FF EXO Home (Chapter 1)
Title :
Home
Author : Park Hwa Rin (@KintanHA)
Genre :
Family, Friendship, Life, Little Romance
Rating(s) : G (Semua Umur asal bisa Baca ^ ^)
Cast :
Park Clara (OC)
Byun Baekhyun (EXO-K)
Cha Jeong Gu (OC)
Other Cast : Find by Yourself ^ ^
Length : Chaptered
A/F :
Annyeonghaseo, Author kembali dengan FF EXO again.
FF ini muncul begitu saja karena
melihat berita di TV tentang anak di Panti Asuhan. FF ini 100.000.000.000.000
murni permikiran author. Maaf jika ada typo. Don’t COPAS, Don’t Plagiat, and
Don’t be SILENT READER(S) *kacaubahasainggrisnya* . Cukup cuap-cuapnya. Enjoy~
################################
(Chapter 1)
“Aku tidak mengingat
sama sekali wajahnya.
Aku hanya melihatnya
menangis.
Aku juga ikut menangis
seiring kepergiannya di malam itu.
Aku tahu bahwa
mencarinya tidaklah mudah.
Oleh karena itu, walaupun
sulit, aku akan mencarinya.
Aku merindukanmu, Eomma
…”
Author POV
Park
Clara, seorang gadis yang mendiami panti asuhan Dreamsun. Gadis ini datang
dengan tidak secara resmi. Dirinya, ditinggalkan eomma nya di depan pintu panti
asuhan ketika saat berumur 6 bulan. Cukup umur untuk mengenali orang tuanya
bukan? Mungkin ini memang takdir. Bagaimana bisa seorang eomma menelantarkan
anaknya di pintu panti asuhan. Apa mungkin, orang tuanya tidak menginginkan
kehadiran dirinya? Tapi apa salahnya seorang Clara ingin memiliki keluarga
normal yang menyayanginya? Terkadang Clara iri dengan banyaknya drama Korea
yang melakukan adegan keluarga. Saling tawa, bercanda, menanyakan keadaan,
makan bersama, dan sebagainya. Kenapa dirinya tidak beruntung? Tapi, Clara
menganggap panti asuhannya sebagai keluarganya. Karena tanpa mereka semua,
bayangan masa lalu Clara selalu muncul disetiap langkahnya.
“YA! Park Clara! Tidak bisakah kau
menangkap bola itu dengan benar?” Seorang perempuan yang seumuran dengan Clara
meneriakkinya.
“Mian, Eun Jeong-ah! Ayo kita lanjut
lagi, ne?” Gadis 16 tahun itu berusaha merajuk temannya yang sudah mem-poutkan
pipinya.
“Tidak! Aku mau masuk saja!” Eun
Jeong masuk ke dalam panti asuhan dengan langkah yang besar-besar. Clara hanya
menghela nafasnya pasrah. Eun Jeong adalah sahabatnya. Kisah Eun Jeong lebih
tragis. Eun Jeong ditemukkan di depan rumah sakit. Sadis sekali. Eun Jeong
lebih duluan masuk ke panti asuhan ini. Belum ada yang tahu orang tuanya sampai
saat ini.
Clara memasukki ruangan tempat para
anak-anak yang ditelantarkan lainnya. Sudah waktunya selesai makan siang. Hari
ini ada seseorang yang akan mengadopsi. Tugas mereka adalah harus memasang
wajah seceria mugkin.
Clara dan Eun Jeong paling ‘senior’
seantero panti asuhan itu karena mereka selalu menolak setiap orang yang akan
mengadopsi mereka. Kenapa? Karena mereka ingin menemukan keluarga kandungnya.
Walaupun itu tidak mungkin.
“Kalian sudah makannya?” teriak Clara
dengan semangat yang luar biasa membuat heboh.
“NNNEEE!!” Jawab mereka semua
serempak. Clara melirik ke arah Eun Jeong yang sedang merapikan sisa makanan.
“Eun Jeong-ah! Mau kubantu?” Tanya
Clara. Eun Jeong hanya membuang muka dan berlalu pergi.
‘Masa karena aku tidak benar
menangkap bola dia sampai semarah itu?’ Batin Clara.
#############################
“Permisi.” Terdengar ketukan pintu
depan. Clara yang sedang menonton TV langsung bangkit dan berjalan ke arah
pintu.
“Permisi?” Teriak namja itu lagi. ‘Berisik
sekali’ Batin Clara. Belum saja dirinya sampai di depan pintu, dirinya
dihalangi oleh pengasuh paling baik seantero panti asuhan.
“Biar ahjumma saja yang buka.”
Ucapnya sambil tersenyum ke arah Clara. Clara hanya melongo mendengarnya.
Seketika dirinya menghadap kebelakang terihat wajah Eun Jeong yang tak kalah
herannya.
“Ahjumma, apa mungkin itu yang akan
mengadopsi?” Tanya Eun Jeong.
“Bukan. Pengadopsi kita seorang yeoja
bukan namja. Dan dia batal datang hari ini.” Ucap ahjumma.
“Apakah tidak ada orang?” Ucap namja
itu lagi dengan tangannya yang sedari tadi mengetuk pintu.
Clara POV
“Apakah tidak ada orang?” Lagi-lagi
mulut namja itu tidak bisa diam. Tangannya juga tak bisa diam. Tunggu dulu,
kenapa dia terdengar seperti aku mengenalnya?
“Ne.” Ucap ahjumma membukakan pintu
untuknya. Tubuh ahjumma tiba-tiba tak bergerak. Beku menatap namja yang tak
bisa kulihat wajahnya yang gelap terkena bayangan. Serangan Jantung? Hahaha..
Mana mungkin Clara.. Ahjumma itu kuat.
“Bolehkah aku masuk?” Apa? Namja itu
ingin masuk? Siapa dia? Apa mungkin pemilik Panti Asuhan ini?
Tubuhnya yang tegap masuk perlahan.
EH?! Byun Baekhyun?! Teman sekolahku?
“Tentu.” Ucap ahjumma. Dan seketika
dirinya masuk sambil mulutnya ternganga.
“Wah, lebih besar dari yang
kubayangkan!” Ucapnya memuji panti asuhanku ini.
“Hahaha.. Terima kasih..” Ucap
ahjumma.
Cih! Namja menyebalkan seperti dia
kenapa kemari?
Bukankah dia selalu menghinakku? Dia
kan anak orang kaya. Aku memasangkan wajah datar ku kearahnya yang memandangku
dengan senyum konyolnya saat ini.
“Ada apa kau kemari?” Tanyaku begitu
saja. Sungguh, aku adalah bahan Bully-annya. Aku tidak kuat jika harus melihat
wajahnya lagi.
Kulihat ahjumma yang memandangku
heran.
“Hei! Kau ini juniorku! Tidak sopan!
Aku ini sunbae-mu ingat?!” teriaknya marah-marah. Baru datang sudah cari ribut
rupanya. Dia memang sunbae-ku tapi perlakuannya terhadapku tidak pantas sebagai
seorang ‘sunbae’.
“Aku tahu. Lagi pula kau juga bukan
contoh yang baik bagi juniormu.” Jawabku ketus lalu beranjak pergi. Aku naik ke
lantai 2 tempat kamarku , Eun Jeong, dan Ahjumma.
“YA! Park Clara!” Teriaknya
memanggilku. Apa? Dia menggunakan namaku? Biasanya dia memanggilku ‘Miskin’
‘Kotor’ ‘Junior jelek’ dan kata-kata menyakitkan hati lainnya. Ini pertama
kalinya dia memanggilku menggunakan namaku. Apa yang terjadi dengannya? Tubuhku
merinding membayangkan dirinya lari dari rumah lalu berubah jadi malaikat.
Aku mematung ditangga. Aku melihat ke
arahnya yang sedang menatapku ganas. Menyeramkan. Tangannya terkepal. Alisnya berkedut
parah.
“Kau seperti banteng.” Katakku lalu
melanjutkan laju jalanku. Kudengar dia hanya berteriak memanggil namakku.
“YAA!”
“Sssttt… Tidak bisakah kau diam? Kau
bisa membangunkan adik-adikku nanti!” Jelasku kepadanya.
“MWO?! YA! NEO!” teriaknya yang masih
saja membeo.
Aku tidak mendengarnya lagi setelah
aku menutup telingaku dengan earphone kesayanganku di kamar. Hahaha.. Rasakan
Byun Baekhyun! Masa kejayaanmu sudah habis!
Eun Jeong POV
Clara mengenal namja tampan ini?
Sungguh, dari tadi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya.
Tapi bagaimana bisa seorang Clara
mengenal namja tampan ini? Teman sekolah? Mungkin bisa jadi. Sunbae? Tapi
kenapa sikap Clara seperti itu.
“Chogi,…” Ucapku kepadanya. Perlahan
kulihat dirinya menarik nafas dan memasang wajah ramah lagi.
“Kau temannya Clara?” Tanyakku yang
dibalas anggukan kepalanya. “Ne. Tepatnya Sunbaenya.” Ucapnya sambil tersenyum.
OMO! Senyumnya! Andwae! Baru saja orang ini tiba sudah membuat dirikku gila
seperti ini.
“Kau ada urusan dengan Clara ya?”
tanya ahjumma sembari tersenyum.
“Tidak. Aku lari dari rumah.”
Jawabnya sambil tersenyum. Kulihat ahjumma membulatkan matanya.
“Eh? Bagaimana jika kita bicarakan,
ne? ayo duduk.” Ajak ahjumma dan membawanya duduk di kursi.
“Eun Jeong-ssi, tolong ambilkan
minum, ne?” Kata ahjumma kepadaku. Aku langsung melaksanakan perintahnya.
Di dapur, senyap-senyap aku
mendengarkan percakapan mereka berdua. Singkat cerita, namanya Byun Baekhyun.
Dia anak orang kaya. Tapi dia lari dari rumah. Karena dirinya akan dijodohkan.
Konyol! Justru aku menginginkan perlakuan keluarga seperti itu. Dia hanya lari.
Dan akhirnya dia ingat nama panti asuhan Clara. Dan akhirnya dia datang kemari.
Dia tidak bawa uang sepeserpun. Hanya kartu kreditnya. Dan bahkan dia akan
membuangnya. Membuangnya? Iya, karena katanya orang tuanya dapat melacaknya
jika dia menggunakan kartunya.
############################
Clara POV
Aku menuruni tangga. Perutku sangat
lapar. Aku berjalan dengan langkah yang gontai. Sepertinya adik-adikku belum
pada bangun. Padahal sudah jam 5 sore. Mana ahjumma dan Eun Jeong? Byun
Baekhyun? Aissh! Kenapa aku memikirkan orang itu lagi.
Aku berjalan ke meja makan yang sudah
tersedia banyak makanan. Eh? Banyak makanan? Kulihat ke dapur. Benar saja Eun
Jeong yang memasaknya.
“Eun Jeong-ah! Aku makan ya? Gomawo.”
Ucapku tersenyum bahagia. Ketika baru saja aku akan mengambil daging kecap itu,
Eun Jeong sudah teriak.
“Jangan! Itu untuk Baekhyun Oppa!”
Ucapnya sambil berlari kecil ke arahku yang duduk mematung.
“Eh? Baekhyun? Dia belum pulang?”
Tanyaku polos dan sepertinya arwahku belum terkumpul semua.
“Belum.” Tiba-tiba aku melihat namja
menyebalkan itu duduk dihadapanku.
“Ini makananku. Pergi sana. Kau tidak
lihat Eun Jeong membuatkannya untukku?” Aku hanya menatapnya datar. Seketika
rasa laparku hilang.
“Arraseo.” Ucapku lalu bangkit dan
duduk di depan TV.
“Clara-ya? Kau mau makan juga ya?
Maaf.” Ucap Eun Jeong kepadakku. Bukankah dia marah ya? Aku menatapnya heran.
Kulihat juga Baekhyun menatapku datar.
“Tidak jadi. Aku tidak lapar.”
Katakku dengan malas. Tiba-tiba rasa laparku kembali datang.
“Benar?” Tanya Eun Jeong dengan
manis.
“Benar.” Katakku membalasnya dengan
senyumanku.
“Aku akan keluar sebentar, ne?
Hubungi aku jika yang lain sudah bangun. Oh ya, kemana ahjumma?” Tanyakku
menatap sekeliling.
“Pergi ke supermarket.” Aku hanya
ber-O ria membalasnya. Aku segera memakai jaket tipisku. Dan memakai sepatu.
Sungguh aku ingin bebas hari ini.
“Aku Pergi!!!!” kebiasaanku jika akan
pergi selalu berteriak. Aku bahkan lupa ada Baekhyun. Tak apalah.
######################################
“Na..Na…Na…Na..” Aku menari
berputar-putar di sepanjang sungai kecil yang tak jauh dari panti asuhan.
Aku hanya berharap orang tuakku hadir
di tempat ini. Aku merindukan mereka. Kugenggam kalung pemberian terakhir
eommaku. Kalung yang berbentuk bunya kecil. Aku menngenggamnya erat. Dan aku
berdo’a.
“Semoga aku dapat bertemu dengan
keluargaku. Aku merindukan mereka. Tuhan, tolong sampaikan salamku kepada
mereka semua. Apakah mereka juga baik-baik saja?” aku hanya tersenyum dan
kembali membuka matakku. Kulihat hamparan sungai nan indah berada di depanku.
Seketika angin kecil datang dan mengibaskan rambut panjangku.
“Kau seperti sedang iklan. Cih!”
Suara menyebalkan itu tepat berada di sebelahku. Byun Baekhyun datang. Pada
waktu yang sangat tidak tepat.
“Kau kenapa kemari?” Tanyaku ketus.
“Hmmm… Ternyata ada tempat seperti
ini ya?” Apa? Kenapa dia seperti ini?
“Bukankah kau tadi sedang makan?”
tanyaku lagi.
“Tidak. Aku akan melanjutkannya nanti.”
Katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya menatapnya datar.
“Aku pergi duluan. Aku tidak nyaman
berada di sebelahmu seperti ini. Kau menakutkan.” Aku beranjak pergi. Gosh!
Kenapa dia harus datang ke tempat ini? Aku ingin keluargaku yang datang bukan
dirinya! Moodku kacau untuk melanjutkan do’aku.
“Benar. Aku memang menakutkan.”
Ucapnya dengan sedih? Seorang Byun Baekhyun bisa sedih ya?
Entah kenapa ada rasa simpati muncul
di dadaku. Aku kembali berbalik dan berdiri disampingnya.
“Kau kenapa ada di sini?” tanyaku
menanyakan alasannya datang ke panti asuhan.
“Lari. Aku lari dari rumah.” Katanya dengan
tatapan kosong memandang sungai.
“Kau bodoh! Kau tidak tahu bagaimana
kisah hidupku. Justru aku menginginkan sebuah keluarga, dan kau menghindari
keluargamu. Untuk apa kau menghindarinya?” tanyaku. Di ujung matakku, kulihat
dia yang sedang menatapku.
“Hhmm.. Aku akan dijodohkan denga
orang yang kubenci.” Jawabnya sambil tersenyum miris.
“Aku dijodohkan dengan adik
perempuannya Jin Young. Kau tahu bukan Jin Young? Dia adalah musuhku. Tak dapat
kupercaya ini. Adiknya itu selalu mengejarku. Aku membenci hal ini.” Katanya
lagi sambil melempar kerikil kecil.
“Jinnja? Daebak! Kau kan baru berumur
17 tahun, kau masih duduk dibangku kelas 2 SMA tetapi sudah dijodohkan seperti
ini.” Kataku dengan senyum mengejeknya.
“Hei! Aku serius! Jangan mengejekku!
Aku benar-benar serius! YA! Tidak ada yang lucu,eoh? Mengapa kau tertawa?
Aisshh, jinnja. Kau ini! Pahami perasaan sunbae-mu ini!” Omelannya semakin
panjang tanpa ujung.
Aku hanya tertawa puas dan senang.
Setidaknya aku hari ini dapat tertawa lepas. Dengan orang yang sangat tidak
kuduga. Byun Baekhyun. Namja yang mem-bully-ku terus.
“Aiisshh.. Dunia sudah berputar, eoh?
Kau sekarang yang mem-bully-ku terus. Teruskan saja, eoh? Jinnja! Kapan kau
berhenti tertawa?! Aku akan pulang duluan!! Dasar!” Baekhyun pergi dengan
langkah lebar-lebarnya. Wajahnya lucu ketika marah. Hahaha.. Wajar saja jika
aku puas tertawa.
Setelah tubuhnya menghilang, aku
kembali menatap sungai dan menggenggam kalungku lagi.
“Terima kasih. Dia sudah membuatku
tertawa lepas. Dia merubah mood ku. Hatiku lega sekarang. Rasanya aku dapat
menemukan eomma ku dimanapun dirinya berada. Ini semua berkat Baekhyun. Aku
berharap aku dapat tertawa lepas seperti ini lagi.. Di sungai ini.. Bersama
eomma-ku ataupun cinta sejatiku..”
Aku membuka matakku lagi dan
tersenyum lega.
“Aku siap!”
-TBC-
Beres juga. Ngebut nih. Hahaha..
Kecepatan? Mian..Mian.. Chapter 2 ditunggu, ne? Gomawo sudah mau baca.
Tinggalkan jejakmu readers. ^ ^ . sampai jumpa di chapter berikutnya..



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan Jejakmu! Hargai karya anak bangsa!