mendadak pecah diganti oleh suara tangisan yang memilukan.
Sehun yang mendengarnya membulatkan matanya dan tak percaya. Kehilangan
ingatan? Batinnya. Dilihatnya eomma Rin yang sudah terlebih dahulu berjongkok
dan menangis. Sehun mencoba memeluk eomma Rin yang terlihat sangat rapuh. Dirinya
segera menghubungi Park Myungsoo –adik Rin- dan Tuan Park –appa Rin-.
“Kenapa bisa begini?” Gumam Sehun seraya memeluk eomma Rin.
***
Eomma Rin menghampiri putrinya yang belum saja membuka
matanya bersama Sehun disampingnya. Yujin dan kelima temannya sedang pergi ke
kantin rumah sakit untuk membeli beberapa makanan. Eomma Rin menggenggam tangan
Rin yang memiliki jemari yang lentik.
“Bukalah matamu putriku.” Isaknya. “Kumohon bukalah matamu.
Kau tidak ingin menemui eomma-mu yang cerewet ini? Kau tidak ingin menemui
appa-mu yang selalu saja bekerja? Kau tidak ingin bertengkar dengan
namdongsaeng-mu?”
Sehun berjalan ke arah ranjang Rin yang satunya. Dirinya
juga melakukan hal yang sama. Yaitu menggenggam tangan Rin.
“Ya. Park Hwa Rin? Kau tidak ingin memandangku dengan
tatapan sinismu? Kau tidak ingin lagi berbicara denganku yang seperti es ini?
Kau tidak ingin mengirimiku emoticon lagi? bukalah matamu.” Sehun melihat wajah
Rin yang pucat.
Tiba-tiba jemari kedua tangan Rin bergerak seolah merespon
ucapan eomma-nya dan Sehun. “Rin-ah?” Ucap eomma Rin. Sehun juga menatap wajah
Rin dengan penuh antusias.
Rin membuka matanya dengan perlahan dan berusaha melihat ke
arah langit ruangannya. Tangannya terasa hangat. Rin mengerjap-ngerjapkan
matanya. Eomma Rin menghampiri putrinya dan menatapnya. “Rin-ah?”
Rin mengerenyitkan halisnya. Sehun yang mengenggam tangannya
juga melepaskan tautan jemari mereka dan beralih menatap wajah Rin yang sudah
membuka kedua matanya.
“Si-siapa kalian?”
***
Eomma Rin menutup mulutnya menggunakan kedua telapak
tangannya. Sehun juga mengerjapkan matanya dan tidak percaya dengan keadaan
Rin. Rin tidak kehilangan semua ingatannya. Hanya saja dirinya tidak ingat
setiap wajah yang berbicara dengannya dan suara mereka.
Dokter yang sudah selesai memeriksa Rin menghampiri eomma
Rin yang masih shock. “Ingatannya akan kembali dengan seiring berjalannya
waktu. Dia hanya tidak ingat wajah yang pernah dia lihat. Dan suara yang pernah
dia dengar. Dirinya merasa sendirian. Oleh karena itu, buatlah agar dia dapat
mengingat kembali secepat mungkin. Karena jika keadaannya terus seperti ini,
dia akan menjadi depresi dan seolah-olah dirinya berada sendirian di dunia
ini.”
Eomma Rin berjalan dengan pelan ke arah Rin yang memiliki
tatapan kosong. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. “Rin-ah..” panggilnya. “Ini
eomma.” Rin membulatkan matanya. “eomma?” Katanya yang masih dengan tatapan
kosongnya.
“Ne.” Eomma Rin memeluk anak gadisnya yang memiliki hal
seperti ini di dalam hidupnya. “Aku punya eomma?” Guamamnya. Seketika mata Rin
menangkap sosok Sehun yang sedang berdiri di depannya. “Nugu?” Tanyanya dengan
polos dan menunjuk Sehun. Eomma Rin yang melihat hal itu langsung merespon.
“Oh, eh, oh, dia Oh Sehun. Temanmu.” Mata Rin membulat
ketika mendengar kata “Temanmu.” Rin memperhatikan Sehun dari atas sampai ke
bawah. “Temanku?” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan bertanya kepada
Sehun. Sehun yang melihat itu menatap sendu ke arah Rin. “Ne. majayo.” Ucap
Sehun akhirnya. Sebuah senyuman kecil terlukis indah di bibir Rin.
“Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?” Tanyanya dengan polos
melihat eomma nya dan Sehun bergantian. “Kau berusaha menyelamatkanku.” Sehun
menatap sendu lagi mata Rin yang terlihat polos bagaikan anak kecil. “Benarkah?
Atas dasar apa aku menyelamatkanmu? Memangnya kau siapa sampai aku peduli?”
Kata-kata itu meluncur dengan bebas dari mulut Rin. Rin mengerutkan alisnya
karena tak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya.
“Tentu saja karena kau adalah sahabatku.” Sehun kembali
bersuara. Rin yang mendengar hal itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu
kenapa kau sampai hampir tertabrak?” Tanyanya dengan polos.
Sehun terlihat
gugup menjawab pertanyaan Rin. Bagaimana mungkin dirinya secara panjang lebar
menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rin yang baru saja sadar? Sehun
melirik eomma Rin yang memberikan isyarat kepadanya dengan menggeleng-gelengkan
kepalanya secara perlahan. Eomma Rin sudah tahu kejadian yang sebenarnya.
Dirinya memaklumi perbuatan Rin yang menyelamatkan Sehun. Karena mereka adalah
sahabat #nahloh???#. berhubung Yujin berada di samping Sehun jadi Rin
menyelamatkan mereka berdua.
“A-aku menyelamatkan seekor kucing. Iya. Benar. Kucing di
tengah jalan.” Sehun menjawabnya sambil tersenyum kaku. “Kucing?” Rin
mengangkat kedua alisnya dan memandang heran Sehun. Ternyata namja juga suka
kucing ya? Batin Rin.
“Seekor kucing yang malang.” Lanjut Sehun. Sehun terpaksa
berbohong kepada Rin karena tidak ingin gadis itu terluka lebih jauh. Rin
ber-oh ria mendengarnya. Eomma Rin mengusap kepala Rin dengan lembut. “Kau
harus ingat kembali ya?”
Rin menganggukan kepalanya. “Eomma juga harus membantuku.
Dan kau juga.” Rin melihat ke arah Sehun dan tersenyum. Sehun yang melihat itu
juga ikut tersenyum. Bagaimana tidak? Dirinya dapat dekat dengan Rin seperti
sedia kala #hayo?# .
***
“Wah ternyata kau maniak es krim ya?” Sehun membawakan 2
bungkus es krim yang baru saja dibelinya di mini market dekat rumah sakit dan
menyodorkannya kepada Rin yang duduk di bangku taman sambil menggambar di buku
sketsanya.
“Wah, kau sudah datang?” Rin tersenyum melihat kehadiran
Sehun. Selama 1 minggu ini Rin ditemani oleh Sehun. Berhubung sekarang masih
libur kenaikan kelas dan Sehun juga memiliki banyak waktu luang. Demi membayar
hutangnya kepada Rin, Sehun dengan senang hati selalu menemani Rin di rumah
sakit dan berusaha mengingatkan akan ingatan Rin yang hilang.
“Gomawo. Mian aku menganggumu. Tadi aku sangat ingin es krim
jadilah aku mengirimu pesan dan menyuruhmu datang kemari. Jeongmal mianhae.”
“Kenapa meminta maaf? Gwaencanha. Lagi pula aku sedang bosan
di rumah.”
“Jinnja?”
“eoh. Apa yang sedang kau gambar?” Tanya Sehun begitu
melihat hasil gambaran Rin dibuku sketsanya. “Bukankah itu seorang namja?
Kenapa kau menggambarnya dari belakang?”
“Entahlah. Aku juga heran. Mungkin aku dulu seperti ini.
Semua gambar-gambarku dulu yang berada di buku ini semuanya adalah gambar namja
itu. Dan lebih anehnya lagi aku selalu menggambarnya dari belakang. Dan ini
seperti candu rasanya.”
“Kau ingat mengapa selalu menggambarnya dari belakang?”
Sehun mengambil buku sketsa itu dan membuka halaman demi halaman dari depan.
“Molla. Bukankah seharusnya kau tahu? Kau kan sahabatku?”
“Kau tidak pernah berbicara tentang ini kepadaku.”
“Eh? Kalau begitu kembalikan.” Rin berusaha mengambil buku
sketsa miliknya tetapi Sehun dengan sigap menangkatnya ke atas dengan tangannya
yang sudah jelas tidak bisa digapai oleh Rin. “Aissh. Kau menyebalkan.” Rin
menarik kembali tangannya.
“Kenapa kau ingin aku mengembalikannya eoh? Aku kan belum
selesai melihatnya.” Sehun bertanya kepada Rin tetapi seketika Rin menatapnya
dengan tajam.
“Tentu saja. Itu tandanya itu adalah rahasia milikku yang
bahkan kau sendiri saja tidak mengetahuinya wahai sahabat.” Rin berkata dan
lalu menggerutu tidak jelas. Sehun yang melihat hal itu terkekeh.
“e-hey.. Tidak salahnya bukan jika aku melihatnya.” Rin
masih tetap memalingkan wajahnya. Ketika Sehun membuka halaman berikutnya, ada
sebuah daun coklat yang delaminating jatuh ke tanah.
“Eh apa ini?” Sehun memutar balikan daun itu. “Kau
menggunakan daun ini sebagai pembatas?” Tanyanya lagi. Rin yang mendengar kata
“daun” langsung menoleh ke arah Sehun. “Molla.” Dirinya ikut melihat ke arah
daun coklat tadi yang masih berada di tangan Sehun.
“Apa ini?” sedetik kemudian Sehun melihat ke arah buku
sketsa Rin yang tepatnya adalah halaman yang dimana daun coklat itu jatuh.
Ternyata ada sebuah tulisan tangan disertai gambar daun yang merupakan gambar
dau yang sedang ia pegang saat ini.
“Kau tidak tahu
diriku. Sekuat apapun aku menghindar aku pasti melihatmu. Jika saja aku
mengenalmu dari dulu aku akan bahagia sekarang. Daun ini kutemukan dimana saat
itu kau menduduki daun ini. Saat dimana lagi-lagi kau menghindariku. Disaat
dimana lagi-lagi aku hanya bisa melihatmu dari belakang.”
“Dasar penguntit.” Sehun menyipitkan matanya dan melihat ke
arah Rin. “M-mwo?”
“Kau mengikuti namja itu makanya kau menggambar namja itu
dari belakang. Kau itu benar-benar gila sepertinya.”
“M-mworago? Gila? Apa maksudmu Oh Sehun?” Rin merasa tidak
terima disebut gila oleh sahabatnya sendiri.
“Buktinya kau menyimpan daun yang namja itu duduki. Sampai
delaminating pula.” Sehun menyodorkan daun itu tepat di depan wajah Rin.
“Aissh. Mana kuingat~” Ucap Rin dan mendorong daun yang
disodorkan Sehun. “Lihat baik-baik daun ini.” Ucap Sehun lagi dan kembali
menyodorkan daun itu. “Aissh. Kau menyebalkan.”
“Maja. Itulah aku.” Dan lagi Sehun kembali menyodorkan daun
itu.
“Kau sudah gila!” Teriak Rin masih berusaha menyingkirkan
daun yang dipegang Sehun itu dari hadapannya.
“Kau yang gila.” Sifat keras kepala Sehun muncul dan dirinya
terus saja menyodorkan daun itu.
“Sehun-ah?” serentak mereka berdua menoleh ke sumber suara.
“Eh. Yujin-ah annyeong.” Ucap Rin sambil tersenyum.
Bukannya membalas sapaan dari Rin, Yujin malah melangkah
dengan lebar-lebar ke arah mereka, Sehun sudah mendecakan lidahnya dari tadi
melihat kehadiran Yujin. “Apa yang kalian berdua lakukan?” Ucap Yujin dengan
dingin dan sinis. Tatapan matanya memperlihatkan kebencian kepada Rin. Rin yang
melihat itu memundurkan kepalanya, dan entah mengapa emosinya memuncak tanpa
sebab segera dia mengontrol emosinya dan menatap Yujin.
“Kami-“
“Memangnya apa urusanmu?” Sehun memotong kalimat Rin dan
memasang wajah dinginnya. Ice Prince yang sudah lama hilang muncul lagi. Rin
sedikit terkejut dengan wajah dingin nan datar Sehun karena semenjak dirinya
sadar, Sehun tidak pernah menampilkan ekspresi itu kepadanya. Sama sekali tidak
pernah.
Rin menyikut lengan Sehun. “Dia itu yeojachingumu.” Ucap Rin
tanpa suara. Sehun yang melihat itu segera menatap Rin dengan tersenyum.
“Kajja. Lebih baik kita kedalam.” Sehun menarik lengan Rin dengan sedikit
paksaan. Tak lupa Sehun membereskan buku sketsa Rin beserta alat tulisnya dan
Rin memegang es krim miliknya dan juga milik Sehun.
Rin menundukan kepalanya kepada Yujin karena merasa tidak
enak. “Mianhae Yujin-ah.” Ucapnya lagi tanpa suara dan segera mengikuti arahan
Sehun. Yujin yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya. Tak beberapa lama
lagi, Yujin melihat ke arah bangku yang Sehun dan Rin duduki tadi. Matanya
menangkap benda tipis yang rapi dan berwana kecoklatan tergeletak begitu saja
di bangku itu.
“Eh? Apa ini?”
Dirinya memegang benda itu.
“Daun dilaminating?”
Yujin mendecakan lidahnya dan segera menghampiri tempat sampah untuk
membuang daun itu. Tapi gerakan tangannya terhenti diudara tepat di atas tempat
sampah.
“Jankaman. Sepertinya aku pernah melihat daun ini. Tapi
dimana ya?”
“Ini milik Rin atau Sehun? Ah.. Lebih baik aku menyimpannya
sambil berusaha mengingat tempat itu.” Yujin memasukan benda itu ke tasnya yang
berwarna abu-abu mengkilap.
***
“YA! Lepaskan Oh Sehun!” Rin mengguncang-guncangkan
tangannya yang dipegang oleh Sehun. Tetapi tenaganya kalah dengan tenaga
seorang Ice Prince.
“YA! Kubilang lepaskan! Ini sakit!” Sehun tetap tak peduli
omelan Rin dan memasuki lift. Di dalam lift, Rin memandang tangannya yang masih
saja digenggam Sehun.
“Kapan kau akan melepaskan tanganku?” Tanya Rin kepada Sehun
yang berada disampingnya. Sehun menoleh dan menatap Rin. “Nanti. Saat berada di
ruanganmu.” Ucapnya dengan singkat tetapi terkesan tegas. Rin menghembuskan
nafasnya dengan berat. Tenaganya sudah habis dikarenakan namja bernama Oh Sehun
itu yang kebal terhadap omelannya. Hanya mereka berdua di dalam lift ini.
Rin memandang pantulan wajahnya di dinding lift. Yeoja yang
menggunakan pakaian rumah sakit beserta kepalanya yang masih diperban. Seketika
tatapannya jatuh kepada tangannya yang masih saja digenggam dengan kuat oleh
Sehun. Dirinya menatap pantulan tangannya yang berada di dinding lift.
DUG-DUG-DUG. Suara jantungnya sampai terdengar ditelinga Rin. Kenapa jantungku
berdetak dengan cepat? Apa aku tidak normal sekarang? Batinnya. Segera Rin
memegang dada kirinya menggunakan tangan kanannya yang membawa es krim.
“Kau kenapa?” Tanya Sehun yang mengikuti arah gerak tangan
kanan Rin. “Ani. Gwaencanha.” Ucap Rin dan kembali menurunkan tangannya.
“Kenapa kau memegang ke arah jantungmu? Ada yang salah?”
Benar-benar khawatir rupanya. Sehun menatap Rin dengan
cemas. “Aissh. Tidak ada apa-apa. Aku kerepotan tahu. Tanganmu saja sepertinya
penuh. Oleh sebab itu. tolong lepaskan tangan kiriku.” Rin berusaha bersifat
lembut. “Shirreo!” Ucap Sehun tegas dan tatapan matanya beralih ke arah angka
di lift yang menunjukan lantai 3. Tandanya ada 3 lantai lagi yang harus mereka
lewati. Untung saja tidak ada yang menaiki lift ini sehingga lift ini bisa
dengan cepat ke lantai ruangan Rin. Waktu berjalan dengan cepat di luar lift.
Tidak dengan di dalam lift. Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rin mencuri-curi pandang wajah Sehun yang serius melihat
angka. “Ya! Kenapa kau seperti mannequin begitu?” Rin berusaha mencairkan
suasana yang sunyi.
“Kau juga seperti itu.” Ucap Sehun tanpa sedikitpun melihat
ke arah Rin. Lagi-lagi Rin menatapnya dengan tajam. Dilihatnya lagi tangannya
yang masih setia digenggam Sehun. “Menyebalkan.” Gumam Rin.
TING!
Pintu lift terbuka di lantai 6. Sehun segera menarik lagi
Rin dan berjalan di lorong. “Ya! Ini sudah berada di lantaiku! Lepaskan.” Rin
berusaha melepaskan lagi tetapi nihil. Namja Ice Prince itu masih tetap
melajukan langkahnya hingga berada di ruangan Rin.
CEKLEK!
Pintu ruangan kamar Rin terbuka. Tidak ada siapapun. “Sepi
sekali.” Ucap Sehun. “Yah.. eomma akan datang bersama appa dan Myungsoo nanti
sore. Jae Mi juga nanti sore, dia ada les.”
Sehun hanya ber-oh ria dan itu membuat Rin jengkel.
“Tidurlah. Kuyakin kau lelah karena dari tadi kau terus menggambar.” Sehun
menggiring Rin ke ranjang rumah sakit. Rin dengan kesal duduk menyender. Tapi
sedikit lega karena tangannya terbebas dari genggaman Sehun.
“Ini es krim milikmu.” Rin menyodorkan Sehun es krim
miliknya. Sehun segera mengambil bangku dan duduk. Rin juga segera membuka es
krimnya takutnya mencair. Sehun meletakan buku sketsa Rin beserta alat tulisnya
di meja kecil disamping ranjang Rin.
“Kenapa kau kasar sekali terhadap Yujin tadi?” Rin memakan
es krimnya sambil menonton acara TV. Walaupun pertanyaan itu untuk Sehun, tapi
dirinya tidak menatap Sehun sama sekali. Sehun yang sedang akan mengambil
sesendok es krim miliknya terpaksa gerakannya harus terhenti.
“Jangan membahas dirinya. Diam dan makan saja es krim mu.
Jangan banyak tanya.” Ucap Sehun menoleh ke arah Rin. Rin yang tadinya tidak
ingin menoleh jadi menoleh karena perkataan Sehun tadi. Akhirnya mereka saling
tatap.
“Okay. Aku diam.” Ucap Rin dengan datar dan menyuapi dirinya
dengan sesendok penuh es krim. Sehun yang melihat itu mendecakan lidahnya dan
memakan es krim miliknya juga.
Tiba-tiba pandangan matanya kabur. Seperti layaknya
cuplikan-cuplikan film yang terputus-putus, gambaran demi gambaran memorinya
kembali.
Dirinya melihat: ia sedang termenung di kelas dan
disampingnya ada Jae Mi dan tatapan matanya beralih ke arah Sehun yang berada
di depannya.
Rin mengerang kesakitan dan Sehun terlonjak kaget
melihatnya. Rin memegang kepalanya yang terasa sangat sakit ketika ingatan itu
muncul. “Rin!” Sehun merangkul pundak Rin. Dirinya panic sekarang. “Kau
kenapa?”
“Jawablah pertanyaanku!” Sehun semakin cemas karena Rin
tidak menjawabnya. Seketika Rin melepaskan tangannya yang tadi memegangi
kepalanya. Butiran air mata terjun bebas di pipinya. Matanya berkaca-kaca
karena merasakan sakit. Rin menolehkan kepalanya dan melihat wajah Sehun yang
cemas di sampingnya.
GREP!
Rin memeluk leher Sehun secara tiba-tiba. Tubuh Sehun
menegang layaknya batu. Matanya juga mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan
tindakan Rin. Sedangkan Rin, kembali meneteskan air matanya di bahu Sehun entah
mengapa rasanya dia sangat sakit. Sehun yang merasakan pundaknya mulai basah
membalas pelukan Rin dan melingkarkan tangannya di pinggang Rin. Tangannya yang
satunya menahan kepala Rin agar tetap berada dipundaknya sedangkan tangan
satunya lagi menepuk-nepuk punggung Rin dengan lembut.
“Gwaencanha. Sesakit itu kah Rin-ah? Tenang. Ada aku
disini.”
***
“Rin-ah!!! Eomma datang!” belum apa-apa eomma Rin sudah
seperti orang kesurupan dan dengan rusuhnya masuk ke ruangan Rin. Tapi
aktivitasnya langsung ia hentikan ketika melihat Rin yang terbaring dan
tertidur pulas. Sedangkan di sampingnya terdapat Sehun yang juga tertidur
dikursinya. Tv yang masih menyala itu segera eomma Rin matikan. Appa dan
Myungsoo yang melihat adegan itu segera memiringkan kepala mereka.
“Ck. Dasar.” Ucap Myungsoo dan matanya melihat ke arah
buah-buahan yang masih rapi di meja kecil ruangan Noona nya sendiri. “Kan
sayang makanan jika dibiarkan begitu saja.” Ucapnya lalu melahap sebuah apel
tanpa dicuci terlebih dahulu.
“Apakah mereka berdua tidur?” Appa Rin melihat kondisi
anaknya dan juga Sehun bergantian.
“Eunghh..” sehun membuka matanya dan mendapati Myungsoo
–yang sedang makan apel- dan orang tua Rin yang sudah datang. Lantas dirinya
langsung berdiri dan bungkuk memberi hormat.
“Ah.. Sehun-ah kau pasti lelah menjaga Rin ya?” Ucap eomma
Rin. “Ani. Gwaencanha.” Sehun menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali
tidak gatal.
***
Yujin berjalan-jalan disekitar taman kota. Dirinya memutuskan
untuk merenung tentang kesalahan yang telah dia perbuat dan kekesalannya
terhadap Rin yang berduaan dengan Sehun.
“Huh?” Dirinya merasakan ada sesuatu yang jatuh diatas
kepalanya. Diambilnya apa yang jatuh itu.
“Daun?” Ucapnya. Seketika dirinya mendongakan kepalanya,
banyak daun coklat yang jatuh. “Ini kan bukan musim semi?”
Seketika kepalanya seperti terhantuk sesuatu. Seperti disambar
petir. Dengan buru-buru ia mengeluarkan daun laminating temuannya dari tasnya.
“Akh! Mana benda itu??” Omelnya kepada dirinya sendiri.
“Akh! Aku tidak dapat menemukannya!” akhirnya dirinya duduk
di kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ini dia! Ketemu kau daun tengil!” Ucapnya. Lalu diraihnya
daun itu dan mencocokannya dengan daun sekitar.
“Tepat seperti dugaanku! Ternyata daun ini berasal dari
taman ini!”
Segera dirinya memfoto kedua daun dan mengirimkan gambar itu
kepada seseorang.
TO:xxx
Lihat Oppa! Lihat ini! Ini dua daun yang sama bukan? Jawablah Oppa~ ini
penting! Kau kan jenius!
FROM:xxx
Ne. benar itu sama. Memangnya ada apa adikku? Oppa dalam perjalanan ke
sana. Sebentar lagi Oppa sampai. Kau ada ditaman itu ya? Oppa akan datang
sebentar lagi, oke? Oh ya, kau ingin meminta bantuanku untuk membantumu dengan
namja yang bernama Oh Sehun itu kan? Tenang oppa akan membantumu.
Yujin tersenyum melihat pesan orang itu. “Dia masih
mengingatnya. Hehehe.. Baiklah. Oh Sehun, lihat saja nanti! Kau pasti akan
mengemis-ngemis cinta kepadaku!!!” smirk terlukis di wajah Yujin. Segera dirinya
berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya sambil menunggu Oppa nya.
***
“Sehun kemana?” Tanya Rin yang baru saja bangun tidur.
“YA! Kau ini! Sehun saja Sehun! Kau membuatku kecewa Park
Hwa Rin!” Jae Mi menggembungkan pipinya dan itu membuatnya tampak imut. “Tentu
aku menanyakannya. Aku tidak melihat sosoknya disini. Hahah.. Kan sekarang ada
yang menggantikannya bukan? Jae Mi-ah~”
Jae Mi terkekeh geli mendengar suara imut sahabatnya. “Iya
iya. Oh ya, kau katanya mengingat sesuatu?”
“Kata siapa?”
“Siapa lagi kalo bukan si Ice Prince Nona Park.”
“Oh..Oh.. Itu.. Aku mengingatmu yang duduk disampingku lalu
Sehun yang duduk didepanku.” Rin tersenyum menunjukan deretan giginya yang
putih.
“Hanya itu?”
“Tentu! Segitu saja sudah sangat sakit! Bahkan aku menangis
tadi! Ck. Aku belum berterima kasih kepadanya.” Jae Mi tersenyum mendengar
penuturan sahabatnya. “Kau menangis? Di depan Sehun? Ya ampun! Kau ini tidak
malu?”
“Untuk apa malu? Toh, memang benar-benar sakit.”
“Kau.. tidak ingat masa lalumu? Maksudku ketika kau kecil? Tidakkah
kau ingat sesuatu?” Tanya Jae Mi.
“Mwoya~ segini saja sudah sakit. Lebih baik aku tidak ingat
masa lalu jika begini terus sakitnya. Lagipula tidak ada yang berharga.”
Ucapnya yang membuat Jae Mi menganga. “Tidak berharga katamu? Justru itu adalah
ujung dari permasalahanmu saat ini Rin-ah! Kau harus mengingatnya bagaimana pun
juga. Sudahlah. Aku ingin ke kamar mandi dulu.”
“Apa-apaan sih dia? Mengapa seperti sudah menjadi 10 tahun
lebih tua sekarang.” Rin menggerutu sendiri.
Rin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi appa, eomma,
dan adikknya yang sedang pergi keluar sebentar dan berbincang dengan dokter.
“Mengapa tidak diangkat?” Ucapnya. Lalu jemarinya menekan
tombol pemanggil yang langsung menghubungi namja yang bernama Oh Sehun.
“YA!kau meninggalkanku, eoh?”
“…”
“Eh? Jinnja? Mian. Ne. arraseo.”
“…”
“Ne.”
“…”
“Keuno.”
Rin menutup telefonnya dengan Sehun. Namja itu bisa sibuk
juga rupanya.
CEKLEK!
“Oh? Nuguseo?” Rin menatap namja asing yang memasuki
kamarnya.
“Adakah yang bernama Sehun?” Ucap namja itu. Segera Rin
mengerjapkan matanya. Jelas-jelas hanya ada dirinya sendiri di sini. “Tidak
ada.” Ucap Rin datar. Ia tidak pernah melihat namja ini sebelumnya. Yang pasti
dirinya tampak sudah dewasa.
“Oh kalau begitu, apakah kau yang bernama Park Hwa Rin?”
Tanya namja itu dengan senyumnya yang manis. Rin memandangnya heran. “Bagaimana
kau tahu itu namaku?”
“Tentu saja aku tahu, calon tunanganku.”
“MWOO??!!”
-TBC-
Mian di TBC. Part 2-END nya gk lama kok. Sesuai inspirasi
datengnya kapan sih. Tadinya ini mau oneshoot eh pas diliat kerangka ceritanya
kayanya kepanjangan deh.. segini aja udh 17 page. Jadilah Two Shoot gk lebih dan gk kurang #jualan? . Yang pasti part 2 kan chapter terakhir, jadi banyak konflik
disitu. Apalagi ada anak baru(?) di FF ini.. Castnya bertambah.. Bye Bye oke? Jangan Plagiat, copy tanpa izin,
RCL dibutuhkan ^_^ gomawo..



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan Jejakmu! Hargai karya anak bangsa!