FF EXO Home (Chapter 2)

HOME

Title                 : Home
Author             : Park Hwa Rin (@KintanHA)
Genre              : Family, Friendship, Life, Little Romance
Rating(s)         : G (Semua Umur asal bisa Baca ^ ^)
Cast                 : Park Clara (OC)
                          Byun Baekhyun (EXO-K)
                          Jang Eun Jeong (OC)
                          Han Jin Ri (OC)
Other Cast      : Find by Yourself ^ ^
Length            : Chaptered
A/F                  : Annyeonghaseo, Author kembali dengan FF EXO again.
FF ini muncul begitu saja karena melihat berita di TV tentang anak di Panti Asuhan. FF ini 100.000.000.000.000 murni permikiran author. Maaf jika ada typo. Don’t COPAS, Don’t Plagiat, and Don’t be SILENT READER(S) *kacaubahasainggrisnya* . Cukup cuap-cuapnya. Enjoy~

################################ (Chapter 2)


“Aku Siap!” Ucapku mantap sambil berbinar-binar.


Author POV

            Clara kembali ke panti asuhan. Matahari mulai mengeluarkan sinar kuning ke-emasan yang menyatakan bahwa langit akan berganti menjadi gelap. Jujur saja, Clara tidak mau beranjak dari tempat itu. Akan tetapi, pasti adik-adiknya telah bangun dan menangis meminta makanan(?).

            CKLEK! *bunyipintudibuka*

            Clara masuk dengan langkah yang santai. Besok dia harus menjalani hari ‘Senin’ . Hari yang ditetapkan sebagai hari ‘kacau’ untuknya. Kejadian masa kecilnya itu terjadi tepat pada hari senin ketika dirinya ditinggal di depan pintu panti asuhan. Kedua, hari senin hari Baekhyun dan kawan-kawan menjahilinya kerena dirinya harus bolak-balik ke ruang kepala sekolah untuk mengantarkan beberapa dokumen kelas. Ketiga, hari senin adalah jadwal piketnya. Keempat, dirinya selalu mengalah kepada adik-adiknya untuk menggunakan kamar mandi secara bergantian dan pasti saja dirinya selalu telat untuk kesekolah dan menjadi bahan candaan Baekhyun dan kawan-kawan. Kelima, hari senin jadwalnya untuk bersih-bersih kamarnya dan juga adik-adiknya. Ke-enam, hari senin malam adalah hari kerja Part-Timenya di sebuah café, walaupun jadwalnya hari Senin,Rabu,Jum’at,Minggu. Hari ini juga dia harus kerja ke café itu. Berhubung sekarang hari Minggu.

            Apa pekerjaan Clara? Sebagai penyanyi di café yang menggunakan gitar. Yup! Clara berusaha menghasilkan uang untuk keperluan dirinya sendiri. Apalagi, panti asuhan ini tidak mungkin menampung dirinya untuk berlama-lama, karena itu Clara bertekad menemukan keluarganya secepat mungkin.

            “AKU PULLAANNGG!” teriak Clara di pintu. Mendengar teriakkan eonni/nuna kesayangan mereka, mereka semua langsung turun dari lantai atas.

            “Nuna, kau tadi kemana?”
            “Eonni kau bawa makanan?”
            “Aku lapar!”
            “Nuna, kau lama sekali!”
            “Eonni, kau habis darimana?”

            Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut mereka semua. Clara hanya tersenyum mendengarnya dan membalasnya dengan kata-kata super cepat seperti kebanyakan rapper.

            “Aku habis dari surga. Aku tidak bawa makanan. Kau lapar? Aku tidak lama. Aku akan buatkan kalian makanan. Aku harus berangkat nanti jam 7. Jadi jangan menangis.”

            Setelah itu Clara dan adik-adiknya tertawa layaknya ada sebuah lelucon yang sangat lucu. Tak terkecuali ahjumma dan Eun Jeong. Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat sangat heran melihat satu keluarga bahagia itu tertawa semua. Baekhyun memperhatikan Clara dari jauh dan tersenyum tipis. OMO! Senyumnya~ #tendangauthor.

            Clara langsung bergegas ke dapur membantu ahjumma dan Eun Jeong yang sedang masak. “Ahjumma, biar aku saja.” Ucap Clara mengambil alih penggorengan ahjumma. Proses masak memasak pun dimulai…

############################################

Clara POV

            Akhirnya selesai juga.. Hahaha.. Aku, ahjumma, dan Eun Jeong membawakan nampan berisi penuh 10 jenis makanan yang berbeda dengan porsi besar ke meja makan. Disana sudah kulihat adik-adikku yang super manis menanti makanan dengan wajah berseri-seri. Cih! Seperti tidak diberi makan saja -_-

            Kulihat Baekhyun yang menjilat bibirnya dan tak henti-hentinya melihat ke arah nampan yang dibawakan. Dasar.

            Setelah proses membawakan nampan-nampan itu berakhir, kami pun melanjutkan makan malam kami. Masih ada waktu 20 menit sebelum aku bekerja. Aku makan dengan lahap dan sedikit terburu-buru. Ketika aku akan memasukkan sesendok nasi ke mulutku, kulihat Baekhyun menatapku dengan tatapan datarnya.

            “Kenapa melihatku seperti itu?” suaraku menggelegar. Yah, mungkin aku meninggikan nada suaraku agar sampai ketelinganya yang berada di depanku. Depanku!

            “Aissh, aku ini di depanmu! Tidak perlu berteriak!” Ucapnya sambil memasukkan kimchi ke mulutnya.

            Aku menatapnya tajam dan sinis. Dia juga balik menatapku dengan tatapan yang sama tajamnya dan sinisnya. Sepertinya dia tidak mudah ditaklukan.

            Makan malam pun selesai. Aku langsung membawakan piring kotor ke dapur. Adik-adik manis ku juga ikut membantu. Duuuhh manisnya…

            Kulihat namja menyebalkan itu juga ikut membantu. Tahu diri juga akhirnya. Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Eun Jeong yang akan mencuci piring malam ini.

            Kurang lebih 5 menit aku keluar dengan pakaian bagusku. Aku langsung lari secepat kilat ke kamar untuk menyisir dan menorehkan sedikit make up tipis dan natural di wajahku. Tak kulupa juga kubawa gitar kesayanganku.

            Aku turun tanpa sepatah kata pun. Aku buru-buru memakai sepatu putihku dan meminum jeruk hangat yang dibuatkan ahjumma untuk menjaga pita suaraku.
            Kulihat Eun Jeong yang melambaikan tangannya dan adik-adikku juga.. Hohoho.. Seperti aku akan pergi jauh saja..
            “Kau mau kemana?” Tanya Baekhyun ketika aku sedang berjalan ke arah pintu.
            “Kerja.” Ucapku singkat dan membuka pintu. “AKU PERGII!!” Teriakku dan langsung berjalan cepat ke café yang hanya 500 meter dari panti asuhan.

#########################

Author POV

            “Terima kasih atas perhatian kalian!” Teriak Clara setelah menyelesaikan satu buah lagu yang membuat pendengarnya menjadi merasakan manisnya cinta.. Hehehe..
            “Clara-ssi! Kau menampilkan hal bagus hari ini. Lagi dan lagi.” Ucap pemilik café tersebut yang sangat bangga dengan Clara. Clara hanya tersenyum senang mendengarnya. Clara mengedarkan pandangannya ke luar jendela café. Kaca tersebut basah.
Hujan.
Clara lupa tidak membawa payung untuk hari ini. Dia hanya menghela nafas dan menunggu hujan berhenti. Awalnya pegawai yang lain mau meminjamkannya payung, tapi Clara tak enak hati. Jadilah dia menolaknya.

            “Kenapa harus hujan?” Clara memakai jaket yang memang hanya menghilangkan sedikit rasa dingin di tubuhnya. Clara memutuskan untuk menunggu hujan reda di depan pintu café. Sepatu putihnya sudah kotor. Penuh kotoran-kotoran yang dibawa oleh air hujan.

            “Pabo.” Clara menolehkan kepalanya ke samping kanannya. Matanya tak percaya menangkap sesosok makhluk(?) yang dilihatnya. “Eh? Sedang apa kau disini, Baekhyun?” Ucap Clara yang terheran-heran melihat namja itu.

            “Kenapa? Apa tidak boleh?” Dengan wajah datar dan sinisnya Baekhyun memandang Clara.

            Merasa akan seperti diajak perang, Clara mengalihkan pandangannya.

            “Seorang yeoja tidak boleh sendirian malam-malam.” Ucap Baekhyun terus terang dan memandang langit yang gelap.

            “Cih! Sejak kapan kau peduli padaku?” Ucap Clara tak kalah datarnya. Baekhyun hanya mengangkat bahunya dan mengeluarkan sesuatu dari jacketnya.
            “Ini payungmu. Ahjumma bilang kau tidak bawa payung, dan hanya membawa gitar itu.” Baekhyun menunjuk tas gitar Clara dengan dagunya.

            “Kau mengantarkannya?” Ucap Clara penuh harap. Clara mungkin merasa penilaiannya untuk Baekhyun selama ini salah. Dan inilah Baekhyun yang asli.
            “Berharap sekali. Tentu saja aku disuruh! Mana mungkin hujan seperti ini aku mengantarkannya!” Ucap Baekhyun dengan nada yang tinggi.
            “YA! Kau ini lebih tua dariku! Harusnya kau peduli dengan dongsaengmu!” Ucap Clara lalu detik kemudian dia menutup mulutnya rapat-rapat melihat wajah Baekhyun yang seperti akan memakannya hidup-hidup.

            “Aku tidak memiliki dongsaeng sepertimu! Dan kau juga tidak pernah menghormatiku layaknya orang yang lebih tua darimu! Untuk apa kau peduli denganmu?!” Baekhyun mengakhiri amarahnya dengan bergumam tidak jelas.

            “Aissh.. Ya sudah! Kau mau pulang, tidak?” Clara langsung membuka payungnya. Dilihatnya Baekhyun masih bergumam. “YA! Cepat pulang!” Kata Clara dan jalan terlebih dahulu. Setelah itu, Baekhyun mengikutinya dari belakang. Langkah Clara berhenti sebentar dan menolehkan kepalanya ke belakang. Sepertinya Baekhyun tak peduli, sehingga hanya berjalan saja melewati Clara yang hendak mengatakan sesuatu. Dan pada akhirnya, Baekhyun jalan duluan meninggalkan Clara yang masih terdiam di tempatnya.

            “Ya Tuhan. Semoga orang itu tidak seperti ini lagi.” Clara mengucapkan sambil menggenggam kalungnya dan menatap punggung Baekhyun yang samar-samar dan hanya diterangi oleh lampu jalan. Clara tidak mau mendo’akan Baekhyun yang jelek-jelek. Bagaimanapun orang itu sudah membantunya tertawa lepas.

############################

Baekhyun POV

            Dasar yeoja aneh! Pantas saja dirinya cocok menjadi bahan bully-an ku. Sikapnya yang bodoh membuatku muak. Malam ini aku akan tidur berasama yang lainnya. Bersama adik-adik kecil baruku.

            Senin.

            Hari paling menyenangkan yang aku tunggu sudah tiba! Kubongkar pakaian di tas koperku. Dan ku keluarkan baju seragamku. Aku segera bergegas untuk mandi. Aku bangun sangat pagi sekali. Dan kuyakin pasti nanti walaupun ada 2 kamar mandi, dan masuknya bersama-sama, pasti nanti akan antri. Dan untuk agar nyaman, dan agar dapat mandi tanpa diganggu, aku bangun sepagi ini. Hehehe.. Aku yakin, sangat yakin, yeoja tak sopan itu pasti akan telat. Karena itulah rutinitasnya di hari senin.

#############################

            Aku sudah siap untuk sarapan. Dan kulihat adik-adik yang lain baru bangun tidur dan saling bertubrukan satu sama lain. Akhirnya nona besar turun juga. Lihat itu! Rambutnya berantakan layaknya nenek sihir! Apakah dia tidak menyadari ada aku di sini ya? Tak kulupa untuk mengabadikan momen ini dengan ponselku. Ponsel yang telah kubuang nomornya ini, menjadi hiburanku.

            Aku bangkit dari meja makan ini dan pergi ke dapur. Ada roti. Hahaha.. Yang kuherankan dari panti asuhan ini adalah, tak adanya pengasuh lain selain ahjumma. Apakah Clara dan Eun Jeong sebagai pengasuh juga disini? Memang sih tidak banyak anak yang tinggal disini. Dan mereka semua sudah pada sekolah TK. Paling besar SD kelas 2. Jadi, angkatan Clara dan Eun Jeong kemana? Apakah sudah diadopsi ya? Lalu kenapa mereka tidak? Yah sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal itu di pagi yang cerah ini.

            Aku mengoleskan selai coklat di roti tersebut dan menuangkan segelas susu. Tanpa basa-basi aku kembali duduk di meja makan. Kulihat Eun Jeong yang sudah memakai seragamnya. Ternyata dia sekolah di sekolah yang berbeda. Dan sepertinya lagi, Eun Jeong lebih rajin dibandingkan yeoja yang berambut nenek sihir itu.

            “Annyeong, Oppa!” Sapa Eun Jeong dengan sopannya dan memakan roti yang sama denganku. “Ah.. Ne!” Jawabku lalu melahap habis rotiku dan meminum susu putih. “Kau sudah mau berangkat?” Tanyanya lagi. “Ne. kau tidak berangkat?” Tanyaku yang dibalas gelengan kepalanya. “Aku menunggu Clara. Tapi aku sepertinya harus duluan.” Ucapnya melirik ke arah Clara yang masih menunggu antrian sepertinya.

            “Ah, Baekhyun-ssi. Kau sudah mau berangkat?” Tanya ahjumma yang sudah rapi. “Ne.” Jawabku sambil tersenyum. “Mmm.. Untuk uang saku, minta saja ke Clara, ne? tapi kau harus menunggunya sampai selesai dulu. Bisakah kalian berangkat bersama? Kalian kan satu sekolah, bukan?” Aku terkejut mendengarnya. Aku hanya tersenyum kecil lalu kembali duduk. Eun Jeong menatapku dengan tampang salah tingkah. Aku menuruti saja permintaan ahjumma, daripada aku tidak mendapatkan uang saku? Tapi kenapa harus minta ke nenek sihir itu?

##############################

            Rasanya sudah sampai berjuta-juta tahun menunggunya selesai. Kulihat dia sudah turun dengan seragamnya dan memberiku sebuah amplop. “Ini.” Ucapnya singkat lalu berangkat duluan. Kusimpan amplop itu. Sudah jelas isinya uang. Eun Jeong sudah berangkat dari tadi. Sudah seperti apa aku hari ini.

            “Kemana jalan ke sekolah?” Tanyaku padanya. “Tak jauh.” Jawabnya singkat tanpa menolehkan kepalanya padaku sedikitpun. Tidak sopan memang. Tapi aku berusaha menjadi yang terbaik dari semua hal yang baik. Aku mengikutinya sampai di depan panti asuhan. Kulihat dirinya mengeluarkan sepeda.

            “Kau naik sepeda? Bagaimana denganku?” Tanyaku takut-takut. Dia hanya menganggukan kepalanya lalu menaiki sepedanya. “Jalan kaki.” Ucapnya singkat. Aku membulatkan mataku. Seorang Byun Baekhyun jalan kaki ke sekolah! Tidak boleh!

            “Kenapa? Kau tak mau? Masa harus aku memboncengmu.” Ucapnya ketus. Seketika ide gila melintas dikepalaku. Seperti ada lampu yang menyala dengan terang dikepalaku.

            “Biarkan aku yang mengendarainya. Kau yang kubonceng.” Ucapku tersenyum konyol. Kulihat dia membulatkan matanya dan menatapku tak percaya.

            “Cepat! Nanti kita terlambat!” aku langsung merebut sepeda itu. Yah, ini sih memang sepeda untuk satu orang, mau bagaimana lagi, dia harus berdiri.

            “Naik kebelakang. Mau tak mau kau harus berdiri sambil memegang pundakku.” Ucapku dengan tergesa-gesa. Dia sempat melirik ke arah jam tangannya. Dan setelah mendecakkan lidahnya, akhirnya dia menuruti ucapanku juga.

            Kulaju lumayan kencang sepeda ini. Kurasakan genggaman tangannya semakin kuat dibahuku.

            “YA! Byun Baekhyun! Pelan-pelan! Aku nanti akan jatuh!” Teriaknya di sela-sela perjalanan. “YA! Kau tidak lihat jam?!” Jawabku agak kesal. Kulihat dia hanya diam sepanjang jalan.

#####################################

Clara POV

            Orang gila ini memaksaku dengan mau tidak mau. Dasar! Oh ya, seingatku bukankah dia memotretku ya? Hahaha.. *smirks* Baiklah akan aku mintai bayarannya karena dia sudah menaiki sepeda kesayanganku yang sama sekali belum disentuh siapapun kecuali diriku.
Akhirnya, kami tiba disekolah. Aku memintanya untuk turun sekitar 100 meter sebelum pintu gerbang.

            “YA! Byun Baekhyun!” aku mengambil ancang-ancang untuk ke gerbang sekolah. Dia turun sambil merapikan rambutnya dan menepuk-nepuk tasnya. Dia hanya membalas ucapanku dengan menatap mataku.

            “Hapuslah foto gilaku di ponselmu. Baru aku akan memaafkanmu karena telah membuat hariku semakin kacau di hari senin.” Ucapku lalu melesat pergi.

            Kulihat dia sempat gugup karena sama saja dirinya tertangkap basah di depanku. Tapi, hal ini tidak berlangsung lebih lama. Byun Baekhyun di Panti Asuhan dan Byun Baekhyun di Sekolah adalah 2 kepribadian yang berbeda. Dimana di Panti, dia bersikap layaknya seorang kakak yang peduli terhadap yang lain, jika disekolah pastilah sikap ‘bos’ nya muncul dan membully lagi orang sepertiku. Tapi anehnya, banyak para yeoja yang tergila-gila padanya. Termasuk kakak kelasnya. Kuakui memang dia anak orang kaya, terlihat dari penampilan, gaya bicaranya, dan sikapnya. Menurutku wajahnya memang ….. err ….. lumayan ….

            Kami tidak terlambat kok. Ketika aku masuk kelas, masih banyak bangku kosong. Tapi ini tidak masalah. Karena aku memang orang yang seperti ini. Karena ulah Baekhyun dan yang lainnya, aku memang dijauhi. Menyakitkan. Sangat menyakitkan. Aku tidak mempunyai sahabat sekalipun di sekolah ini. Dahulu, aku memilikinya. Kau tahu siapa dia? Namanya Han Jin Ri. Bisa dibilang adiknya Han Jin Young. Kalian ingat nama itu bukan? Jin Ri adalah adik perempuan Jin Young yang akan dijodohkan dengan Baekhyun.

 Aku mengenalnya ketika awal masuk ke sekolah ini. Dan aku sudah mengetahui perasaannya terhadap Baekhyun semenjak kami mulai bersahabat. Tapi, persahabatan kami tak berjalan mulus. Semenjak dirinya dijodohkan dengan Baekhyun, dirinya menjadi sombong. Aku baru tahu ini. Dan dia juga menjauhiku karena dikiranya aku mendekati Baekhyun dan juga aku anak yatim piatu. Menyakitkan ketika dikhianati sahabat seperti ini.

Dari awal aku memang penyendiri. Aku menutup diriku dari yang lain. Karena aku takut kehilangan mereka semua, aku takut mereka meninggalkanku layaknya orang tuaku dulu.
Apa yang harus kulakukan dengan rahasia tempat tinggal Baekhyun ya? Apakah aku harus menyimpannya saja dan seolah-olah tak terjadi apapun? Apakah aku bisa melakukannya?

Author POV

Tak lama, bel masuk pun berbunyi..
#################################

Waktu istirahatpun berbunyi. Merasa sudah tak tahan dengan rasa lapar yang membahana diperutnya, Clara langsung melesat pergi ke kantin.

Tanpa basa-basi, seorang Park Clara lari dengan kencangnya ke kantin. Dengan sigap, dirinya langsung mengambil nampan yang berisi penuh makanan.

Clara duduk seorang diri di ujung kantin. Tidak ada yang menemaninya. Tak lama suara gaduh datang ke kantin. Tentu saja Baekhyun dan kawan-kawannya hadir. Membuat seluruh yeoja di kantin menjadi gugup tidak jelas. Jalanan mulus ketika mereka ber-6 lewat. Baekhyun, Sehun, Kai, SuHo, Chanyeol, dan D.O . 6 namja itulah yang membuat keadaan kantin gaduh bukan main.
Clara memandang malas Baekhyun dan kawan-kawan. Dan tak sengaja tatapannya dan Baekhyun bertemu. Sikap Baekhyun yang dulu kembali.

“Annyeong Clara-ssi!” Panggil Baekhyun yang membuat para penghuni kantin melihat ke arahnya.

“Mana Clara? Mana Clara?” Tanya Sehun mengedarkan pandangannya. Yang akhirnya Sehun diberitahu oleh Chanyeol. “Itu diujung.” Sehun hanya membalasnya dengan ber-O ria.

Rasa gugup Clara memuncak ketika Jin Ri yang baru saja datang dengan anggota …. Mmm…. Genknya, memandangnya tajam layaknya seekor elang yang akan menerkamnya.
Menyadari gerak-gerik Clara yang gugup, SuHo, ketua dari 6 namja itu sedikit heran. Dia menghampiri Clara yang terlihat gugup dan meninggalkan ke-5 namja yang heran melihat tingkah laku ketua mereka.

“Annyeong, Clara-ssi.” Ucap SuHo. Clara semakin membulatkan matanya melihat SuHo yang duduk dihadapannya. “A..a…Ne.” Ucap Clara gugup.

Ke-5 anak ayam yang ditinggalkan induknya saling lirik dengan pandangan yang sulit dimengerti(?)

“Kau selalu makan sendiri ya?” Tanya SuHo memulai percakapan. Clara hanya mengangguk pelan. SuHo balas tersenyum.

“S..S..Sunbae..” Ucap Clara yang membuat ke-5 anak ayam(?) semakin mendekat ke arahnya.
“Sunbae? YA! Park Clara! Sejak kapan kau memanggilnya sunbae?! Kepadaku saja kau tidak sopan!” Baekhyun menyeruak karena merasa tidak adil. Chanyeol, Sehun, D.O, Kai, dan SuHo melihat ke arah Baekhyun dengan tatapan ‘apa-apaan?’ itu.

“Memangnya tidak boleh ya?” Ucap Clara sinis melirik tajam ke arah Baekhyun. Amarah Baekhyun menjadi memuncak lagi dan lagi.

“YA! Kau ini!” Suara amarah Baekhyun menggelegar dan membuat Chanyeol turun tangan untuk membekap mulutnya. “Kau ini berisik sekali.” Chanyeol berbisik.
“Ck. Dasar kau, hyung.” Ucap Sehun yang memang setingkat dengan Clara.

Tiba-tiba ponsel Clara berbunyi.

Ahjumma.

Ahjumma meneleponnya. Pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan karena sebelumnya ahjumma tidak pernah meneleponnya di jam pelajaran.

Setelah pamit atau bisa dibilang kabur dari situasi itu, Clara melesat ke bawah tangga.
“Ada apa ahjumma?” Tanya Clara sedikit berbisik.
“Clara-ssi. Ingat inisial yang ada di kertas peninggalan eomma dan appa mu bukan? Ketika kau ditinggalkan?” Ahjumma tiba-tiba membahas hal itu lagi.

Clara POV

“Clara-ssi. Ingat inisial yang ada di kertas peninggalan eomma dan appa mu bukan? Ketika kau ditinggalkan?”

DEG!

Aliran darahku seperti terhenti. Untuk apa ahjumma membahas hal ini lagi. Tiba-tiba sebuah rintik hangat jatuh di pipiku. Aku sedih. Rasanya sedih jika harus mengingatnya lagi.

“I..I..Iya ahjumma.” Ucapku gugup menahan air mataku yang akan tumpah.
“Bukankah inisialnya CMY dan PSJ? Bukankah itu sebuah inisial nama?” selidik ahjumma.
“Iya ahjumma. Sepertinya memang seperti itu.” Ucapku dan menahan debaran jantungku yang akan meledak.

“Tadi, pemilik panti asuhan kita, Tuan Cha Jeong Gu membicarakan hal itu. Dia memberikan sebuah inisial lagi yang dia temukan dan bermaksud agar kita mencari maksudnya.” Jelas ahjumma. Ya Tuhan! Apakah orang tuaku akan terungkap?

“PCG. Ahjumma tidak tahu itu apa. Apakah kau tahu?” Tanya ahjumma yang membuatku berfikir keras. Kepalaku pusing jika mengenai inisial-inisial nama itu.

“Ahjumma, ahjussi mendapatkannya dari mana?” Tanyaku penasaran.
“Dia tidak tahu juga. Hanya ada dipikirannya. Ahjumma pusing.” Aku memaklumi sakit kepala yang dialami ahjumma. Karena mungkin umurnya memasuki usia 50 tahun.

##################################

Aku sangat terkejut. Inisial aneh. Setelah aku mematikan telefon dari ahjumma, aku segera berbalik. Dan didepankulah sudah berdiri Byun Baekhyun.

“Kau mendengarnya?” Tanyaku ketus. Aku segera mengusap air matakku dan beranjak pergi. Ketika aku tepat berada di sampingnya dia menahan tanganku.

“Aku tidak mendengar yang lainnya. Hanya aku mendengar PCG.” Kata Baekhyun menatap lurus ke arahku. Wajahnya sangat serius. Menakutkan memang. Aku balas menatapnya juga.
“Dan aku tahu apa itu PCG.”

-TBC-


Gimana? Bagus tidak? Wah, wah.. mian kalo ada kekurangan dan ada typonya. Tunggu chapter 3 nya reader(s) .. Jangan lupa tinggalkan jejak.. Gomawo udah mau baca.. Sampai jumpa di next chapter ya?

Komentar

Postingan Populer