FF EXO Home (Chapter 5)

HOME

Title                 : Home
Author             : Park Hwa Rin (@KintanHA)
Genre              : Family, Friendship, Life, Little Romance, little comedy, school life
Rating(s)         : G (Semua Umur asal bisa Baca ^ ^)
Cast                 : Park Clara (OC)
                          Byun Baekhyun (EXO-K)
                          Jang Eun Jeong (OC)
                          Han Jin Ri (OC)
Other Cast      : Find by Yourself ^ ^
Length            : Chaptered
A/F                  : Annyeonghaseo, Author kembali dengan FF EXO again.
FF ini muncul begitu saja karena melihat berita di TV tentang anak di Panti Asuhan. FF ini 100.000.000.000.000 murni permikiran author. Maaf jika ada typo. Don’t COPAS, Don’t Plagiat, and Don’t be SILENT READER(S) *kacaubahasainggrisnya* . Cukup cuap-cuapnya. Enjoy~

################################ (Chapter 5)

Tanpa mereka sadari, ada tatapan tidak enak dari sepasang mata yang memerhatikan mereka dari tadi. Orang itu bergumam tidak jelas dan memandang tidak suka mobil yang sudah sampai gerbang sekolah.

“Ada apa ini sebenarnya?” Ucap orang itu masih dengan tatapan menusuknya.

Baekhyun POV

HUEK!

Entah kenapa aku merasa jijik melihat Clara dengan namja itu. Aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ada dipikiranku. Sangat kacau sekali. Seperti ada seseorang yang memasuki pikiranku dan mengacak-acaknya dengan sangat-sangat berantakan. Entah kenapa, tanganku menjadi reflex mengepal seperti ini.

Rasanya kepalaku keluar api dan tatapan mataku panas. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Jadi aku kembali lagi ke kelas. Yang lain hanya menatapku dengan penuh rasa heran yang sangat jelas di wajah mereka.

“Baek. Kau kenapa?” Tanya Chanyeol mendekati tempat dudukku. “Ani.” Jawabku dengan singkat. Mereka sudah sangat dekat denganku, mungkin mereka tahu sifatku yang seperti ini.

“Kau itu aneh Baek. Ceritakan apa yang terjadi kepada kami.” Ucap D.O disebelahku. Kuhembuskan nafas untuk mengurangi rasa emosiku.

“Jika tanganmu mengepal sendiri itu aneh tidak?” Tanyaku dan menantikan jawaban dari mereka. Mereka hanya saling lirik. “Jika disertai dengan alasannya.” Ucap SuHo yang menjelaskan. Lagi dan lagi aku hembuskan nafas.

“Mataku terasa panas. Hatiku terasa terbakar. Dan pikiranku seperti ada yang mengacak-acak.” Ucapku yang memang sangat tidak mengerti. Mau tak mau aku harus melihat ekspesi wajah mereka yang semakin heran. Aku memang aneh.

“Kau … Sedang jatuh cinta?” Celetuk Chanyeol tiba-tiba yang membuat pipiku terasa panas tanpa disuruh. “Eh?” Ucapku kelewat bingung. Chanyeol menjetikkan jarinya di depan wajahku.

 “Sepertinya.” Ucapnya lalu terkekeh pelan. Ada apa lagi sekarang?

“Kau cemburu.” Ucap SuHo sambil memasang senyum jahilnya yang membuatku bergidik ketika melihatnya. D.O membulatkan matanya dan melihat ke arahku.

“Jangan lihat diriku seperti itu. Bisa-bisa kucolok matamu nanti.” Ucapku yang tidak tahan dengan ekspresi O.O versi D.O itu. Dasar Kyungsoo.

“Kau jatuh cinta, Baek? Sejak kapan?” Tanyanya dengan wajah polosnya yang membuatku semakin ingin menyolok matanya. Aku juga tidak tahu tentang cinta. Yeah, keluargaku melarangnya. Dan aku akan dijodohkan dengan Jin Ri. Oh ya, tentang pertunangan itu, aku sangat bersyukur karena tidak ada yang menyinggungnya. Cepat atau lambat aku akan berusaha membatalkannya. Walaupun dengan cara kekerasan sekalipun.

“Kalian ini! Siapa yang sedang jatuh cinta?!” Ucapku teriak yang membuat mereka membulatkan matanya mendengar teriakanku yang sangat keras ini. Untuk apa aku jatuh cinta? Mereka ini sangat mudah salah paham.

“Tidak usah teriak. Semakin kau bersikap seperti itu, semakin terlihat.” Ucap Chanyeol mendecakkan lidahnya yang semakin membuatku frustasi. Ku acak-acakan rambutku dengan asal. “Apanya yang terlihat?” Aku bertanya dan berhenti mengacak-acak rambutku secara frustasi.

“Wajahmu merah. Kekekeke…” Kudengar D.O terkikikan dengan tidak jelas. Kenapa semuanya jadi salah paham begini?

“Siapa yeoja yang telah mengambil hati Byun Baekhyun ya?” Tanya SuHo dengan ekpresi yang sedang berpikir tetapi jelas sekali itu ekspresi yang sedang dibuat-buat.

“Hmmm.. Ayo kita selidiki!” Usul Chanyeol yang langsung mendapatkan pukulan dengan buku di kepalanya dariku. Dia hanya meringis kesakitan. Sementara D.O dan SuHo memandangku dengan senyum jahil yang sangat terukir jelas.

“Kalian ini. Kenapa tidak percaya padaku, eoh?” aku berusaha meyakinkan mereka. Jika mereka mencari tahu, dan mengetahui bahwa yeoja itu Clara, matilah aku. Memang aku tidak memiliki alasan untuk takut karena aku sama sekali tidak memiliki perasaan kepada yeoja sepertinya.

“Memangnya kau pernah percaya kepada kami?” Ucap SuHo yang semakin menyunggingkan senyum devil-nya. Aku menelan susah-susah ludahku.

“Karena wajah kalian tidak bisa dipercaya.” Ucapku dengan datar dan berusaha menutupi pertanyaan mereka. “Kau juga tidak dapat dipercaya.” Ucap D.O dengan tatapan menyipitnya dan sangat-sangat membuatku ketakutan.

“Kita ini sudah berteman sejak TK. Masa kalian tidak percaya padaku?” Ucapku yang membuat Chanyeol, D.O, dan SuHo tertawa geli.

“Kami tidak percaya kepadamu karena kau juga tidak percaya kepada kami. Walaupun kita sahabat sekalipun.” Ucap Chanyeol membalikan kembali kata-kata yang dilontarkan olehku tadi dan membuatnya menjadi sebuah senjata.

“Karena aku tidak percaya dengan wajah kalian. Coba kalian berubah sedikit.” Ucapku yang tanpa kusadari aku mem-poutkan pipiku.

“Kami biasa saja. Kau duluan saja yang berubah dan percaya kepada kami, baru kami mempercayaimu. Toh, walaupun kau tidak percaya kepada kami apa ruginya untuk kami?” Ucap D.O yang sepertinya memang menyindirku habis-habisan.

“Kalian menyebutku seperti sahabat?” Tanyaku dengan tampang polos yang membuat D.O memukul kepalaku dengan buku. “YA! Sakit!!” Teriaku yang membuat SuHo tersenyum. “Tentu, walaupun tidak saling percaya. Jika ada seseorang yang akan merusak persahabatan kita tak akan kubiarkan. Dan aku yakin persahabatan kita akan utuh sampai kita pergi dari dunia ini.” Ucapnya yang terdengar seperti ocehan burung di telingaku. Aku sama sekali tak mengerti dengan yang diucapkannya. Aku hanya mengangguk mengikuti yang lain. Tidak ada Kai dan Sehun disini. Coba anak dua itu ada, pasti SuHo di-bully habis-habisan oleh mereka berdua karena perkataannya yang sangat terbelit-belit.

“Jika kau menyukai yeoja lain, bagaimana dengan Jin Ri?” Tanya Chanyeol yang lagi membahas masalah perjodohanku.

“Aku tidak menyukai yeoja lain! Dan tentu aku tidak mau dijodohkan dengan yeoja yang bernama Jin Ri itu!” Aku berbicara dengan nafas yang terengah-engah dan berusaha menahan emosiku. 

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat dan kuyakin wajahku sangat merah sekarang.

“Wizz… Jangan marah, Baekhyun-a.” D.O berusaha menenangkanku. Aku memang tidak mudah dihibur jika sedang marah. Bisa dibilang emosiku memang sangat besar dan hanya orang tertentu yang bisa menghiburku. Seperti eomma dan appa. Tentang mereka ….

Apakah mereka tidak merindukanku ya?

#################################

Clara POV

“I..Ini rumah kakek?” Tanyaku sambil membulatkan mataku. Rumah sebesar istana impian atau yang biasa kulihat di TV sekarang berada di hadapanku.

“Bisa dibilang ini rumahmu juga, Clara-ya..” Ucap Minwoo Oppa yang membuatku menjadi semakin yakin bahwa inilah tempat asalku yang sebenarnya.

“Oppa? Apakah kau tidak salah orang ya?” Tanyaku yang berada disampingnya. Dia hanya tersenyum. “Tentu tidak. Bagaimanapun senyum kita mirip, kan?” Jawabnya dengan tersenyum. Lagi-lagi senyum itu. senyum yang pasti membuat seluruh yeoja terpukau. Jika saja dia masuk ke kelompok Baekhyun dan kawan-kawan kuyakin pasti benar-benar akan terkenal kelompok itu. 

Kekeke.. Aku tersenyum membayangkan Minwoo Oppa menggunakan seragam sekolah.

“Kenapa kau tersenyum? Tuh kan! Senyum milikmu sama denganku.” Minwoo Oppa menyubit pipiku sebelum akhirnya kami masuk ke dalam rumah.

Jadi dari tadi kami itu jalan melewati halamannya saja. Nah sekarang baru ke dalam rumahnya.
“Tuan muda silahkan masuk.” Kata seorang pelayan. Aku dan Minwoo pergi ke lorong-lorong yang memusingkan menurutku, karena semuanya terlihat sama.

Kami masuk ke dalam ruangan paling ujung dan berpintu sangat besar. Ukiran di pintu itu sangat mahal sepertinya. Seperti dalam drama saja.

Kami berdua masuk ke dalam ruangan itu. Aku terkejut dengan isi ruangan itu. Ini adalah perpustakaan yang sangat-sangat besar. Bisa dibilang luasnya seperti ruang tamu, dapur, dan ruang makan panti asuhanku disatukan. Baru saja lihat buku tebal-tebal itu pikiranku melayang kepada tugas yang kukerjakan semalam dengan Baekhyun. Oh ya, anak itu tidak apa-apakan ya tanpaku? Kurasa tidak apa-apa. Dia kan punya wajah banyak.

“Kakek!!!” Teriak Minwoo Oppa. Seketika itu lelaki ubanan dengan memakai kacamata dan membawa sebuah buku besar ditangannya dan tongkat ditangan satunya datang menghampiri kami.

“Ini, benarkah Park Clara?” Tanyanya dengan mata yang berbinar-binar ketika melihatku.

“Ne. Dia cantik bukan?” Puji Minwoo Oppa. Kualihkan lagi pandanganku kepada kakek dihadapanku yang ternyata adalah kakekku sendiri.

“Annyeonghaseo.” Aku membungkukan kepala dengan formal dan tersenyum. “Wah, senyumnya sepertimu Minwoo.” Baiklah kakek. Memang senyumku milik. Mungkin memang ini yang membuatku pada awalnya yakin bahwa Minwoo berkata jujur.

Aku mengembangkan kembali senyumku dan juga Minwoo tersenyum. Kakek semakin berbinar-binar melihat wajah kami secara bergantian.

“Ayo duduk.” Ajaknya dan membawa kami ke sebuah sofa coklat yang sangat empuk.

“Clara-ya, kau baru mengenal kakekmu ini bukan?” Kata kakek dengan wajah yang sedih. “Ne. Karena aku sudah dipanti asuhan sejak kecil.” Kakek mengangguk-anggukan kepalanya.

“Semenjak kematian Seun Jil appa Minwoo, dan juga eommanya, keluarga ini hampir kacau. Perusahaan ini juga seperti akan berakhir. Tapi, kakek mencari keluargamu. Keluargamu juga baru tahu yang sebenarnya ketika kakek langsung datang ke rumah kecil itu. Tapi, kau sudah tidak ada. Kakek sangat marah. Apalagi Minwoo yang terus-terusan menangis. Orang tuamu tidak tahu nama panti asuhan itu karena saat itu mereka terdesak dan akan diusir dari rumah kecilmu itu. Dan akhirnya, kau ada disini. Dihadapan kakekmu.” Kalimatnya diucapkan dengan nada yang sangat lega. Aku hanya tersenyum dan melihat Minwoo Oppa tersenyum hangat ke arahku.

“Kau belum siap untuk menampakan dirimu dihadapan orang tua dan juga di perusahaan ini?” Tanya kakek yang membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. “Sepertinya aku memang belum siap. Kenapa tidak Minwoo Oppa saja yang memimpin perusahaan? Bukankah Minwoo Oppa sudah besar sekarang?” Tanyaku kepada kakek. Tatapanku dan juga kakek beralih kepada Minwoo Oppa yang hanya diam dari tadi.

“Memangnya aku bisa, kek?” Tanyanya celingukan. “Tentu. Karena kaulah pewaris utama.” Kata kakek tersenyum. “Lalu Clara, ini berarti kau tidak sanggup?” Tanya kakek yang membuat jantungku berdetak cepat. 

Baru saja aku bertemu tapi kenapa sudah membicarakan bisnis! Aissh!

“Yah, karena bisa dibilang aku menjalankan pendidikan biasa. Dan aku juga tidak terlalu mengerti tentang perusahaan ini itu. jadi, kurasa, Minwoo Oppa bisa melakukannya lebih baik dari padaku.” Ucapku yang disambut tatapan takjub dari kakek.

“Kau …. Seperti nenekmu.” Ucap kakek dengan wajah yang berseri-seri. Nenek? Aku bahkan belum bertemu dengannya. Apanya yang mirip?

“Nenek?”

“Dia sudah tiada, Clara-ya dan itu fotonya.” Ucap Minwoo Oppa dan menunjuk foto di meja kecil tepat disebelahku. Kuraih foto itu dan kuperhatikan baik-baik. Mata.

Ternyata mataku mirip dengan mendiang neneku ini.

“Mata dan sifat.” Ucap kakek dengan tersenyum. Sifatku? Jadi bagaimana sikap orang tuaku?

“Lalu, bagaimana sifat orang tuaku?” Tanyaku kepada kakek. Kakek terlihat berpikir sejenak. 

“Mereka berubah.” Ucap kakek dengan singkatnya. Yeah, aku mengerti maksudnya. Minwoo Oppa sudah menceritakannya kepadaku tadi.

“Jadi kapan kau akan mulai tinggal disini?” aku membulatkan mataku mendengar kata-kata kakek. Tinggal disini?

“A-aku sepertinya belum siap.” Ucapku tersenyum dipaksakan. Aku belum siap. Sangat belum.
“Baiklah. Kakek dapat mengerti situasimu.” Ucapnya. “Jika kau perlu sesuatu hubungi kakek. Atau Minwoo.” Ucap kakek sambil tersenyum.

Aku memutuskan untuk pergi dari tempat ‘calon’ rumahku itu. aku pergi beriringan dengan Minwoo Oppa.

“Kakek baik bukan?” Ucapnya. “Ng..” Jawabku dan sambil menikmati buaian angin yang mengibaskan rambut panjang hitam miliku.

“Kau tahu? Jika kau seperti itu, kau seperti sedang main iklan.” Ucap Minwoo Oppa lalu terkekeh. Langkahku terhenti. Iklan? Bukankan Baekhyun pernah berkata seperti itu ya? Aissh! Ada apa denganku? Kenapa aku selalu mengingat namja sunbae menyebalkan itu? kepalaku sudah terkena virus Baekkie sepertinya. Aku harus membersihkannya. Tapi memang ada anti virusnya ya?

“Kau tidak masuk? Ayo, oppa antarkan ke letak panti asuhanmu.” Ucap Minwoo Oppa dari dalam mobil. “Oh? Iya.” Lalu aku memasukan diriku ke dalam mobil berwarna hitam mengkilap itu.

“Oppa, apakah aku benar-benar seperti main iklan?” Tanyaku yang membuat Minwoo terkekeh.

 “Iya. Memangnya kenapa? Ada namja lain yang berkata seperti itu juga ya?” Pertanyaan Minwoo Oppa segera kucerna dengan baik-baik. Kenapa dia bisa tahu?

“Kekeke.. Sepertinya begitu. Kau tahu? Namja itu pengecut.” Katanya tetap dengan pandangannya ke jalanan. “Maksudnya?”

“Namja itu berbohong. Dia tidak berani secara langsung mengatakan bahwa kau cantik dan membuatnya terpesona. Kau tahu model iklan kan? Baru lihat saja sudah banyak namja yang menyukainya.” Apakah itu benar? Lalu maksud Baekhyun seperti itu?

“Tapi tadi Oppa juga berkata seperti itu. Berarti Oppa juga pengecut?” tanyaku. Minwoo Oppa hanya tertawa sebentar. “Tentu tidak. Aku ini Oppa-mu. Tentu saja sudah tahu kalau kau itu cantik. Bahkan aku sudah bilang secara langsung kepadamu. Berbeda dengan namja itu. dia belum pernah berkata seperti itu bukan?” kuingat kembali memoriku dengan namja sunbae menyebalkan itu. Belum pernah. Dia hanya melontarkan kalimat yang menyayat hati. “Nope.” Jawabku.

Lalu mobil kami melaju menuju panti asuhanku. Bahkan aku harus bekerja hari ini, bukan? 

Pengunjung café itu merindukanku tidak ya? Kekeke..

#################################

Author POV

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Seorang namja yang kesepian(?) duduk di meja makan dan memakan makanan yang dibuatkan special untuknya.

“Eun Jeong-ah, gomawo untuk makanannya.” Eun Jeong tersenyum manis. “Ne, Oppa.”

TOK TOK TOK

Suara pintu depan terdengar. “Biar aku saja Oppa.” Eun Jeong menahan Baekhyun yang hendak bangkit. Eun Jeong berjalan ke arah depan pintu.

“Eh? Kalian siapa?” Tanya Eun Jeong kepada kedua orang laki-laki yang berada di hadapannya. “Kami mencari Tuan muda Byun Baekhyun.” Ucap kedua namja itu.

“Baekhyun? Oppa!!” Eun Jeong langsung masuk dan berbicara dengan Bakhyun yang sedang makan. Baekhyun membulatkan matanya mendengar penjelasan Eun Jeong.

Dia sudah tau siapa kedua namja itu.

Pengawalnya sudah datang untuk menjemputnya. Segera dirinya bangkit dan pergi ke pintu. “Tuan muda, anda diminta untuk pulang. Kedua orang tua anda pulang secara mendadak. Mengenai permasalahan penjodohan anda.”

Eun Jeong yang mendengarnya langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Baekhyun memandang malas kepada kedua pengawalnya.

“Kalian sudah tahu aku menentang perjodohan ini?” Tanyanya dengan nada dingin. “Maafkan kami, tuan. Kami sudah berusaha. Tapi orang tua anda lebih lihai daripada kami.” Baekhyun memaklumi perkataan anak buahnya itu.

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kalian masih di pihakku bukan?”

“Tentu tuan muda. Kami akan mengerahkan semampu kami.” Ucap kedua namja itu bersamaan. Baekhyun menyuruh mereka menunggu sebentar. Baekhyun segera ke kamarnya dan merapikan kembali pakaian-pakaiannya. Bahkan, dia sudah harus pergi secepat ini. Clara belum pulang. Tadinya, Baekhyun berniat menjahili Clara lagi. Tapi tidak ada waktu lagi. Mau tak mau dirinya harus pergi tanpa melihat Clara.

“Eun Jeong-ah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku kepada ahjumma ya? Dia sedang menjemput yang lain. Dan juga, …. Sampaikan salamku kepada Clara. Aku pergi.” Ucap Baekhyun begitu saja dan pergi bersama kedua pengawalnya.

“Secepat itukah?” Eun Jeong tersenyum getir. Panti asuhan ini akan terasa kosong jika tidak ada Baekhyun. Bagaimanapun, namja itu walaupun baru tinggal sebentar, sudah dapat membawa suasana baru di panti asuhan ini.

##############################

“Gomawo Oppa.”

Mobil Minwoo pergi setelah mengantarkan Clara. Clara memasuki tempat tinggalnya selama ini. Dirinya juga harus pergi dari tempat itu.

“Sepi sekali.” Clara melihat Eun Jeong yang membereskan meja makan.

“Eun Jeong-ah kenapa sepi?” Tanya Clara. “Baekhyun sudah pergi. Dia menitipkan salam untukmu.” Ucap Eun Jeong sambil tersenyum lesu. “Pergi? Apa maksudmu?”

“Tadi pengawalnya datang. Mereka membawanya pergi. Baekhyun pergi begitu saja.” Tiba-tiba hati Clara sesak setelah mendengar kalimat dari Eun Jeong. Bagaimanapun, namja itu….

“Dia tidak akan kembali?” Clara berusaha keras menahan rasa sesak di dadanya. Baru pertama kali ini dirinya merasakan hal seperti ini.

“Dia tidak bilang.” Eun Jeong melesat ke tempat bak cuci piring. Clara merasakan dadanya sangat perih dan dia tidak mengetahui perasaannya itu. Perasaan yang membuat hati seorang manusia menjadi berdetak lebih cepat.

Clara melesat ke kamarnya. Dia terduduk lemas di kursi meja belajarnya. Matanya menatap kosong kursi yang dipakai Baekhyun semalam. Jika rasa seperti ini, apa maksudnya? Batinnya mulai memberontak.

“Aku tidak mungkin menyukainya bukan? Lalu, apa maksud ini semua? Kuakui, aku tidak bisa menatap matanya secara langsung. Jika aku menatap matanya secara lama, entah hatiku merasa gelisah. Aku tidak bisa berbicara lama-lama dengannya. Hatiku seperti memerintahkanku pergi. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Tanpa sikap jahilnya, hariku terasa kosong.” Clara menatap kosong bangku di sebelahnya.

“Apa ini yang disebut dengan rasa suka?” Clara tersenyum getir. Matanya mulai berkaca-kaca.
Rintik-rintik hangat membasahi pipinya. Matanya semakin memanas, dia tidak boleh menangis. Dia harus tampil hari ini.

######################################

Clara segera bersiap. Hari ini dirinya sangat tidak bersemangat. Dibawanya gitar kesayangannya. Dia memutuskan untuk menaiki sepedanya. Dilihatnya sepedanya yang sudah rapih dan disebelahnya terdapat sepeda milik Baekhyun.

“Apakah dia yang membawanya? Padahal tadi aku tinggal di sekolah.” Lagi-lagi Clara menatap kosong sepeda Baekhyun. Diraihnya sepeda miliknya.

#############################

Clara menyelesaikan satu buah lagu yang special untuk hari ini. Para pasangan yang datang ke café itu me-request lagu tentang cinta yang menyedihkan.

Hei, suasana hati Clara sedang tepat bukan?

Clara hendak keluar dari café. Matanya menangkap butiran-butiran air di jendela café itu. dilangkahkannya kakinya ke teras café.

Sepatu putihnya kembali kotor. Siapa duga hari ini akan hujan. Clara mengadahkan kepalanya menatap langit malam. Tangannya menyentuh air hujan yang turun secara perlahan.
Memorinya dengan Baekhyun terulang kembali. “Bahkan sekarang pun aku lupa tidak membawa payung.” Ucapnya dengan sedih.

20 menit berlalu. Hari semakin malam. Clara nekat menerobos hujan yang tidak henti-hentinya itu.

Hujan.

Hujan itu sebenarnya apa? Kenapa banyak sekali memori tentang dirinya dan Baekhyun di kala hujan?

“Aku benci hujan.” Clara mendengus pelan dan melajukan dengan cepat sepedanya. Petir yang membuatnya takut dihiraukannya begitu saja. Dinginnya angin juga dihiraukannya begitu saja.

“Sudah lama aku tidak kesungai itu. Besok saja aku mengunjungi tempat itu.”

Baekhyun POV

“Sudah kubilang aku tidak setuju!” Aku sangat marah dengan appa-ku sekarang. Aku tetap dipaksa untuk melakukan perjodohan konyol itu lagi.

“BYUN BAEKHYUN! Sudah kubilang! Jangan melawan ucapan appa!” appa teriak tak kalah hebohnya. Aku berada di ruangan appa sekarang. Keluarga Jin Ri menunggu kami di sebuah restaurant. Aku benar-benar tidak mau.

“Appa! Apa yang kurang dariku? Aku menuruti permintaan appa selama ini! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Sangat jelas aku menentang perjodohan ini!” Ucapku dengan lantang. Aku tidak tahu. Mungkin emosiku sudah memuncak. Rasanya akan aku hancurkan benda-benda di sekitarku ini.

“Baiklah. Appa tidak mau tahu lagi mendengar ocehanmu. Appa tidak tanggung jawab. Jika kau menentang ini, bicaralah dengan keluarga Jin Ri nanti di restaurant.” Appa berkata dengan lembut dan sambil memejamkan matanya.

Jadi? Jadi aku tidak dijodohkan lagi?

“Gomawo appa.” Aku tersenyum senang. Kulihat appa masih memejamkan matanya. “Bersiaplah sana. Siapkan mentalmu.” Jelas appa dan tersenyum kepadaku.

##########################

“Jadi kau tidak setuju?” Tanya appa Jin Ri. Entah untuk seberapa kalinya dia bertanya seperti itu.

“Maksud semua ini apa?” Eomma Jin Ri bingung dan menatap kedua orang tuaku. 

“Sebagaimanapun usaha kami untuk membujuknya, dia tetap tidak menurutinya. Dia sudah dewasa. Jadi keputusannya yang terpenting.” Tak kusangka eomma juga membelaku.
“Andwae! Shireo! Aku ingin Baekhyun!” teriak Jin Ri dengan heboh. Jin Young menatapku sinis. Kurasa dia senang akan keputusanku ini.

Tangis Jin Ri pecah. Sungguh, sangat memekikan telinga. Aissh!

Aku segera pergi dari tempat ini. Ketika aku di teras restaurant ini, rintik-rintik air jatuh di telapak tanganku yang segaja ku tadahkan.

Hujan.

“Lagi-lagi malam ini hujan.” Aku memandang langit malam. Memoriku dengan yeoja bernama Park Clara itu terulang lagi.

“Dia sedang bekerja ya? Kuharap dia membawa payung.”

Yeoja bodoh sepertinya semoga membawa payung. Jangan sampai dia menerobos hujan. Apalagi disertai petir ini. Ck.

Entah kapan aku dapat melihat wajahnya lagi.

“Aku menyukai hujan.” Ucapku sambil tersenyum mengadahkan kepalaku.

Merasakan semilir angin yang membelai lembut rambutku. Petir dan angin dingin ini kuhiraukan.

 Yang aku rasakan adalah, betapa nyamannya jika hujan datang.
Hujan yang membawa memoriku tentangnya.

Dan kupikir lagi, aku memang menyukainya.

Bagaimana denganmu Park Clara?


-TBC-



Yeay! Chapter 5 selesai nih.. Mian jika lama, karena banyaknya tugas sekolah dan  berbagai macam ulangan. Gimana? Gimana? Ini FF selesai dalam waktu kurang lebi 5 jam. Ngebut.. Hehehe.. Karena memang harus belajar juga.. Kikikik. Author harap kalian suka chapter ini. Tinggalkan komentar ya? Gomawo udah baca ^ ^ next chap kayanya agak lama deh, tergantung author buat dan kapan FF ini di publishnya.. Sampai jumpa di next chap.. ^ ^



Komentar

Postingan Populer