FF EXO Home (Chapter 6)

HOME

Title                 : Home
Author             : Park Hwa Rin (@KintanHA)
Genre              : Family, Friendship, Life, Little Romance, little comedy, school life
Rating(s)         : G (Semua Umur asal bisa Baca ^ ^)
Cast                 : Park Clara (OC)
                          Byun Baekhyun (EXO-K)
                          Jang Eun Jeong (OC)
                          Han Jin Ri (OC)
Other Cast      : Find by Yourself ^ ^
Length             : Chaptered
A/F                  : Annyeonghaseo, Author kembali dengan FF EXO again. 
FF ini muncul begitu saja karena melihat berita di TV tentang anak di Panti Asuhan. FF ini 100.000.000.000.000 murni permikiran author. Maaf jika ada typo. Don’t COPAS, Don’t Plagiat, and Don’t be SILENT READER(S) *kacaubahasainggrisnya* . Cukup cuap-cuapnya. Enjoy~

################################ (Chapter 6)

Hujan yang membawa memoriku tentangnya.

Dan kupikir lagi, aku memang menyukainya.

Bagaimana denganmu Park Clara?

Author POV

Kita tidak bisa memilih orang yang akan disukai oleh kita. Cinta memang selalu datang dengan cara yang aneh. Kita hanya bisa menerimanya dan menjalankan sesuai kehendak yang telah diberikan. Kita tidak dapat menghindari perasaan yang namanya cinta. Kita juga tidak harus memiliki alasan yang cukup dan akurat untuk mengatakan bahwa kita telah jatuh cinta.
Cinta tidak memandang seseorang dari penampilan luarnya. Entah apa yang membuat kita tertarik. Ingat kata benci. Janganlah kau sekali-sekali bilang kata ‘benci’ kepada orang lain apalagi yang berbeda jenis kelamin. Karena benci itu Benar-Benar Cinta. Jadi apa yang harus kita lakukan? Author juga tidak tahu.. Keke..

Clara memasuki panti asuhan dengan wajah yang pucat pasi. Bibirnya juga sudah sangat pucat. Tubuhnya bergetar. Bahkan cara jalannya juga selayaknya robot sedang berjalan.

“OMO! Clara-ya!” Teriak ahjumma yang menunggu kepulangan Clara. Clara hanya tersenyum getir dan memegangi kepalanya yang sedikit pusing.

“Clara-ssi…” Suara berat terdengar di telinga Clara. Ah, ternyata ahjussi pemilik panti asuhan ini.

“Ah, ahjussi.” Clara mencoba untuk tersenyum dan membungkukan kepalanya.

Cha ahjussi berjalan mendekati Clara. Ahjumma segera pergi ke tempat dimana handuk berada.

“Park Clara.” Wajah Cha ahjussi berubah menjadi serius dan menatap mata Clara lekat-lekat. 

“Aku sudah memberitahu semuanya. Kau bisa pergi kapan saja.” Lanjutnya yang membuat Clara semakin pusing.

“Kapan saja? Kau bisa pergi? Ahjussi. Apakah kau mencoba untuk mengusirku?” Mata Clara tiba-tiba berkaca-kaca. Cha ahjussi tidak tahu harus berbuat apa. Bibir mungil Clara bergetar pelan.

“Kau benar-benar ingin aku pergi?” Clara memandang wajah Cha ahjussi sambil berkaca-kaca.

“Kau tidak tahu yang aku rasakan? Ini sangan mendadak. Aku bingung, ahjussi.” Air mata Clara tak dapat tertahankan. Aliran air mata itu semakin deras dan mata Clara tetap memandang Cha ahjussi dengan lekat.

“Clara-ya ada apa denganmu?” Tanya Cha ahjussi. Clara menutup mukanya dengan telapak tangannya. Dirinya pun menjadi duduk terjongkok dihadapan Cha ahjussi.

“Katakan kepadaku apa yang terjadi?” Cha ahjussi melembutkan suaranya dan ikut berjongkok dihadapan Clara. Lalu membawa tubuh basah Clara ke pelukannya. Di dekapnya Clara.

“Clara-ya. Sebenarnya…” Kalimat Cha Ahjussi terputus.

“Aku ini mengenal eomma-mu. Sangat mengenalnya.” Clara mendorong pelan Cha ahjussi yang kini menundukan kepalanya. Clara kembali berdiri, begitupula Cha ahjussi.

“A-apa maksudmu?” Clara kembali menatap Cha Ahjussi dengan pandangan herannya.

“Kau tahu namaku? Cha Jeong Gu.” Clara berpikir sejenak.


TESS..


Rasanya salah satu urat nadinya putus mendengar nama marga Cha Ahjussi.

‘Bodohnya aku.’ Runtuk Clara dalam hatinya. Clara tidak menyadari sebenarnya siapa Cha Jeong Gu atau Cha Ahjussi itu.

“A-aku. Kakak eomma-mu.” Cha ahjussi berbicara dengan pelan. Air mata Clara kembali mengalir. Sudah cukup dirinya merasakan rasa sakit dari kenangan masa lalunya dan sekarang sebuah rahasia yang tak kalah besar kembali terungkap.

“W-wae? Kenapa? Kenapa ahjussi? Kenapa begini!!!!” Clara teriak frustasi. Air matanya semakin deras dan membasahi kembali pakaiannya yang sudah kering.

Tas gitar yang dia simpan di kursi itu tiba-tiba jatuh begitu saja ke lantai dengan keras. Seisi panti asuhan keluar dari kamar masing-masing.

“Clara-ya?” Ahjumma menatap Clara sedih.

“Mianhae ahjumma. Maaf semuanya. Aku harus pergi.” Clara berlari ke arah kamarnya. 

Dimasukkannya pakaiannya seadanya. Dan tak lupa juga memasukan beberapa catatan pelajaran sekolah karena buku paketnya disimpan di loker miliknya di sekolah.

Dengan cepat Clara pergi ke depan pintu. Wajahnya sangat datar. Matanya sedikit sembap.
“Aku pergi.” Ucapnya singkat lalu mengambil gitarnya. Clara tidak tahu harus pergi kemana. Yang pasti, panti asuhan ini membuatnya lebih-lebih frustasi.

Dilajunya sepedanya. Langit malam Seoul sungguh sangat membuat sedikit hatinya damai.

Akhirnya, Clara tiba di depan rumahnya. Yah, sekarang dirinya harus menyebut tempat itu rumah.

“Clara-ya?” Kakeknya segera memeluk cucunya. Baru saja tadi Clara datang dan sekarang Clara datang lagi.

“Bolehkah aku tinggal disini?” Kakeknya segera mengangguk-anggukan kepalanya.

“Minwoo Oppa?” Tanya Clara mengedarkan kepalanya. “Dia belum pulang.” Jelas kakeknya.

Beberapa pelayan wanita di rumah yang besar itu membawa koper, dan gitar Clara ke kamar barunya. Sepedanya juga sudah dengan rapi disimpan di halaman belakang.

Clara sedikit ternganga melihat kamar barunya. Kamarnya seperti sebuah kamar besar yang berada di dalam drama-drama Korea.

Tapi ekspresi wajahnya tak menyiratkan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya sebuah tatapan sedih dan senyuman kecil.

Clara segera menghempaskan tubuhnya ke kasur. Clara berusaha memejamkan matanya dan berusaha untuk meluapkan amarahnya yang menggebu-gebu.

##############################

Author POV

Clara mengerjapkan matanya beberapa kali. Dirinya masih tidak percaya dengan keadaan sekelilingnya. Clara melirik jam sekilas. 5:30.

Clara langsung bergegas untuk pergi kesekolah.

Ketika Clara melihat dirinya di hadapan sebuah cermin di dinding kamarnya, Clara menatap pantulannya dengan ekspresi datar.

“Kau tidak salah Park Clara.” Ucapnya pelan dan lanjut menjalankan aktivitasnya.

6:00.

Clara segera turun ke meja makan. Disana sudah ada kakeknya dan Minwoo Oppa. Kakeknya tersenyum melihat Clara. Minwoo juga ikut tersenyum melihat Clara.

“Selamat pagi.” Ucap Minwoo singkat.

Mereka bertiga menyantap sarapan paginya dan sambil sedikit berbincang-bincang.

6:30.

“Clara-ya. Oppa pergi duluan.” Minwoo segera melesat untuk pergi bekerja. Kakeknya juga sudah sibuk dengan taman belakangnya yang rencananya akan diubah semenjak kedatangan Clara.

“Nona, anda akan diantarkan oleh supir setiap harinya.” Ucap kepala pelayan. Clara hanya tersenyum menanggapinya.

Clara memasuki mobilnya. Supir barunya menyapanya dengan ramah. Clara juga menanggapinya dengan ramah. Mobil mereka melesat pergi ke sekolah.

6:50.

Clara keluar dari mobil. Tentu saja mengundang banyak perhatian. Seketika itu pula wajah Clara berubah menjadi sangat datar. Clara memasuki gerbang sekolahnya seolah tak peduli dengan cibiran yang lainnya. Tapi sebenarnya, dia mendengarnya hanya saja dirinya terlalu lelah untuk menanggapinya.

Clara melewati koridor kelas XI seperti biasa. Dan seketika itu pula dirinya berpapasaan dengan kelompok Baekhyun.

Tapi Clara melanjutkan langkahnya dan melewati begitu saja kelompok itu. senyuman pun tidak ditampakan olehnya.

Baekhyun dan yang lainnya terheran-heran dengan sikap Clara yang tidak seperti biasanya.
“Hei. Ada apa dengannya?” Tanya D.O. Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa ada yang tidak beres, Sehun dan Kai membuntuti Clara.

“Mungkin ……” Perkataan Baekhyun terputus begitu saja. Chanyeol dan SuHo memukul pundaknya karena perkataan Baekhyun yang menggantung itu.

Clara berjalan dengan gontai ke kelasnya. Dibukanya permen lollipop yang ditemukannya tak sengaja di meja makan tadi pagi. Tidak ada rasanya. Clara mencoba mengemut dengan seksama tapi tetap tidak ada rasanya. Clara mengeluarkan permen itu dari mulutnya dan membuangnya ke tempat sampah yang kebetulan berada di sampingnya. Clara melanjutkan langkahnya ke arah kelasnya lagi. layaknya seorang detektif kelas bawah(?), Sehun dan Kai terus mengamati gerak-gerik Clara.

Melihat kejadian ketika Clara membuang permen itu membuat penasaran Sehun. Dibaginya tugas. Disuruhnya Kai yang tetap harus mengamati Clara, sedangkan dirinya mencoba melihat ke dalam isi tong sampah itu.

“Padahal permen itu sepertinya sangat enak.” Sehun menjilat bibirnya ketika melihat permen yang masih utuh tergeletak di dalam tong sampah itu. semakin dilihatnya lagi permen itu. akhirnya dengan penuh rasa percaya diri dan tanpa rasa malu, dirinya mengambil permen itu dari tong sampah. Menggunakan plastic yang dia minta dari orang yang melintas begitu saja dihadapannya tentu saja dengan memaksa. Orang tersebut adalah yeoja. Pastilah siapa yang tidak mau diminta seorang Oh Sehun pertolongan secara langsung. Mimpi apa coba itu orang malam hari sebelumnya?

“Kurasa tidak ada yang salah dengan permen ini.” Sehun memutar balikan permen yang berada di tangannya itu dan melihat secara teliti dan berharap menemukan sesuatu. Merasa tidak ada bukti yang didapat, dilemparnya kembali permen itu ke dalam tong sampah.

“Buang-buang makanan saja.” Ucapnya lalu merasa bahwa sekarang dirinya menjadi pusat perhatian. Sehun mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Setelah berdehem sebentar dan merapikan pakaiannya lagi, sikap cool yang kembali muncul. Bahkan dirinya jalan dengan wajah cool-nya itu begitu saja. “Aku jadi ingin makan permen.” Ucapnya sambil berlalu.

Kai tetap mengikuti langkah Clara ke arah kelas mereka. Clara duduk seperti biasa di tempat duduknya. Begitupula dengan Kai yang tatapan matanya tidak lepas dari Clara. Clara seolah tak peduli memakaikan headset ke telinganya. Beberapa murid di kelas itu mulai berbisik-bisik karena kehadiran Clara saat tadi datang. Kai tidak tahu tentang  kejadian itu. lantas dirinya mendekati sekelompok geng yeoja di kielasnya dan bertanya.

“Memangnya tadi pagi aku terlewat hal apa ya?” anggota geng itu saling berpandangan dan dengan wajah menor mereka, mereka menjawab pertanyaan Kai dengan jelas.

“Oh, tadi Clara datang diantar oleh supirnya. Sejak kapan anak semiskin dia punya supir?” Ucap salah satu anggota geng itu. kai membulatkan matanya dan tanpa basa-basi dirinya keluar kelas sambil berlari tak karuan dan bahkan menabrak beberapa siswa dihadapannya. Kai berlari secepat mungkin dengan langkah yang tergesa-gesa. Dirinya datang ke kelas Baekhyun, Suho, D.O, dan Chanyeol.

“Hyung!” Ucapnya keras dan membuat seisi kelas melihat ke arahnya.

Baekhyun memandang Kai yang terengah-engah dengan tatapan heran. “Ada apa denganmu?” Ucapnya yang membuat Kai harus menarik napas dalam-dalam dan meredakan detak jantungnya yang sangat keras.

“Kalian jangan kaget.” Ucapnya lalu kembali terengah-engah. “Kenapa?” Ucap Suho. Kai menghampiri tempat duduk para hyung nya itu. “Ta-tadi..” Kai masih berusaha mengatur napasnya. “Tadi apa?” Chanyeol tidak sabaran melihat tingkah Kai yang aneh.

“Ta-tadi pa-pagi..”

“HYUNGGG!!!”

Kata-kata Kai terpotong oleh teriakan Sehun yang sangat keras. “Hyung! Tadi Clara membuang permen ke tong sampah!” Sehun datang dengan langkah terseok-seok. “Memangnya kenapa? Mungkin dia tidak suka permen itu.” Ucap D.O dengan datarnya dan sama sekali tidak menaruh curiga.

“YA! Tadi aku sedang berbicara! Kau memotong ucapanku tahu!”

Kai memicingkan matanya dan menatap Sehun tajam. “Kau sedang berbicara apa? Sebentar, bukankah aku tadi menyuruhmu mengamati Clara di kelas? Kenapa kau ada disini?!” Sehun meninggikan suaranya di depan para hyung yang saling menatap heran.

“Mengamati?” Baekhyun memandang Kai dan Sehun bergantian. “Iya tadi kami sedang bermain detektif-detektifan bodoh.” Kai mendengus kesal dan menatap Sehun yang menunjukan wajah polosnya lagi.

“Kalian kenapa tidak mengajaku?” Chanyeol tiba-tiba bersuara yang membuat yang lainnya menatapnya heran. “Kau kan bisa mengajakku.” Ucapnya kepada Kai.

“Ada apa denganmu Chanyeol?” D.O bersuara ketika melihat tingkah Chanyeol yang ingin ikut bermain detektif bodoh itu. sehun, Kai, Chanyeol. Jadi apa peran detektif mereka jika mereka yang memerankannya? -_-

“Tidak. Aku kecewa pada kalian berdua.” Chanyeol melipat tangannya dan menyenderkan tubuhnya ke bangkunya.

“Baiklah. Jadi apa yang sedang kalian selidiki?” Ucap Suho yang membuat Kai dan Sehun menjawab serempak. “Clara.”

“Kenapa kalian menyelidikinya?” Lanjut Suho sebagai kepala dari kedua detektif tersebut. 

“Karena sifatnya aneh.” Ucap Sehun. “Dan kau Kai?” Kai menatap Sehun polos.

“Aku hanya mengikuti Sehun.” Suho menggelang-gelengkan kepalanya. “Ya sudah. Apa hasil kerja kalian?”

“Kau duluan saja.” Sehun menyuruh Kai membicarakan buktinya terlebih dahulu. “Tadi aku mengikutinya sampai dikelas kami. Tatapan matanya aneh. Seperti kebahagiaannya tertelan bumi. Bahkan dikelas juga biasanya dia selalu merapikan meja guru yang kacau. Tapi sekarang tidak dia hanya mendengarkan lagu di headsetnya. Lalu aku bertanya dengan geng Menor, kalian tahu kan?” Serempak mereka semua mengangguk-anggukan kepalanya dan menanti kelanjutan bukti Kai.

“Aku bertanya apakah aku melewatkan sesuatu karena mereka dari tadi memandang Clara dan mencibirnya. Mereka menjawab, bahwa tadi pagi Clara diantar oleh supir.” Kai menyudahi buktinya dengan tampang herannya.

“Supir?” Baekhyun melongo tidak percaya. “Bagaimana bisa?” Suho ikut bersuara.
Kai hanya menaikan bahunya. “Kau Sehun.” D.O menunjuk Sehun dengan dagunya dan menyuruhnya menceritakan buktinya.

“Tadi, mungkin sebelum kejadian Kai itu, aku dan Kai melihatnya membuang permen lollipopnya ke tempat sampah. Padahal dirinya baru saja mengemut beberapa kali. Lalu aku menyuruh Kai membuntuti Clara, sedangkan aku mengeluarkan permen itu dari tempat sampah. Dengan penuh selidik, kupastikan permen itu baik-baik saja. Tapi aku heran mengapa dia membuangnya.”

“Jadi kau memungut permen dari tong sampah?” Chanyeol menatap Sehun tidak percaya. “Bisa dibilang seperti itu.” Ucap Sehun dengan wajah Innocent-nya. Chanyeol menatap Sehun jijik. Sedangkan yang ditatap biasa saja.

“Kerja bagus kalian berdua.” Suho tersenyum kecil. Baekhyun tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. Memang dirinya tidak tahu permasalahan Clara. Tapi baru saja dirinya pergi, kenapa ada hal semacam ini setelah dia pergi?

#####################

Clara menatap datar buku pelajaran yang berada di hadapannya. Pelajaran telah dimulai dan sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi. Clara merasa ada sesuatu yang muncul pada otaknya. 

Dirinya membuka buku catatannya dan menullis sebuah kata yang tiba-tiba saja muncul.

‘Jika kau merasa takut, jika kau merasa bimbang, ingatlah satu hal.
Kau tidak sendiri.
 Hanya saja kau selalu melupakan orang-orang baik yang berada di sekitarmu
Lihatlah sekelilingmu. Apakah mereka baik atau kebalikannya?’

Entah dari mana kata-kata puitis itu muncul yang pasti Clara mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

Ditatapnya satu-satu wajah teman-temannya yang sedang memperhatikan buku dengan serius. 

Tak lama dirinya merasa tidak enak. Seperti ada seseorang yang memandangnya dari jauh.

Clara mengedarkan pandangannya dan mendapati Kai yang sedang menatapnya dengan datar. 

Clara mengerenyitkan dahinya sebentar lalu mengalihkan pandangannya kembali.

“Mereka semua orang baik apa bukan?” Clara berucap pelan.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, bel istirahat berbunyi yang membuat seluruh murid di kelasnya berhamburan saling mendorong satu sama lain untuk keluar kelas. Setelah merasa keadaan sedikit sepi, Clara membawa headset dan juga ponselnya ke arah kantin. Perutnya sangat lapar sekarang.

Baru saja dirinya memasuki kantin, pandangan tidak enak menatapnya. Clara tahu betul ini karena kedatangannya tadi pagi yang membuat seisi sekolah heboh.

Clara mengambil nampan makanannya dan memilih makanannya. Ketika dirinya hampir sampai di tempat duduk istimewanya, nampan makanannya terlempar ke atas dan jatuh ke bawah dengan keras. Seisi kantin termasuk kelompok Baekhyun memandang kejadian tersebut. Clara memasang datar wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ucapnya datar dan memandang seorang yeoja dihadapannya.

“Kurasa kau sudah tahu apa yang kulakukan.” Jin Ri menatap sinis Clara.

Clara tidak ingin ribut saat ini. Petugas kebersihan yang sudah sangat tua datang dan memunguti makanan Clara yang berserakan di lantai.

“Ahjumma..” Ucap Clara lalu ikut berjongkok bersama dengan ahjumma itu.

“Mianhae..” Ucapnya lalu memunguti sampah makanan itu. Jin Ri tersenyum meremehkan Clara yang sedang merapikan sisa makanannya.

“Lihatlah kalian semua! Dia tadi pagi bukan diantar dengan supir! Mungkin dia hanya kebetulan saja!” Jin Ri meneriaki seisi kantin.

“Oppa. Lihatlah.” Jin Ri menatap Baekhyun yang memandangi Clara.

“Huufftt…” Clara berusaha menahan emosinya. Petugas kebersihan itu menggenggam tangan Clara yang sudah terkepal. “Tidak apa-apa. Kau bisa pergi.” Petugas kebersihan itu tersenyum dan membuat Clara semakin tidak enak hati.

“Biar aku saja ahjumma,…”

“Sudahlah.”

Petugas kebersihan itu berlalu pergi untuk mengambil kain pel. Clara mengelap tangannya yang kotor dengan tisu yang berada di meja kantin sebelahnya.

“Lihatlah yang kau lakukan kepada ahjumma itu.” Clara melangkahkan kakinya pergi dari kantin. Jin Ri semakin menatap sinis Clara yang pergi dengan wajah datarnya.

Setelah kejadian itu, Clara pergi ke kamar mandi. Dia mencuci tangannnya dan membasuh wajahnya untuk meredakan emosi di dalam dirinya.

“Dia kira dirinya siapa bisa menindas orang seenaknya?” Clara degan wajah datarnya menatap pantulan dirinya di cermin.

“Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi orang-orang baik yang berada di sekitarku?” Clara memasang wajah pasrahnya dan menghembuskan napasnya dengan berat.

“Mereka harus kulindungi.”

###################################

Clara memasuki kelasnya dengan wajah yang datar. Teman-teman sekelasnya langsung berbisik-bisik.

Clara berusaha tidak menanggapi ocehan teman-temannya. Dirinya mengaitkan headset ke telinganya yang ternyata dia tidak mendengarkan apapun.

“Kau lihat kan? Dia itu miskin.”

“Iya benar.”

“Mana mungkin dirinya diantar oleh supir.”

“Ck..ck..”

Beberapa kata dapat di dengar oleh Clara. Jika saja tidak ada orang siapapun mungkin dirinya sudah menangis sekarang. Matanya mulai berkaca-kaca. Genggamannya ke ponselnya juga semakin menguat.

‘Bertahanlah Clara’ Ucapnya dalam batin.

14.00

Bel pulang sudah berbunyi Clara sedang  melewati lorong kelas XI sekarang. Sunbae-sunbaenya menatapnya dengan pandangan yang tidak mengenakan.

Langkahnya terhenti ketika dirinya dihadang oleh seorang namja dan beberapa namja lain di belakangnya.

“Clara-ssi..” Baekhyun memanggil nama Clara. Clara tidak memberikan respon apapun. Clara juga tidak berani menatap langsung ke mata Baekhyun.

“Lihatlah ke mataku. Tidak sopan sekali.” Baekhyun mencibir Clara. Tetapi tetap saja Clara tidak menuruti perintahnya.

“Clara-ssi kau ada masalah?” Suho menghampiri Clara dan menepuk pundak Clara.

“Tidak ada masalah.” Clara menjawab dengan singkat. Baekhyun tersenyum pahit melihatnya. 
Clara merespon langsung Suho sedangkan dirinya tidak dianggap sama sekali.

“Aku harus pulang.” Clara membungkuk singkat dan dilangkahkan kakinya melewati tubuh Baekhyun yang masih diam di tempat semula.

“Clara-ya?” Sehun tersenyum cerah. “ini.” Sehun menyodorkan permen lollipop persis seperti yang dibuang Clara. “Aku baru membelinya. Untukmu satu.” Katanya sambil mengemut permen juga.

“Gomawo.” Clara tersenyum kecil. Kai yang berada disamping Sehun ikut berbicara, “Jangan dibuang.” Clara mengangguk kecil dan berlalu pergi.

“Sifatnya semakin misterius saja. Menarik.” Kai menggerutu sendiri. Baekhyun yang dari tadi melihat pundak Clara sekarang menolehkan kepalanya ke arah Kai. Yang dilihat hanya tersenyum. Suho lebih aneh. Ekspresi wajahnya jelas sekali tergambar bahwa dirinya sedang cemas sekarang.

“Suho. Apakah kau …” Chanyeol menghentikan kata-katanya karena telah dihadang oleh D.O disampingnya. “Jangan sekarang.” D.O menatap lurus ke mata Chanyeol yang lebih tinggi darinya itu.

“Kita harus membantunya.” Suho bersuara. Yang lainnya menatapnya dan melihat kearahnya dengan tatapan heran. “Bagaimana caranya?” Ucap Baekhyun yang memang sudah mengakui bahwa dirinya menyukai Clara. Akan tetapi rahasia ini masih disimpan baik-baik oleh dirinya sendiri.

“Kita bantu dia. Kita coba dekati dia. Kita coba hibur dia. Hal semacam itu.” Suho mengangguk-anggukan kepalanya yakin.

“Itulah ketika seorang namja sedang jatuh cinta.” Bisikan Chanyeol ditelinga Baekhyun membuat Baekhyun membelalakan matanya dengan lebar. “Maksudmu?” Tanyanya yang tidak percaya dengan perkataan Chanyeol tadi.

“Kau tidak tahu?” Chanyeol balik bertanya. “Tidak tahu apa?” Baekhyun memandang lurus ke arah Chanyeol. “Aisshh,.. Kau tahu kan? Jangan bilang kau tidak tahu.” Chanyeol tersenyum meremehkan.

“Aku benar-benar tidak tahu.” Ucap Baekhyun mantap. Lantas Chanyeol mendekatkan lagi dan berbisik di telinga Baekhyun.

“Suho suka pada Clara.. Ssssttt…” pada detik itu pula Baekhyun seperti terkena heart attack. Yah, walaupun tidak benar-benar terkena heart attack.

“Se-sejak kapan?” Baekhyun membulatkan matanya. Tatapannya kabur entah kemana. “Dari dulu. Kau tidak tahu?” Chanyeol bertanya dan tidak menyadari reaksi Baekhyun saat ini.

“Kau tidak peka sekali.” Ucap Chanyeol yang dibalas Baekhyun dengan tatapan tajamnya. “Aku peka. Hanya saja aku baru tahu.”

“Apa bedanya?” Chanyeol mengangkat kedua bahunya. Baekhyun menghela nafasnya. Dirinya sungguh tidak mempercayai hal ini. Dirinya belum dapat bisa mencerna perkataan yang di dengarnya tadi. Sahabatnya sendiri menyukai yeoja yang disukainya. Sungguh ini menyebalkan. Persahabatan mereka bisa hancur jika saja persoalan ini tidak selesai dengan baik-baik.

###############################

Clara berdiri di pintu gerbang. Supirnya bilang akan menantar-jemputkannya dari sekolah setiap hari. Entah apa yang dipikirkannya. Beberapa anak yang melewati Clara berbisik tidak karuan. Clara hanya tertarik dengan batu kerikil kecil yang sedang ditendang-tendangnya saat ini.

“Lama sekali.” Dirinya menyenderkan tubuhnya dipagar sekolahannya. Menunggu itu adalah hal yang sangat menyebalkan untuknya. Karena hanya membuang-buang waktu yang setiap detiknya sangat berharga.

Tak lama, mobil yang ditunggu-tunggunya datang. Supir yang dimaksud langsung turun dan membukakan pintu belakang mobil untuk Clara. Setelah saling membungkuk, Clara memasuki mobil itu dan supir itu menutup kembali pintu mobilnya dan segera beralih ke kursi pengemudinya.

“Nona, apakah kau mau langsung pulang?” Ucap supir mobilnya yang sangat ramah. Clara tersenyum. “Maukah kau mengantarku ke tempat dulu aku biasa ke sana?” setelah menjelaskan alamatnya, Clara dan supirnya segera pergi ke alamat yang Clara jelaskan. Kalian tahu bukan dimana tempat itu?

################################

Baekhyun mengemasi barang-barangnya yang masih berserakan di meja kelasnya.

“Aisshh.. kau lama sekali. Bel pulang sudah berbunyi dari tadi. Tapi kau belum membereskan mejamu.” Chanyeol menggerutu karena lama menunggui Baekhyun.

“Ck. Kau mau pulang duluan? Ya sudah pulang duluan sana!” Niat Baekhyun sih agar Chanyeol mengerti posisinya tapi yang diajak bicara menjawab, “Wah, coba bilang dari tadi.” Chanyeol segera melesat pergi begitu saja.

Baekhyun menghela nafasnya. Dibawanya tas yang sudah siap itu ke arah mobil miliknya. “Hah, aku tidak usah menggunakan sepeda lagi.” Ucapnya ketika membuka pintu mobilnya.

Baekhyun melajukan mobilnya yang bisa dibilang dengan kecepatan sedang itu ke sebuah tempat. Baekhyun sangat merindukan tempat itu, bahkan entah mengapa Baekhyun mengharapkan seseorang yang juga berada di tempat itu.

Ingin rasanya waktu terulang kembali. Ingin rasanya dirinya membeli mesin waktu dan dapat menghentikan waktu.

Setelah memarkirkan mobilnya di pinggiran, Baekhyun keluar degan wajah yang muram. Di tatapnya aliran air itu.

Sungai.

“Hahh, disini sangat menenangkan.” Baekhyun merentangkan tangannya dengan leluasa. Tetapi matanya menatap sesuatu.

Seorang yeoja sedang duduk termenung di atas sebuah batu besar. Rambut yeoja itu terkena angin. Bisa dengan jelas dilihatnya siapa yeoja itu. yeoja yang diharapkannya juga datang ke tempat ini tadi.

Clara.

Baekhyun menghampiri Clara yang masih asyik melempar kerikil kecil ke arah sungai.

“Tidak adakah yang mengerti, eoh?!” tiba-tiba Clara berteriak frustasi ke arah sungai itu. 

Baekhyun menghentikan langkahnya. Dirinya berdiri sekitar 1 meter dibelakang Clara. 

Tangannya yang tadinya ingin menepuk pundak Clara kembali diturunkannya.

Tanpa Baekhyun duga, pundak Clara bergetar pelan. Sudah sangat jelas yeoja itu sedang menangis sekarang. Baekhyun hanya mengamati Clara saja tidak berani untuk mengganggu Clara yang sedang meluapkan emosinya.

Pipi putih Clara basah oleh sederetan air mata yang turun dari matanya. Setelah berteriak seperti itu, Clara mengelap matanya dan berdiri dari batu besar itu. Clara membalikan tubuhnya.

“K-kau?” Mata Clara membulat. Pandangan matanya kabur dan tidak berani menatap ke arah Baekhyun langsung. Clara semakin takut ketika menyadari Baekhyun mengamatinya dari atas sampai ke bawah dengan tatapan masam.

“Kau sejak kapan disini?” Tanya Clara yang berani menatap mata Baekhyun dan kembali memasang tatapan sinisnya.

“Apa pedulimu? Ini tempat umum.” Baekhyun menjawabnya dengan perkataan sinis. Clara memaklumi Baekhyun. Lagipula tempat ini juga bukan tempat miliknya.

“Kau ada masalah?” Tanya Baekhyun yang membuat Clara menjawab dengan cepat. “Ani.”
“Kau tidak bisa berbohong dihadapanku. Aku sudah melihat kelakuanmu tadi kok.” Ucap Baekhyun dengan masih tampang masamnya.

“Tidak usah berakting sinis begitu dihadapanku.” Kata Baekhyun lalu mendekati Clara. 

“Kemana Clara yang dulu?” Ucapnya yang membuat mata Clara berkaca-kaca.

‘Kemana diriku yang dulu?’ Ucap Clara dalam hatinya. Tangannya benar-benar mengepal dengan keras. Melihat rekasi Clara, ingin rasanya Baekhyun memeluknya dan mencoba menghiburnya.

Pikiran Clara terpenuhi dengan perkataan Baekhyun yang membuat dirinya syok. Sebegitu bedanyakah dirinya? Sampai-sampai namja menyebalkan dihadapannya ini berkata seperti itu?

Clara menutupi wajahnya dan mulai menagis dalam diam. Hanya isakan-isakan kecil yang dapat terdengar oleh Baekhyun. Baekhyun tergelak melihatnya. Dia ling-lung tidak tahu harus berbuat apa.

Dan pada akhirnya dirinya memberanikan diri untuk memeluk Clara. Dilingkarkan kedua tangannya di punggung Clara. Clara tetap menutup wajahnya. Baekhyun menepuk-nepuk punggung Clara. “Manangislah. Gwaencanha.” Ucapnya. Baekhyun menyenderkan kepala Clara di pundaknya. Yeoja itu benar-benar menangis sekarang walaupun dirinya menutupi wajahnya.
Lengan Baekhyun yang berada di pundak Clara semakin mengerat seolah tidak mau melepaskan Clara.

“Ceritakan saja kepadaku semuanya jika kau mau nanti.” Baekhyun ingin sekali mengetahui masalah yang sedang dihadapi yeoja yang disukainya ini. Yah, walaupun hanya sebagai teman curhat Clara nantinya. Dengan begitu, dirinya selangkah lebih duluan daripada Suho. Suho dan Clara, keduanya sangat berarti baginya. Dirinya tidak mau kehilangan mereka berdua.

Waktu akan terus berjalan, layaknya sungai yang selalu mengalir di tempat ini.


-TBC-


Yeya, beres juga.. Kekeke.. Chapter ini SEDIKIT lebih panjang dari Chapter sebelumnya. Author bingung masih tetap ingin melanjutkan FF ini atau tidak. Karena kalian semua siders. Author jadi bingung lagi buat ngelanjutin FF ini. Jadi maukah kalian jangan jadi siders? Biar author semangat lagi. walaupun FF ini jelek dan abal-abal, author minta saran dari para readers. Kalian semua siders selama ini. Author kecewa.. Jadi dimohon pengertiannya. Author juga akan sibuk nanti. makanya author buru-buru nyrlrsain ini FF. Author harus mikirin UN mei nanti. Para readers, Entah ini masih berlaku atau tidak *nangis* Sampai jumpa di next chap~ *gkyakin*


Komentar

  1. Authorrrr mana chapter lanjutannya😭😭 suka banget sm nih ff daebakk lah thor... dtunggu chpter selanjutnya,,, -Shin Hyo Yoon

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan Jejakmu! Hargai karya anak bangsa!