FF EXO Home (Chapter 4)

HOME

Title                 : Home
Author             : Park Hwa Rin (@KintanHA)
Genre              : Family, Friendship, Life, Little Romance, little comedy, school life
Rating(s)         : G (Semua Umur asal bisa Baca ^ ^)
Cast                 : Park Clara (OC)
                          Byun Baekhyun (EXO-K)
                          Jang Eun Jeong (OC)
                          Han Jin Ri (OC)
Other Cast      : Find by Yourself ^ ^
Length            : Chaptered
A/F                  : Annyeonghaseo, Author kembali dengan FF EXO again. 
Author seneng banget yang namanya gonta-ganti cover.. kekeke..
FF ini muncul begitu saja karena melihat berita di TV tentang anak di Panti Asuhan. FF ini 100.000.000.000.000 murni permikiran author. Maaf jika ada typo. Don’t COPAS, Don’t Plagiat, and Don’t be SILENT READER(S) *kacaubahasainggrisnya* . Cukup cuap-cuapnya. Enjoy~

################################ (Chapter 4)

“Yeah. Aku akan menceritakannya. Tapi pesankan aku dulu coffe lagi dan beberapa snack. Aku lapar.” Ucap Baekhyun memelas. Entah kemana makanan yang dia makan tadi di kantin bersama teman-temannya. Clara mengiyakan saja, dan segera memanggil pelayan.
“Aku akan menceritakannya menurut versiku.” Ucap Baekhyun dengan serius, karena ini bukan obrolan biasa.

##################################

Baekhyun POV

“Sebelumnya, untuk apa kau menanyakan ini? Apakah ini mengenai PCG?” Aku langsung tanyakan saja kepadanya. Aissh, apakah dia tidak percaya PCG itu nama distro!
“Iya. Dan aku kurang yakin dengan disco, dispo, atau distro itulah.” Ucapnya tanpa sabar. Jelas sekali dia ingin mendengarnya.

Tak lama, pesananku datang. Akhirnya makanan datang juga. Baiklah, aku mengaku. Aku memang tadi sudah makan, entah kenapa aku jadi lapar lagi sekarang, bisa-bisa tubuhku gemuk lagi. Seorang Byun Baekhyun gemuk? Tidak boleh! Ini hanya karena aku TERPAKSA!
“Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya. Aku memberitahumu ini karena MUNGKIN aku sudah terbuka dan nyaman denganmu karena kita tinggal di satu atap. Jangan salah paham.” Ucapku dengan datar. Yeah, aku takut dia salah paham gitu. Dia hanya menganggukan kepalanya dan memajukan kursinya. Dia siap juga.

“Baiklah. Info ini kudengar dari appa. Dia bilang, PC Group adalah perusahaan bisnis terkenal di Seoul bahkan namanya sudah mencapai mancanegara. Perusahaan appaku, atau MG Group, juga memang sudah terkenal. Tapi daya saing diantara perusahaan MG dan PC sangatlah ketat dan berusaha menjadi yang terbaik. PC adalah perusahaan turun temurun keluarga. Entah siapa namanya, tapi yang kuketahui adalah Presdir Seung Joon dan Presdir Min Young. Mereka sepasang suami istri. Sebenarnya, mereka pada awalnya tidak tahu menahu tentang PC, karena PC disembunyikan oleh keluarga terdahulu mereka dan hanya anak pertamalah yang boleh mengetahui dan memimpin. Mereka berdua hidup sangat miskin. Tapi, anak pertama keluarga itu meninggal karena kecelakaan, dan posisinya diganti oleh mereka berdua.” Aku menjelaskan dengan nada yang sangat cepat. Entah dia mengerti atau tidak yang pasti bibirku pegal bercerita panjang lebar seperti ini.

“Kenapa kau seperti seorang rapper? Cepat sekali! Aku tidak mengerti! Siaran ulang!” Teriaknya yang membuat seisi café menjadi melihat ke arah kami.

“Sudah kubilang tidak ada siaran ulang, Nona.” Ucapku dengan manis dan seketika pengunjung lain mengalihkan pandangannya dari kami. Kulihat dia hanya mendengus sebal dan mem-poutkan pipinya. Lucu.

Eh? MWOYA?! Aku memikirkan apa?! Lucu?! Tidak dia sama sekali tidak lucu!!!! Andwae Byun Baekhyun, andwae!

“Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu. sudah tak usah dipikirkan. Ck. Kau ini, menjelaskan hal pendek saja seperti itu, bagaimana jika kau menjelaskan sesuatu dengan panjang di perusahaanmu nanti?” dia menyindirku rupanya.

“Itu adalah dua hal yang berbeda, Nona. Kau akan merasakannya jika berada diposisiku.” Ucapku dengan geram dan berusaha menahan emosiku. Dia hanya mendecakan lidahnya.

“Tapi aku sedang tidak berada di posisimu, Tuan.” Ucapnya tak kalah seperti benar-benar menyindirku. Dari pada mencari masalah dengannya, kualihkan pandangan mataku ke jendela luar café.

Akhirnya, hujan berhenti.

“YA! Sudah berhenti!” Teriaku kepadanya yang sedang asyik memainkan ponselnya. Ku tatap dia dengan pandangan malas. Dia menolehkan kepalanya ke jendela luar café.
“Sudah berhenti? Cepat sekali, padahal tadi hujannya sangat besar.” Ucapnya pelan yang masih terdengar di telingaku.

“Memangnya kenapa? Kau mau berdua denganku lebih lama?” Ucapku menggodanya. Dia menatapku dengan tatapan lasernya. Senyum jahil diwajahku perlahan lenyap.

“Iya. Masih banyak yang harus aku bicarakan denganmu.” Ucapnya dengan santai. Apalagi yang ingin dia ketahui?

“Kajja! Kau yang memboncengku!” Ucapnya seperti anak kecil. Sejak kapan dia memiliki sifat kekanakan ini? Ya sudah, mau tak mau aku yang memboncengnya. Kami keluar dari café dan menyiapkan sepedanya yang tadi berada di teras café.

Dengan sangat baik hatinya diriku, kubersihkan air yang terdapat di sepedanya. Aku baik bukan?

 Hehehe..

Aku menaiki sepeda itu dan duduk dengan posisi yang nyaman. Kurasakan perlahan tangannya menyentuh pundaku.

###########################

“Apakah nyaman berdiri seperti itu?” Ucapku di sela perjalanan kami. “Menurutmu?” Tanyanya yang seketika mencengkram bahuku. “YAA! Sakit!” teriaku kesakitan. “Mian.” Ucapnya ringan dan merenggangkan cengkramannya.

Kami melanjutkan perjalanan. Angin sehabis hujan memang sangat sejuk. Tapi kali ini sangat menusuk tulang. Kuputuskan untuk berhenti di pinggir jalan.

“Kenapa berhenti?” Tanyanya dengan wajah yang pucat. Sepertinya dia kedinginan.

“Dingin?” Tanyaku kepadanya yang dibalas anggukan kecil. Kulepaskan blazer seragamku dan kuberikan kepadanya. Dia hanya terkejut melihat tingkah lakuku.

“Kenapa diam saja? Pakailah!” Teriaku kepadanya. Dia hanya bergumam tidak jelas dan memakainya. “Setidaknya kau bisa istirahat sebentar.” Ucapku yang memang merasa kasihan melihatnya berdiri dari tadi. Dia memukul lututnya pelan secara berulang kali. Sangat pegal ya?

“Sudah. Ayo kita pulang.” Ucapnya dengan wajah datarnya. Aku lantas melajukan sepeda ini ke panti asuhan. Sifatnya kali ini terhadapku sedikit aneh. Atau memang aku yang bersikap aneh terhadapnya?

###############################

Author POV

Clara dan Baekhyun sampai dip anti asuhan dengan selamat. Clara langsung bergegas ke kamarnya. Sedangkan Baekhyun juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua segera mengganti baju seragamnya dengan baju kering.

Clara turun dan pergi ke dapur untuk membuat coklat hangat. Dibuatnya coklat hangat itu. dihabiskannya 2 batang coklat, karena menurutnya pasti dia dapat menghabiskannya. Lantas Clara menuangkan coklat panas itu ke cangkir.

“Wah… Kelihatannya enak dan hangat.” Baekhyun yang entah kapan datangnya sudah berada di samping Clara dengan mata berbinar-binar menatap sisa coklat hangat.

“Boleh kumintakan? Lagipula kau juga sudah punya.” Ucapnya yang tanpa basa-basi mengambil cangkir baru. Tanpa permisi, Baekhyun menuangkan coklat hangat itu ke cangkirnya.

“Pas untuk porsi dua orang. Kau pakai dua batang ya? Gomawo.” Ucapnya lalu pergi begitu saja. Clara hanya termenung mendapati tingkah laku Baekhyun yang sering berubah-ubah secara drastis.

Clara menghela nafas berat. Dia tidak mungkin mengambil cangkir itu dari Baekhyun secara paksa. Dan melihat Baekhyun yang sedang duduk di ruang tamu sambil meminum coklat itu pun semakin membuat Clara tidak tega.

Jika dilihat lebih jelas, benarkah Baekhyun anak tunggal dari perusahaan MG Group? Tapi sifatnya tidak menunjukan sisi dewasa sekalipun. Malah terlihat seperti bertele-tele dan menyebalkan. Tapi apakah dia memiliki wajah berbeda lagi ketika di hadapan perusahaannya? 

Entahlah, Clara hanya menghela nafasnya dan berusaha tidak memikirkan orang itu.

“Clara-ssi, bolehkah kupinjam gitarmu?” Tanya Baekhyun kepada Clara yang hendak menaiki tangga. “Boleh saja. Asalkan kau tidak merusaknya atau bahkan mencurinya dariku. Harus mulus seperti sedia kala.” Clara menjelaskan dengan tampang datarnya.

Baekhyun hanya tersenyum kecil atau lebih tepatnya tersenyum jahil. Clara segera bergegas mengambil gitarnya. Dibawanya gitar itu ke dekapan tangan Baekhyun. Clara duduk di depan Baekhyun dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan namja itu menggunakan gitarnya.

“Kenapa kau duduk di situ?” Ucap Baekhyun ketus dan seperti membuat Clara harus pergi dan tidak untuk mengganggunya. Ternyata Clara sangat tidak peka terhadap kaa-kata yang tersembunyi di dalam kalimat itu.

“Tentu saja untuk melihatmu. Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan.” Ucap Clara dengan datarnya dan meminum coklat hangatnya yang diletakannya di meja. Baekhyun hanya menggerutu tidak jelas. Tangannya bersiap-siap untuk memainkan sebuah nada. 

Seketika itu pula ……

“Aku tidak bisa main gitar.” Ucap Baekhyun dengan polos dan tampang innocentnya. Keadaan hening seketika. Bahkan suara angin di dalam ruangan itu terdengar. Keduanya saling menatap satu sama lain. Wajah Baekhyun merah seperti tomat yang sangat-sangat matang.

“Eh?” akhirnya Clara bersuara. Seketika itu pula keadaan menjadi hening kembali. “Jika tidak bisa, untuk apa kau meminjamnya?” Tanya Clara kepada Baekhyun yang sedang entah memetikan dengan nada apa itu.

“Aku merindukan suara gitar.” Ucapnya tersenyum getir. Clara tidak bisa apa-apa. Dia hanya diam dan menunggu Baekhyun melanjutkan kata-katanya.

“Appa dulu sering sekali bermain gitar. Sekarang, bahkan mencariku yang hilang dari rumah pun dia tidak sempat.” Ucap Baekhyun tersenyum sedih dan sangat dipaksakan. Baekhyun sangat malu menatap wajah Clara secara langsung. Yah, walaupun biasanya dia tidak pernah malu menatap Clara.. Kekeke..

“Sesibuk itukah orang tuamu?” Tanya Clara yang dibalas anggukan kepala Baekhyun. Seorang Byun Baekhyun yang selalu meledekinya sekarang terlihat sangat rapuh. Kurang kasih saying keluarga tentunya.

“Kau berharap mereka menemukanmu dan membawamu pulang?” Tanya Clara yang membuat Baekhyun menatapnya dengan tatapan yang bukan seperti Byun Baekhyun.

Dewasa.

Tatapan dewasanya membuat hati Clara sedikit takut. Tatapan kekanakannya entah hilang kemana dan digantikan dengan tatapan dewasa dan penuh karisma.

“Tentu. Aku hanya berharap seperti itu.” Ucapnya tanpa merubah ekspresi wajahnya dan tetap menatap Clara. Yang ditatap semakin bergidik ngeri dan seketika itu pula pikirannya otomatis kembali ke sekolahnya. Dimana ternyata ada tugas. Yeah, Clara memiliki tugas yang harus dikumpulkan besok. Sangat banyak.

Clara menepuk jidatnya dengan keras dan tatapannya berubah menjadi tatapan horror. “Aisshh.. Bisa mati aku! Sunbae! Aku minta maaf! Aku ada tugas!” Ucapnya yang langsung lari terbirit-birit ke lantai dua. Baekhyun hanya menatap kosong kursi yang diduduki Clara tadi.

“Sunbae? Dia memanggilku apa?” Ucap Baekhyun tak percaya dengan kata yang didengarnya. Tentu hatinya senang bukan main. Tatapan dewasanya berubah menjadi tatapan kekanakan yang jahil tetapi bahagia. Seperti anak kecil yang mendapatkan banyak hadiah.

Tadi, tanpa Clara sadari, dirinya memang menyebut Baekhyun dengan sebutan ‘sunbae’ yang entah meluncur saja dari mulutnya. Jangan kasih tau Clara ya? Nanti dia ngamuk-ngamuk sama author lagi #Plakk . Oh ya, Clara itu OC ya? Hehehe..

Senyuman Baekhyun yang lebar menjadi hanya sebuah senyuman tipis. Baekhyun memandang sedih gitar yang berada dalam dekapannya. Kapan lagi appa-nya akan bermain gitar untuknya? 

Bahkan orang tuanya tidak peduli kepadanya. Pikiran Baekhyun terus menerus mengulangi memori tentang kehangatan orang tuanya dulu. Tapi sekarang, orang tuanya disibukan dengan berbagai macam pekerjaan yang sangat memusingkan. Baekhyun tahu, orang tuanya tidak ingin membuatnya kesusahan. Orang tuanya tidak memberikannya tugas atau tanggung jawab sekecil apapun. Kecuali jika ada pertemuan-pertemuan penting disitulah peran Baekhyun sebagai pewaris tunggal muncul.

#################################

Clara POV

Bisa mati aku jika tidak mengerjakannya sekarang! Aku segera membuka buku-buku tebal itu di meja belajarku dan mulai menggali berbagai macam ilmu yang memang memusingkan kepala dan membuat otaku berasap dan meletup-letup.

2 jam berlalu…

Aku bahkan mengabaikan panggilan ahjumma dan adik-adiku. Aku merasa bersalah sekarang. Baru saja kukerjakan setengah. Masih ada setengah lagi yang menungguku.
Entah sekarang jam berapa yang pasti aku harus menyelesaikan ini. Sudah kutanyai Eun Jeong berkali-kali, dia juga tidak mengetahui jawabannya dan bahkan belum mempelajarinya lebih lanjut. Aissh!

TUK TUK!

Ketukan pintu kamarku yang tadinya akan ku abaikan tiba-tiba menjeblak begitu saja. Munculah sesosok makhluk(?) yang bernama Byun Baekhyun sambil membawa gitarku ditangannya.

“Wah, sedang sibuk ya? Gitarnya disimpan dimana?” Tanyanya. Kualihkan pandanganku dari buku tebal ini dan menatap ke arahnya. “Simpan saja dikasur.” Ucapku yang sedang malas berbicara. Kudengar suara senar gitar sedikit terdengar diiringi suara gitar yang disimpan di atas kasurku.

“Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya yang membuatku memutar 180 derajat kepalaku dan juga tubuhku. Kulihat dia duduk dikasurku tepat di belakang kursi yang aku duduki. Kutatap matanya mencari-cari kebenaran tentang tawarannya. “Aku serius.” Ucapnya yang sepertinya mengerti tatapan mataku ini. Mau tak mau aku harus bertanya kepadanya. Siapa lagi yang bisa kumintai tolong.

“Bisa kau membantuku?” Ucapku yang memang terdengar seperti memohon. Dia hanya tersenyum penuh makna dan berjalan ke sampingku. Ku balikan lagi posisi badanku dan menatap buku-buku tebal itu. kulihat dia berdiri dengan membungkuk untuk membaca dengan jelas isi tulisan itu.

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku memang aneh! Kurasakan deru nafasnya yang sangat dekat. Kurasakan pula aroma tubuhnya yang memang memiliki aroma yang khas. Aku menepis segala pemikiran itu dan mataku tertuju kepada buku-buku itu lagi.

Dia berjalan ke arah pintu. Hei! Apakah dia meninggalkanku begitu saja? Tapi pemikiranku hilang ketika melihatnya masuk kembali sambil membawa kursi ditangannya. Ditaruhnya kursi itu tepat disebelahku. Aku merasakan detak jantungku yang sangat cepat ini. Ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini. Sangat aneh!

Proses pembelajaran dimulai. Tak kuduga seorang Byun Baekhyun dapat bersikap seperti guru atau bisa disebut sebagai kakak. Kehadirannya dan kesabarannya yang mengajariku terlihat sangat dewasa. Kemana lagi sikap kekanakannya itu? apakah sedang disembunyikan dibalik tirai merah ‘karakter’ yang berada di tubuhnya? Jika seperti ini, terlihat sikap yang sangat cocok untuk menjadi seorang pemimpin muda. Pemikiranku terhadanya salah.

Aku terbangun dari lamunanku setelah merasakan pukulan buku di kepalaku. Dia hanya terkekeh tidak jelas dan kembali menjelaskannya. Ada apalagi dengan orang ini?

########################

Seperti kalian ketahui, aku berangkat bersama Baekhyun lagi hari ini. Ketika aku pergi ke teras, kulihat ada dua buah sepeda di hadapanku. Dua buah sepeda?

“Ini apa?” Ucapku yang bertanya kepada Baekhyun yang berada di sebelahku. “Tentu saja sepeda.” Ucapnya dengan nada yang menyebalkan. “Dari mana kau mendapatkannya? Jangan bilang kau mencurinya?” Ucapku memicingkan mataku dan menatapnya.

“YA! Untuk apa aku mencuri sepeda? Tentu saja aku mengambilnya, kau tahu?” Ucapnya yang membuat aku bertambah penasaran lagi.

“Mengambilnya?” Tanyaku yang memang sangat-sangat tidak mengerti.

“Kusuruh Sehun untuk mengambilnya dari rumahku. Dan ternyata berhasil. Kau tahu tidak? Katanya mereka tidak curiga sekalipun kepada Sehun. Bahkan, orang tuaku pergi ke Amerika untuk seminggu. Utusan Sehun menaruhnya disini tadi subuh. Aku, benar-benar menghilang.” Ucapnya sambil menerawang jauh. Ada apalagi sebenarnya? Dari pada membuat suasana menjadi semakin buruk, lebih baik aku segera menyuruhnya untuk bersiap-siap.

“YAA! Kau tidak mau pergi ke sekolah? Lihat sudah jam berapa ini?!” Ucapku marah kepadanya. Tentu saja dapat kulihat wajahnya panic bukan main.

“Aku tidak mau telat!!!” Teriaknya lalu melajukan sepedanya dengan kecepatan penuh dan meninggalkanku.

“Dasar! Jika tadi dia kerumahnya, kenapa tidak sekalian mengambil mobilnya? Pabo.” Kuucapkan kata-kata itu. “Bukannya sekalian mengambil uang.” Lanjutku terus mengoceh dan menaiki sepedaku.

################################

“Halo?” Aku mengangkat nomor tak dikenal dari ponselku. “Apa kau benar Park Clara?” Tanya suara diseberang sana. Aku yang sedang makan segera pergi ke halaman belakang karena ini bukan telepon biasa.

“Iya. Maaf anda siapa?” Tanyaku dengan sopan. “Maaf. Namaku Park Miwoo.” Lanjut suara diseberang sana. “Park Miwoo? Siapa?”

“Ah, aku anak dari Park Seung Jil. Kau ingat bukan?” Tanya suara disana. Aku benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakannya. “Kita memnag belum pernah bertemu, adik sepupuku.” Ucap suara disebarang sana. 

Apa? Adik sepupu? Berarti dia kakak sepupuku?

“Bisakah kita bertemu. Aku ingin melihatmu. Kudengan kau sekolah di Seoul High School. Aku tunggu kau di pintu gerbang.” Ucap suara di seberang sana dan segera menutup sambungan teleponnya. Dadaku bergemuruh tak karuan. Apakah dia benar-benar keluargaku? Aku benar-benar tak tahu.

###############################

Setelah meminta izin, aku segera pergi ke gerbang. Disana sudah terdapati namja berambut hitam yang bergaya berantakan dan menggunakan kaca mata  hitam sedang bersandar di pintu pagar. Kaos putih dan celana jeansnya juga melengkapi ketampanannya. Dia benar-benar kakak sepupuku?

“Park Minwoo?” Ucapku menyapanya. Kulihat dia sedikit terkejut dan memandangiku dari atas sampai bawah. “Ne. kau Park Clara?” Ucapnya melepas kacamata hitamnya dan tersenyum sangat lebar. Jika dilihat sungguh tampan namja ini. Senyumnya…. 

Seperti senyumku! Aku pernah sesekali tersenyum seperti itu di cermin.

“Wah, kau sangat cantik.” Ucapnya dan menarik tanganku dan membawaku ke café yang tak jauh dari sekolahan. Café dimana aku menunggu Byun Baekhyun.

“Kau benar-benar kakak sepupuku?” Tanyaku tak percaya. “Lalu kau pasti tau orang tuaku?” Kulihat dia membulatkan matanya. “K..Ka…Kau? Kau benar-benar tinggal dipanti asuhan?” Ucapnya tak percaya. “Ne. Bisakah kau menjelaskan perihal keluarga ‘kita’?” Kusedikit menekankan di kata ‘kita’. Kulihat dia memasang wajah seriusnya. 

Kuputar kembali penjelasan tentang PC Group versi Baekhyun. Ahahahaha… Mana mungkin…

“Kau anak tersembunyi paman Seung Joon ya?” Ucapnya. Paman? Aku semakin tidak mengerti. Pikiranku memaksaku untuk mengingat selisih keluarga PC Group.

“Kau pewaris PC Group selanjutnya, Clara-ya.” Ucapnya yang membuatku membulatkan mataku dengan sempurna.

“A..apa?” Ucapku dengan terbata-bata. “Ketika Seung Joon ahjussi sedang miskin dan tidak tahu menahu PC Group, aku memperhatikan kalian dari jauh. Aku yang masih kecil saat itu merasa senang melihat kehadiranmu. Tapi appa dan eomma bahkan kakek melarangku untuk sekedar bertemu denganmu. Bagaimanapun, PC Group hanya boleh diketahui oleh anak pertama. Saat kecelakaan itu, aku tak sanggup mengurus perusahaan. Aku masih kecil. Aku bahkan belum tahu cara berperilaku dengan baik. Aku menyerahkannya kepada ahjussi. Appa-mu. Dari situlah keluargamu bangkit. Kau tahu? Aku berharap dapat bermain denganmu dan melupakan kenangan orang tuaku. Tapi kau tidak ada. Hingga, aku mencarimu. Kudengar dari ahjussi dia menaruhmu di depan sebuah panti yang entah apa namanya. Appamu berubah Clara-ya. Dia menjadi gila harta. Bahkan tidak mencarimu bukan? Aku menemukan infomu dan segera menemuimu. Dan disinilah aku.” Park Minwoo. Tak kurasa mataku memanas. Air mataku turun dan tidak dapat ku kendalikan. Namja Park Minwoo itu langsung berdiri dan berjongkok disebelahku dan menariku dalam dekapannya.

“Menagislah. Oppa akan ada untukmu.” Ucapnya dengan lembut di telingaku. Minwoo Oppa semakin mengeratkan pelukannya dan aku balas memeluknya. 

Yeah, Minwoo Oppa. Oppa baruku yang akan melindungiku telah hadir sekarang.

“Oppa, apakah aku harus muncul?” Ucapku terisak. Dia hanya menghela nafas. “Terserah kau. Clara-ya, Oppa akan membantumu. Oppa berjanji.” Ucapnya yang semakin membuatku terbuai dengan pelukan hangat seorang kakak.

Setelah meredakanku, aku kembali tersenyum dan menyambut kehadiran Minwoo Oppa. “Oppa? Kenapa kau tidak muncul di media sebagai anak pewaris utama PC Group.”

“Aku tidak ingin mereka tahu. Lebih baik kusembunyikan identitasku dan menyerahkan semuanya kepada appa-mu.” Ucapnya dengan senyum menyejukan. “Aku ingin bebas dan ..... ” Ucapnya dan segera beranjak dari kursinya.

“Ayo kita pergi ke kakek.” Ucapnya. Apa? Kakek? Kenapa sangat cepat?

“Aku sudah memberitahu tentangmu kepadanya. Dia berjanji akan menutup mulut sampai kau siap Clara-ya.” Ucapnya lagi dengan sangat menenangkan hati.

Aku hanya mengangguk dan pergi kembali ke kelasku untuk mengambil tas dan meminta izin. Aku berjalan disekitar lorong kelas XI seperti biasa. Kulihat Baekhyun, SuHo, D.O dan Chanyeol sedang membuat kegaduhan.

“Kau mau pulang?” Tanya Baekhyun kepadaku. “Tidak.” Ucapku singkat dan melewat begitu saja dan menundukan kepalaku dengan hormat. Yeah, bukan Cuma Bekhyun di tempat itu. aku tidak bisa asal melewat begitu saja.

Setelah percakapan singkat itu, Miwoo Oppa sudah menungguku di  dalam mobilnya.

“Masuklah.” Ucapnya sambil tersenyum hangat kepadaku.

Author POV

Clara masuk kedalam mobil Miwoo dengan wajah berseri-seri. Mobil itu melaju keluar dari lingkungan sekolah.

Tanpa mereka sadari, ada tatapan tidak enak dari sepasang mata yang memerhatikan mereka dari tadi. Orang itu bergumam tidak jelas dan memandang tidak suka mobil yang sudah sampai gerbang sekolah.

“Ada apa ini sebenarnya?” Ucap orang itu masih dengan tatapan menusuknya.


-TBC-

Gimana? Gimana? Udah ketahuan ya Clara itu siapa. Author juga entah jadi gereget buat FF ini. Hehehe.. Konfliknya belum parah sih. Udah ada kok konfliknya, tapi masih di khayalan.. Kekeke.. Belum ditulis maksudnya.. Banyak ya cast barunya? Tapi inget-inget ya? Karena mereka sangat penting perannya di perjalanan FF ini. Gk banyak banget kok. Tanpa mereka rasanya hambar #apaancoba?
Gk semua cast hadir di setiap chapter, hanya ada beberapa yang masuk *absen*
Author lagi sibuk-sibuknya nih.. Mian kalo next chap lama. Karena pelajaran tidak ada kata menunggu. Apalagi mau UN. Huhuhu.. Author belum ada pengalaman di SMA, hehehe. Ini hanya sepengetahuan author seputar SMA. Tapi bentar lagi author ngalamin kok. Beres UN dan munculah pengalaman baru tentang SMA nanti.
Semoga nanti lulus *amin*.
Jangan lupa comment nya. Gomawo udah mampir ^ ^. Sampai jumpa di next chapter.. ^ ^


Komentar

Postingan Populer