FF EXO and GOT7: Hate You or Love You (Chapter 3)
Hate U or Love U??
(Chapter 3)
Author :Park Hwa Rin, @KintanHA
Title :
Hate U or Love U?
Main Cast : Kim Joonmyeon/SuHo (EXO-K)
Shin Neul Ah (OC)
Other Cast : Jung Hyo Hoon (OC)
Lim Jae Beom/JB (GOT7)
Luhan (EXO-M)
Genre :
School Life, romance, friendship, comedy(?)
Rating : Teen
Length :
Chaptered
A/N :
Annyeonghaseo! Aku balik lagi dengan FF ke-2 yang aku post di blog pribadi ini.
Masih belajar juga sih. Oh ya, FF ini kupersembahkan untuk partner-ku Sophia
yang juga fans SuHo. Terima kasih kalian udah mau nyempetin baca FF GaJe ini
lagi. FF ini 100% dari pemikiran author. Cast punya orang tuanya dan Tuhan.
Kecuali cerita ini milik author. Tinggalkan komentar please. DON’T COPAS AND
DON’T BE A SILENT READERS PLEASE! Typo berterbangan. Cast bertambah lho~ Enjoy
^ ^
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Author POV
Neul Ah dan Joonmyeon memandang
kosong orang tua mereka masing-masing yang sedang bahagia. Hingga akhirnya Neul
Ah tidak tahan lagi,
“Bukankah ini sebuah kesalahan?
Perjodohan? Atas dasar apa?” Neul Ah menatap tidak percaya orang tuanya. “Atas
dasar mempererat hubungan kami. Lagipula, bukankah kalian sahabat dari kecil?”
Ucap appa Neul Ah yang dibalas tatapan heran Joonmyeon.
“Kami baru SMA.” Akhirnya Suho
bersuara. Neul Ah menatap tajam kearahnya. Walaupun dia sendiri lega karena
Suho menentang hal ini juga.
“Ini hanya perjodohan. Bukan berarti
kalian harus cepat-cepat menikahkan?” Neul Ah melongo tak percaya dengan
perkataan Tuan Kim yang sungguh sangat menyebalkan itu.
“Mengapa kalian melakukan ini?” Suho
kembali bersuara. Orangtuanya saling melempar pandang. “Bukankah tadi sudah
jelas?” Orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan maksud dan tujuan ucapan
dari Suho.
Hingga saatnya makan malam dimulai.
Tidak ada suara sama sekali yang keluar dari mulut mereka ber-6. Hanya sebuah
suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Neul Ah sama sekali
tidak berselera makan. Padahal tadi sebelumnya dirinya sangat kelaparan dan
ingin cepat-cepat makan. Suho memandang piring Neul Ah yang masih belum
tersentuh sedikitpun.
“Kau tidak makan?” Suho seolah tidak
peduli menanyakan dengan santainya. “Aku sedang tidak berselera.” Neul Ah
menjawab pertanyaan Suho dengan sangat lemas. “Jika kau ingin menentang ini,
bukankah kau membutuhkan energy?” Suho berbicara kepada Neul Ah. Neul Ah hanya
menghembuskan nafasnya. “Yah..” Akhirnya Neul Ah mulai memasukan makanan yang
berada di sendoknya.
“Ka-kalian menentang ini? Kenapa
kalian-..”
“Kami tidak menentangnya. Hanya
membutuhkan waktu.” Suho menjawabnya karena takut salah satu dari kedua orang
tuanya ataupun orang tua Neul Ah akan terkena serangan jantung.
“Baiklah. Kami mengerti.” Ucap eomma
Suho dengan tersenyum. “Tapi jangan terlalu lama juga.” Lanjut eomma Neul Ah
dengan senyumannya. “Ne.” Suho dan Neul Ah menjawab dengan senyum penuh
paksaan.
######################################
“MWOO???!!!” Teriakan Hyo sangat
membuat pagi hari yang indah ini menjadi kacau. JB menatap tajam reaksi Hyo
yang memang terkadang sangat berlebihan.
“Yah, kau bisa berteriak seperti itu.
sedangkan kami tidak bisa melakukannya.” Neul Ah berkata dengan nada yang
sangat datar. “Eh? Tidak bisa?”
“Kami mau tidak mau menerimanya. Tapi
kami akan memikirkan kembali bagaimana agar hal ini bisa batal. Kalian mau
membantu kan?” Suho menatap penuh harap ke arah Hyo dan JB. Hyo dan JB memasang
ekspresi ragu mereka dan saling lempar pandang.
“Bagaimana ya???” Hyo
menggaruk-garukan belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.. tatapan
ragu terpancar jelas dari wajahnya dan sorot matanya. “Aku ingin. Sangat ingin.
Tapi…” Kata-kata Hyo terputus. Dibenaknya dia berpikir, ‘Memang sudah
sepantasnya anak dua ini disatukan!’ tapi ada juga yang mengatakan, ‘Kasihan
sekali. Ini kan abad ke-21. Masih musim kah perjodohan??’
Hyo berpikir keras. JB yang
disebelahnya hanya memperhatikan tingkah laku Hyo dengan bingung. “Kau
bagaimana?” Tiba-tiba Hyo bertanya seperti itu kepada JB. “Apanya?” JB menjawab
dengan tampang polosnya. “YAA! Lim Jae Beom! Apakah kau mendengarkan??” Hyo
membentak kecil JB yang seperti tidak ingin ikut campur dan tidak ingin
memiliki masalah apapun dibenaknya. “Oh itu, aku sih mau saja.” Ucapnya pada
akhirnya. Suho dan Neul Ah dengan gembira bersorak ria dan memberi high-5.
“Kalian serius?” Ucap Neul Ah kepada Hyo dan JB dengan seksama. “Iya. Tentu.”
Ucap JB tersenyum. Hyo hanya tersenyum ragu menanggapinya. “Iya kan?” JB
menyikut lengan Hyo yang masih saja mengeluarkan ekspresi ragunya. “Oh oh
iya..” Hyo berusaha tersenyum.
“Terima kasih. Oh ya… Omong-omong,
kau Joonmyeon menyingkir dari tempat duduk Hyo!!” Neul Ah menendang-nendang
kursi Hyo yang dari tadi di duduki oleh Suho. “Arrasseo!” Suho berdecak dan
segera mengusir Hyo yang juga duduk dikursinya.
Tiba-tiba ponsel Hyo bergetar.
Diraihnya ponselnya dari kantong blazer seragam sekolahnya.
From: JB
“Bagaimana? Kita hanya
jawab iya saja. Lagipula kita juga membantu yang mana? Memisahkan mereka atau
menyatukan mereka? Kita kan tidak bilang dengan pasti kita akan membantu untuk
memisahkan mereka, kan? Bisa saja kita setuju untuk menyatukan mereka..
Kekekekeke~”
To: JB
“WWAAA!!!! Bravo!!! Kau
memang jenius superr!!! Baiklah, aku akan membantu mereka, walaupun tidak tahu
harus memisahkan atau menyatukan.. Kekekeke~”
Hyo tersenyum senang melihat rencana
dari JB. “Aku akan berusaha yang terbaik.” Ucapnya kepada Neul Ah dan Suho dan
senyuman mengembang di wajahnya. JB hanya tersenyum geli melihat tingkah laku
Hyo yang menurutnya konyol.
Pelajaran segera dimulai. Cha
Seongsangnim memulai pelajaran Matematikanya dengan serius.
“Oh ya? Jadi kalian akan merahasiakan
hal ini?” Tanya Hyo disela-sela pembelajaran. “Ng. Hanya kau dan JB yang
diberitahu. Jaga rahasia, ne?” Neul Ah memberikan kelingkingnya dan membuat Hyo
mengaitkan jari kelingkingnya juga dan menyatukan kedua jempol mereka.
“Jarimu
panjang sekali.” Ucap Neul Ah membandingkan jari tangan mereka. “Benarkah? Wah,
aku ada bakat di gitar dan piano nih..”Hyo tersenyum ke arah Neul Ah.
“Benarkah? Kau bisa minta ajari JB tentang piano.” Neul Ah mengangguk-anggukan
kepalanya dengan yakin.
“Memang dia bisa?” Hyo seakan tersadar dengan perkataan
Neul Ah. “Tidak tahu. Hihihihihi..”
“Shin Neul Ah! Jung Hyo Hoon!”
tiba-tiba Cha seongsangnim sudah ada dihadapan mereka berdua. Sebuah buku yang
sangat tebal akhirnya sampai juga di kepala keduanya dengan kecepatan sedang.
“Aww!”
“Tidak bisakah kalian fokus? Sekarang
kerjakan nomor 4 dan 5!” Cha seongsangnim berkata dengan santainya. Hyo dan
Neul Ah melihat ke arah buku paket dihadapan mereka.
“Di papan tulis, saem?” Tanya Hyo
dengan tampang polosnya. “Ne.” Ucap guru itu secara singkat dan jelas yang
membuat kepala Hyo pusing bukan main.
“Tapi satu soal ini saja memerlukan
satu papan tulis, saem.” Hyo penuh selidik melihat ke arah buku paketnya.
“Kalian bisa mengerjakannya bergantian! Jangan banyak alasan!” Cha seongsangnim
memandang Hyo dan Neul Ah dengan kedua alis yang terangkat.
“Hayo.. Hayo.. Maju tuh!” Suho
mendorong-dorong bahu Hyo pelan. “Majulah. Kau kan pernah mengajarkan ini
kepadaku bukan?” Suho semakin memanas-manasi Hyo yang masih terpaku dengan
panjangnya soal yang akan dikerjakannya.
“Ck. Masa begini saja kau tidak
bisa?” JB ikut bersuara yang dibalas sautan “WWWUUUUU” dari teman-teman yang
lainnya. “Aish!!” Hyo akhirnya maju dan mulai menorehkan tulisan-tuisan dan
angka yang dia kerjakan dengan seksama.
JB tersenyum kecil melihatnya. Entah
apa yang dimaksud dengan senyumannya itu. “Wah, dia mengambil nomor 5 dan
menyisakanku nomor 4. Padahal nomor 4 jauh lebih mudah..” Neul Ah berbisik
dengan memundurkan kepalanya ke arah meja JB dan Suho. “Itu karena dia baik dan
mendahulukan sahabatnya.” JB berkata dengan datar tetapi Neul Ah dan Suho
menatapnya tidak percaya.
“Jangan memandangku seperti itu.” JB
yang merasa tidak enak memandang tajam kedua orang yang akan dijodohkan itu.
“Kucolok mata kalian baru tahu rasa.” Ucap JB yang masih dibalas dengan tatapan
Neul Ah yang penuh dengan kata-kata. “Bagaimana rasanya? Strawberry? Leci?
Coklat? Atau Durian??” Neul Ah berusaha menggoda JB dan menampilkan smirk
andalannya. Namja itu mulai risih dengan tingkah laku Neul Ah. “Diamlah.”
“Sebenarnya, ada apa antara dirimu
dan Hyo?” Suho bertanya dengan penuh harap. JB memandang punggung Hyo yang
tertutupi rambut panjangnya itu dengan tatapan datar. “Tidak ada.” JB
mengeluarkan kata itu dengan datar dan membuat Neul Ah dan Suho semakin curiga.
“Benarkah? Oh iya, anak kelas sebelah
menyukai Hyo lho..” Neul Ah memulai ceritanya. “Hyo pernah bilang seperti itu
padaku. Tapi dia bingung harus menjawab apa. Sampai saat ini juga belum pernah
dijawabnya. Dan juga, setiap pagi pasti ada saja surat dari ‘Secret Admirer’
nya yang banyak berada di lokernya. Wah, dia sangat popular bukan?”
“Lalu apa peduliku?” JB membuang
mukanya ke arah lain. “Jika secret admirer sih aku juga punya.” Ucap JB yang
entah tujuannya untuk apa. “Kau kenapa marah begitu? Biasanya kan kau selalu
menjawab dengan singkat. Kenapa kau juga tidak mau kalah?” Suho bertanya untuk
memastikan arti dari kata-kata JB barusan. “Tidak apa-apa. Keunyang…” JB
menggantung kalimatnya.
“Keunyang apaan?” Neul Ah bertanya
tidak sabaran. “Sebenarnya aku-..”
“Hei.. Aku sudah selesai! Giliranmu
Neul Ah.” Hyo dengan senyum menegur Neul Ah. “Wah kalian sedang membicarakanku
ya? Hohoho..”
“Cih.” JB menatap tajam Hyo dan Hyo
juga menatapnya tajam. “Lihat! Aku bisa mengerjakannya!”
“Ya sudah.” Ucap JB dengan dinginnya.
“Ada apa dengannya?” Tanya Hyo kepada Suho dan Suho hanya menaikan bahunya.
“Tadi, dia kentut tapi tidak mau
mengaku. Jadilah marah.” Bisik Neul Ah ditelinga Hyo ketika hendak ke papan
tulis. “Tidak ada ubi di menu makanan deh..” Hyo menelengkan kepalanya dan
duduk dibangkunya dan secara serius mencatat apa hasil yang akan dituliskan
oleh Neul Ah.
Dibelakangnya, JB memandangnya
sekilas lalu beralih ke buku paketnya lagi. suho yang secara tidak sengaja
melihat tingkah JB tersenyum penuh arti.
“Wawawawwawah..” Gerutunya dan tetap
dengan senyum yang lebar.
################################
Sport Time!!!
Kelas mereka sedang berada di
lapangan sekolah mereka. Yah, katanya sih akan praktek pengambilan nilai
begitu. Satu per satu murid menunjukan kebolehannya tentang apa yang harus
dilakukan olehnya.
Hyo memegang buku absen dan sedang
mengabsen mereka satu per satu. Dilihatnya ke arah lapangan yang sangat panas
itu. Terdapat para sunbae dari kelas 12 sedang berolahraga juga. Itulah
sebabnya yeoja-yeoja disini sedang berteriak tak karuan memandang para sunbae
yang cukup terkenal itu.
Ketika sedang menundukan kepalanya,
Hyo dipanggil oleh Neul Ah. Seketika itu pula bola untuk bermain sepak bola
mendarat dengan kencang dan lurus ke arah matanya.
“AWW!” seketika pandangan mata
tertuju ke arah Hyo. Semuanya tampak terperangah dan syok. Hyo tidak bisa
melihat apapun. Matanya seketika buram dan hanya dapat melihat kontras cahaya
yang gelap ataupun terang. matanya juga sangat sakit bukan main. Neul AH
berusaha menanyakan keadaannya.
“Hyo!!! Gwaencanha???” Tetap saja Hyo
tidak bisa konsentrasi dengan pendengarannya. Seketika itu juga guru olahraga
mereka datang dan mengusap dahi Hyo. Dalam hati Hyo berkata, ‘Memalukan!!!
Kenapa saem malah mengusap dahiku?? Jelas-jelas mataku yang terkena!!!!’
Suara tertawaan kecil tertangkap di
pendengaran Hyo. Suho dan JB memandang kejadian itu dengan panic.
“Gwaencanha?” Orang atau pelaku yang
menendang bola itu berkata demikian.
HYO POV
Sial sekali hari ini. Mataku sakit
sudah jelas nanti pasti lebam!!!
“Gwaencanha?” Hah? Siapa itu? suara
namja. Belum pernah kudengar sebelumnya. Aku mencoba menatapnya. Hanya rintihan
yang keluar dari mulutku. Akupun tidak dapat melihatnya denga jelas. Tatapan
mataku sangat buram. Yang kuyakini namja itu memakai kaos abu-abu dan cukup
tinggi.
Seketika suara sorakan terdengar.
Jelas-jelas mereka menyindirku! Aku tidak bisa berbuat apapun. OMO! Disaat
seperti ini dimana para sahabatku??
“Ne. Gwaencanha.” Ucapku pada
akhirnya dan sebenarnya aku ingin mengatakan, “Mwo? Kau pikir aku baik-baik
saja? Tidak punya mata ya? Kau menendang bola itu ke arah mana? Pakai matamu!!”
Harga diri. Harga diri. Aku sangat
malu. Daripada panjang, lebih baik kuhentikan sampai disini saja dengan
memendam diriku yang sebenarnya. Aissh! Ini memalukan!
Lalu aku tidak mendengar apapun lagi
yang keluar dari mulut namja itu. kucoba membuka mataku. Pandanganku kembali
walaupun sedikit buram. Kulihat saem memberikan bola itu kepadanya dan dia
pergi begitu saja.
YAA!!!!! Dia tidak meminta maaf!!!!!
Aku hanya menatap punggung tingginya itu yang berjalan menjauhi tribun ini.
Hah! Siapa dia?! Tidak peka sama sekali!!!
Aku mengalihkan tatapanku ke arah JB
dan Suho. Suho nyengir kuda. Aku menatap JB tajam. Dia terdiam. Seketika
itupula dia tersenyum. Dia tidak menertawakanku? Aku menatap dirinya kosong.
Dia hanya terdiam dan tersenyum kecil melihat ke arahku. Entah mengapa aku
merasa JB tidak ikut-ikutan bersama yang lainnya. Dia berbeda. Hanya dia yang
menatapku seperti itu. dan hanya dia pula yang tersenyum ke arahku. Halisnya
dan wajahnya sangat bagaimana ya aku menjelaskannya? Dia hanya tersenyum
sajalah! Disampingnya terdapat Suho yang wajahnya merah karena tertawa! Aku
mengarahkan pandangan laserku dan berharap dia berhenti menertawaiku. Tapi
ternyata tawanya semakin keras.
Aku melihat Neul Ah. Tangannya merah.
Kurasa dia juga terkena bola itu walaupun sudah terlebih dahulu mengenai
mataku. Aku menatap ke arah lapangan. Namja yang memakai kaos abu-abu. Yah, dia
sedang lari-lari tak karuan dengan teman sekelasnya. Aku tidak melihat wajahnya
dengan jelas.
“Kau kenapa tadi?” Neul Ah dengan
cemas menanyakanku. “Kau pikir aku menginginkan hal ini?” Aku balik bertanya.
“Kukira iya. Banyak yeoja yang iri terhadapmu tuh..” Neul Ah melihat ke arah
yeoja-yeoja disampingku. Aku ikut melihat ke arah pandangan matanya. Dan benar
saja mereka sangat lesu. “Padahal tadinya mereka menertawakanmu. Setelah tahu
namja itu siapa, mereka diam beribu bahasa.”
“Memangnya namja tadi siapa?” Tanyaku
kepada Neul Ah. “Dia sunbae favorit.” Jelas Neul Ah singkat sambil
memperhatikan namja itu. “Dia seperti apa?” Aku menanyakan hal itu kepadanya.
“Hmmm.. Kulitnya putih. Model rambutnya keren. Tubuhnya cukup tinggi dan kurus.
Bahkan dia memakai kaos abu-abu. Dan jelas dia menyukai futsal dilihat dari
tendangannya tadi. Kupikir dia sangat tampan.” Neul Ah menjelaskan sambil
tersenyum ke arahku. “Kau memangnya tidak melihatnya?”
“Tidak. Pandangan mataku buram
sekali. Aku tidak bisa melihat dengan jelas.”
“Lalu kau menyesalinya?” Tanya Neul
Ah dengan nada bercanda. “Iya.” Jawabku sambil tertawa juga.
Aku mengalihkan pandangan mataku ke
arah deretan tribun di hadapanku. Kulihat ada Bam Bam dan Youngjae. Kedua sohib
tak terpisahkan itu melihat ke arahku dengan smirk andalan mereka. Apa-apaan
ini??
“Gwancanha?” Youngjae berperan sebagai namja.
“Ne. Gwancanha~ Uh Ah~ Gwancanha~ Aku
pusing.” Bam-Bam menjawab dengan nada menggelikan dan memerankan diriku!
“Sini aku bantu.” Ini jauh berbeda!
Mereka mereka ulang adeganku tadi!
Aku melihat drama lebay dan alay singkat mereka. Sungguh berlebihan. Persis
kejadiannya seperti tadi hanya saja sangat sangat berlebihan. Mereka melakukan
hal itu berulang kali. Seisi kelas terhibur karenanya. Aku sangat malu. Kuyakin
mukaku sangat merah saat ini.
Mereka melakukannya juga ketika namja
misterius itu lewat memutari lapangan. Didepan namja itu mereka melakukannya!!!
GOSH!! Kulihat namja itu biasa saja dengan sindiran Bam-Jae. Aku rasanya ingin
segera menghilang dari tempat ini.
Yang ditunggu-tunggu datang juga.
Pelajaran hari ini selesai. Aku mengganti pakaianku. Saat di ruang ganti, aku
merasakan sakit di mata kiriku. Tepatnya yang terkena bola tadi. Aku melihat ke
cermin yang berada tergantung di luar sisi kamar mandi wanita. Aku menelusuri
tiap lekuk mataku. Benar saja. Terdapat garis biru dibawah mataku. “Aissshh!!!”
Mataku lebam.
“Kau kenapa?” Tanya Neul Ah. Aku memasang
wajah cemberutku ke arahnya. “Mataku lebam.” Neul Ah sama sekali tidak cemas.
Dia hanya tertawa. “Kenapa tertawa?!”
“Wah~ Hyo! Kenapa?” Tanya Choi
seongsangnim –guruolahragatadi- . “Mataku lebam, saem.” Choi soengsangnim hanya
terkekeh lalu berlalu begitu saja menghilang di tangga. “Kenapa kalian malah
tertawa???” Tanyaku sambil cemberut. “Karena tadi hal yang lucu tahu.” Neul Ah
mendahuluiku menaiki tangga. “Tunggu aku!” Aku berteriak karena Neul Ah pergi
dengan cepat.
################################
AUTHOR POV
Hyo dan Neul Ah berjalan di koridor
kelas. Mereka terpaksa melakukan rekapan hasil nilai praktek olahraga tadi dan
membawanya ke ruang guru.
“Bagaimana tanganmu?” Tanya Hyo
kepada Neul Ah. “Gwaencanha. Tidak separah matamu. Hahaha..” Neul Ah tertawa di
sepanjang koridor. “Jangan tertawa! Jangan mengingatkanku lagi akan kejadian
tadi!” Neul Ah hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar perkataan Hyo.
“Kau mau ikut masuk?” Mereka sudah
berada di depan ruang guru. “Tidak kau saja.” Hyo menolak penawaran dari Neul
Ah. Ketika Neul Ah masuk, Hyo memejamkan matanya dan mencoba melupakan hal ini.
Pasti dirinya akan di gossipkan esok hari.
“Permisi.” Seorang namja mengatakan
hal itu kepada Hyo yang menghalangi pintu masuk ke ruang guru. Hyo hanya
menyingkir saja. Namja itu tadi baru berlari. Baju seragamnya basah oleh keringat.
Nafasnya juga tidak beraturan. Hyo memandang namja itu dengan penuh selidik.
Namja itu merapikan baju seragamnya, menarik nafas, lalu masuk ke ruang guru.
Hyo hanya melihat wajah namja itu dari samping. Siapa pun juga tahu namja itu
dengan tampangnya yang mudah dikenali. Hyo berpikir keras dan berusaha
mengingat suara, dan postur namja yang sudah masuk tadi. Hyo seperti mengenali
namja itu. tapi dirinya tidak yakin, karena tidak mungkin namja itu yang menendang
bola tepat ke arah matanya tadi. Karena namja yang masuk tadi adalah Luhan.
Salah satu namja popular di sekolahnya. “Tidak mungkin dia namja menyebalkan
bola tadi. Ck. Banyak juga bukan namja yang memiliki suara sepertinya dan
postur sepertinya?”
“YA!” Neul Ah mengagetkan Hyo yang
termenung. “Kau memikirkan apa??” Tanya Neul Ah dengan serius. “Tadi. Namja
pabo bola itu. kau yakin dia anggota kelompok namja popular? Siapa namanya? Kau
mengenalinya?”
“Wah.. kau tertarik ya? Tidak aku
tidak mengenalinya. Aku kan tidak hafal nama anggota kelompok Pop Nam (Popular Namja). Yang kuyakini dia salah
satunya. Memangnya kenapa?” Neul Ah mengangkat kedua alisnya. “Ani.” Hyo
tersenyum. “Kajja!” Hyo mengajak Neul Ah untuk pulang. Entah kenapa Hyo merasa
penasaran dengan namja yang sudah membuat mata kirinya lebam itu.
Malamnya, Neul Ah diajak makan malam
lagi dan lagi oleh keluarga Suho dengan mendadak. Neul Ah hanya mengikuti
keinginan kedua orang tuanya sembari memikirkan hal mengejutkan apa yang akan
dilakukannya nanti. Neul Ah memasuki rumah Suho dengan lesu dan dengan tatapan
datarnya. Suho dan orang tuanya sudah menunggu di meja makan. Suho juga
memandang Neul Ah dengan malas. Tentu saja mereka berdua sangat malas.
“Kalian sudah sampai?” Tuan Kim
tersenyum melihat Neul Ah dengan kedua orang tuanya. “Maaf kami terlambat.”
Eomma Neul Ah tersenyum menanggapi ucapan Tuan Kim. Neul Ah menatap Suho
sengit.
“Kau lama sekali.” Itulah kata-kata
sambutan dari Suho untuk Neul Ah yang duduk dihadapannya. “Kalian sudah akrab?”
Serentak semua menatap mereka berdua secara bergantian karena ucapan Nyonya Kim
tadi. “Tentu. Kami kan bersahabat.” Suho tersenyum terpaksa karena ucapan
eommanya sendiri. Neul Ah tersenyum sangat kaku.
Akhirnya acara makan malam dadakan
itu berlangsung. Kedua belah pihak tak berhenti-hentinya membicarakan
perjodohan kedua insane yang saling membenci satu sama lain itu. suho dan Neul
Ah tidak berkata apapun. Mereka hanya pasrah dan sibuk dengan pikiran
masing-masing.
Bagaimana caranya agar hal ini batal dan mereka dapat menikmati
hari-hari mereka seperti sedia kala. Suho member isyarat kepada Neul Ah ke arah
pintu beranda. Tanpa izin, Suho dan Neul Ah ‘kabur’ dari meja makan tersebut.
“Hah! Kepalaku pusing!” suho memandang
pemandangan malam yang sangat indah bertaburi cahaya-cahaya lampu yang tidak
ada matinya di Seoul dan bintang-bintang dilangit. “Mereka tidak bosan apa?”
Neul Ah mendecakkan lidahnya. “Kenapa kau lama sekali? Aku hampir saja disuruh
untuk menjemputmu.” Suho berceloteh. “Menjemput? Benarkah? Padahal tadinya
ingin aku lama-lama kan lagi. baguslah.” Neul Ah menjawab dengan malas.
“Apa rencanamu?” Neul Ah bertanya
kepada Suho. Seketika Suho berpikir. “Bagaimana jika kita bilang bahwa kita ini
memiliki pasangan yang lain??” Ide bodoh dan tidak mungkin itu melintas begitu
saja dipikirannya. “Hah? Itu tidak mungkin!” Neul Ah memandang cemas karena
dirinya tidak pandai mencari namja.
“Ah! Bagaimana jika kita ber-4
merencanakan aksi tabrakan. Lalu entah kau ataupun aku ditabrak oleh mobil
secara bohongan. Lalu kemudian aku atau kau yang tertabrak pura-pura koma untu
beberapa hari. Setelah itu kau sadar dan mengatakan bahwa ingatanmu
hilang????????” Sebuah kepalan tangan mulus menjitak kepala Suho. “Kenapa
memukulku? Itu ideku tahu.”
“Tempe. Bagaimana jika kita berdua
diculik secara bohongan. Lalu sang penculik menghubungi keluarga kita dan
mengatakan bahwa jika kita bersama, salah satu perusahaan milik keluarga kita
akan hancur. Dan karena pasti orang tua kita menyayangi kita, mereka tidak akan
membiarkan kita bersama. Beres sudah.” Neul Ah bertepuk tangan sendiri.
Disampingnya Suho tampak bingung. “Boleh juga.”
“Kita akan membicarakan
gagasan-gagasan kita ini kepada Hyo dan JB besok.”
“Setuju!”
####################################
“MMMWWWWOOO?????!!!!” Ekspresi yang
sama seperti kemarin ditujukan kepada Neul Ah dan Joonmyeon oleh Hyo. “Kalian
sudah gila?” Hyo lemas seketika. Dirinya menatap Neul Ah yang duduk
disampingnya. “Tidakah ini sedikit ekstrim?” JB ikut bersuara dan mengalungi
earphonenya ke lehernya. “Tidak ada cara lain. Hayolah… bantu kami!” Neul Ah
merengek sambil memegangi lengan Hyo. Hyo menatap JB cemas. JB menatapnya balik
lalu menghembuskan nafasnya. “Baiklah. Kami akan membantu.” Ucap JB pada
akhirnya. Hyo tidak bisa berbuat apapun. Karena apa yang dilakukan JB pastilah
yang terbaik.
“Benarkah? Gomawo.” Neul Ah
mengelus-elus kepala Hyo. Hyo membulatkan matanya dengan aksi abnormal Neul Ah.
Neul Ah segera menghentikan kegiatannya dan berusaha mengalihkan topik
pembicaraan, “Bagaimana matamu Hyo?” Neul Ah memperhatikan mata kiri Hyo yang
tidak terdapat lagi lebam. “Sudah lebih baik.”
“HAHAHA!!! Matamu lebam? Karena
terkena bola itu? HAHAHA!!” Suho dengan tawanya cukup untuk menarik perhatian
siswa/I dikelas. Bam-Jae dengan segera mereka ulang adegan lebay nana lay itu
didepan kelas. Wajah Hyo merah padam karena malu.
“Diamlah.” Tatapan sengit Hyo sampai
kepada Suho. Lalu seketika Hyo melemparkan kota pinsilnya ke tubuh Suho tapi
Suho dapat menghindarinya dan semakin tertawa dengan keras.
“HAHAHA!!! Kapan
lagi ada adegan seperti di drama selama tahun pembelajaran kita??” Ucapnya yang
disambut tertawaan dari murid namja lainnya. Para yeoja memicingkan matanya kepada
Hyo dan terlihat lesu. Mereka masih terganggu akan kejadian Hyo kemarin.
“Oh ya, Hyo! Aku tahu namja cute
itu.” Neul Ah bersuara. Joonmyeon segera menghentikan tawanya dan JB ikut
mendengarkan perkataan Neul Ah. “Siapa dia??” Tanya Hyo dengan penasaran
tingkat dewa(?)
“Namanya adalah~” Neul Ah sengaja
memanjangkan perkataannya agar ketiga BF nya ini semakin penasaran.
“Kau tahu bahasa cinanya rusa??”
Tanya Neul Ah. “Lu???”
“Lalu nama guru karate di sekolah
kita??” Lanjut Neul Ah. “Oh.. Han Seongsangnim.”
“Kurasa kau tahu bukan???” Neul Ah
bertanya demikian. Hyo mencoba menggabungkan jawaban yang dikeluarkan oleh
mulutnya sendiri.
“Lu-… Han???” Seketika Hyo
membulatkan matanya. “Be-benarkah dia orangnya??” Hyo tampak terkejut mendengar
nama itu. “Ne. Waeyo?” Neul Ah balik bertanya. “A-aniyo.” Hyo tersenyum dengan
menunjukan deretan giginya. ‘Dia yang kemarin masuk ke ruang guru…’ batin Hyo
memutar adegan ketika Luhan memasuki ruang guru kemarin.
“Hyo! Aku dan Suho sudah memiliki
cara untuk membatalkan dong!!!!” Ucap Neul Ah penuh kegembiraan.
“MMWWOOO????”
-TBC-
Yeay beres.. kalian pada nunggu??
Nggak ya??? Ya sudahlah.. semoga Sophia senang ya??? Okay.. Next chap silahkan
ditunggu okay, butuh perjuangan lho buat nyelesain ini.. Komentar kalian
juseyo.. dan di chap ini banyak tentang Hyo dan JB lho.. author sengaja jadi
kalian punya gambaran tentang cerita Hyo dan JB.. Makasih udah mampir dan membaja FF ini!!! ^ ^



Lanjutan ff Hate U or Love U-nya mana??
BalasHapus